Ekonomi Indonesia Rentan Resesi

Oleh: Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)

Pertumbuhan ekonomi global 2019 menunjukkan pelambatan. Bahkan beberapa negara mengalami pertumbuhan negatif, pertanda di ambang resesi.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi global terus dikoreksi ke bawah. Baik oleh Bank Dunia mapun IMF (International Monetary Fund). Pada Juni yang lalu, Bank Dunia menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi 2019 menjadi 2,6 persen saja. Turun dari 2,9 persen pada revisi terakhir tahun lalu. Perkiraan ini jauh lebih rendah dari IMF yang kelihatannya masih cukup optimis, meskipun kian meredup. Juli 2019, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya sekitar 3,2 persen, turun dari perkiraan setahun sebelumnya sebesar 3,9 persen.

Ekonomi Uni Eropa (28 negara) triwulan II 2019, berdasarkan SAAR (Seasonally Adjusted Annual Rate), hanya tumbuh 0,17 persen saja dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (triwulan I-2019). SAAR adalah konversi pertumbuhan triwulanan menjadi tahunan yang dikoreksi faktor musim, misalnya hari raya seperti lebaran yang membuat penjualan meningkat tinggi pada periode-periode tertentu. Artinya pertumbuhan menurut SAAR sudah netral terhadap faktor musiman, sehingga data triwulan tertentu dapat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Untuk Eurozone, sebutan bagi negara-negara yang menggunakan mata uang euro, pertumbuhan triwulan II-2019 menurut SAAR hanya 0,13 persen saja dibandingkan Triwulan I-2019.

Beberapa negara Eropa, dan G20, bahkan sudah mengalami pertumbuhan negatif pada triwulan II-2019 (SAAR) dibandingkan triwulan sebelumnya (QoQ). Antara lain Jerman dan Inggris.

Berdasarkan data-data tersebut, tanda-tanda resesi global sudah sangat nyata. Bank Sentral AS (the FED) dan Bank Sentral Eropa (ECB) mulai menurunkan suku bunga dan pelonggaran moneter (quantitative easing) untuk melawan bahaya resesi. Bahkan ECB juga minta kepada negara anggota Uni Eropa agar memberlakukan kebijakan fiskal ekspansif untuk memberi stimulus dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Artinya, memberlakukan kebijakan fiskal memperbesar defisit anggaran.

Di lain pihak, likuiditas global yang semakin ketat membuat arus masuk dolar ke Indonesia semakin seret. Neraca pembayaran Indonesia bulan September 2019 turun 2,1 miliar dolar AS. Artinya, cadangan devisa anjlok 2,1 miliar dolar AS. Mengingat neraca transaksi berjalan defisit kronis, resesi global bisa membuat aliran masuk dolar ke Indonesia tertahan. Dan memicu krisis kurs rupiah.

Banyak pihak mulai memberi peringatan atas penurunan ekonomi global dan dampaknya terhadap ekonomi Indonesia. Termasuk institusi internasional seperti Bank Dunia. Dampak resesi global dapat mengakibatkan ekonomi Indonesia terpuruk, dan masuk resesi. Dampaknya bisa sangat parah karena kemungkinan besar resesi akan dibarengi dengan anjloknya kurs rupiah.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai pertengahan tahun ini juga melambat. Pertumbuhan pada dua triwulan pertama 2019 (YoY) masing-masing hanya 5,07 persen dan 5,05 persen. Yang cukup memprihatinkan, pertumbuhan investasi sangat lemah. Kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2019 hanya 1,59 persen. Jauh lebih rendah dari sepanjang tahun 2018 sebesar 2,17 persen. Ekspor dan impor mengalami kontraksi, alias turun. Kinerja neraca perdagangan 2019 sangat buruk. Masih mengalami defisit, dan sangat besar. Dan defisit neraca transaksi berjalan juga semakin buruk, sudah lebih besar dari 3 persen PDB (Produk Domestik Bruto). Signal bahaya tekanan terhadap kurs Rupiah.

Resesi global juga dikhawatirkan membuat harga komoditas andalan ekspor Indonesia turun. Kalau ini terjadi, defisit neraca perdagangan, dan defisit neraca transaksi berjalan, akan membesar. Semua ini akan menambah risiko krisis mata uang. Menambah risiko Rupiah anjlok.

Di lain pihak, kemampuan kebijakan fiskal pemerintah sangat terbatas. Pemerintah diyakini akan sulit mengangkat kembali perekonomian nasional dari keterpurukan. Pemerintah diperkirakan akan sulit memberi stimulus ekonomi karena penerimaan negara turun drastis. Pemerintah tidak mempunyai uang. Rasio penerimaan pajak terhadap PDB sudah di bawah 9 persen pada triwulan II-2019. Sangat rendah sekali. Penerimaan pajak sampai dengan Agustus 2019 baru 51,51 persen dari target. Dengan pencapaian ini, akan terjadi shortfall sangat besar. Kekurangannya bisa mencapai Rp300 triliun. Sehingga, belanja negara terpaksa harus dipangkas, yang mana akan berakibat buruk terhadap pertumbuhan ekonomi. Resesi akan semakin dalam.

Semoga pemerintah mempunyai jurus mengatasi permasalahan ini semua. Semoga ekonomi global segera membaik. (www.watyutink.com)

BERITA TERKAIT

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Dipertanyakan Asing, Wajarkah?

Oleh: Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) BPS (Badan Pusat Statistik) mengumumkan pertumbuhan ekonomi triwulan III-2019…

Mitigasi Risiko Turunnya Ekspor Indonesia

Oleh: Gresika Bunga Sylvana, Mahasiswa S2 Risk Management City University of New York Amerika Serikat terancam mengalami resesi ekonomi. Kabarnya,…

Mengecam Aksi Ledakan Bom di Medan

  Oleh : Dodik Prasetyo, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)   Kewaspadaan terhadap ancaman terorisme tidak boleh…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Mereka yang Terancam Tenggelam

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D., Manager, Climate Reality Indonesia Baru-baru ini sebuah studi yang dipaparkan di jurnal ilmiah Nature Communications…

Radikalisme Sebuah Paham Manipulasi Kebenaran Penghambat Kemajuan

  Oleh : Ridho Airlangga, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan Di zaman now, radikalisme digerakkan untuk mengganti asas negara. Targetnya, penegakan sistem…

Karhutla dan Pidana Pemegang Saham

Oleh : Dr. Ari Yusuf Amir, SH, MH., Praktisi Hukum Kejaksaan Tinggi Riau, pada 12 November lalu,  menyatakan berkas kasus…