Membangun Nasionalisme dan Merawat Kemajemukan

Membangun Nasionalisme dan Merawat Kemajemukan

NERACA

Jakarta - Berangkat dari realitas sebagai negara yang majemuk dan multikultural, bangsa Indonesia memiliki keharusan untuk memahami dan memaknai tentang pentingnya nasionalismes sebagai sebuah semangat dan nilai yang mampu mempererat persatuan dan menyamakan tujuan hidup untuk merebut kemerdekaan, serta memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang Indonesia yang sesungguhnya.

Hal itu ditegaskan Wakil Sekretaris Jenderal PB HMI Rahmat Mony, dalam rilisnya di Jakarta, kemarin."Semangat ini menjadi kekuatan utama sebagai dasar untuk mengisi kemerdekaan dan membangun indonesia secara berkelanjutan", kata Rahmat.

Hal sedemikian telah dicontohkan dalam sejarah oleh para pendiri bangsa ketika hendak mendirikan negara ini."Mereka terdiri dari berbagai agama, golongan, suku dan etnis. Bersama-sama dan bersepakat mendirikan negara ini sebagai negara bangsa bukan negara agama", kata Rahmat.

Hingga kemudian, lanjut Rahmat, lahirlah Pancasila sebagai norma dan konsensus dasar dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara."Hal ini mengartikulasikan tentang kesadaraan akan indonesia yang plural", tegas Rahmat.

Menurut Rahmat, jika nasionalisme dipahami dalam kerangka ideologi, maka di dalamnya terkandung beberapa aspek yang mengandaikan perlunya pengetahuan atau pemahaman akan situasi konkret sosial, ekonomi, politik dan budaya bangsanya.

"Jadi, nasionalisme adalah cermin abstrak dari keadaan kehidupan konkret suatu bangsa. Maka peran aktif kaum intelektual dalam pembentukan semangat nasional amatlah penting, sebab mereka itulah yang harus merangkum kehidupan seluruh anak bangsa dan menuangkannya sebagai unsur cita-cita bersama yang ingin diperjuangkan", ujar Rahmat.

Rahmat bercerita, cendikiawan Soedjatmoko menyebut nasionalisme tidak bisa tidak adalah nasionalisme yang cerdas karena nasionalisme itu harus disinari oleh kebijaksanaan, pengertian, pengetahuan dan kesadaran sejarah.Bung Karno dalam buku di bawah Bendera Revolusi (DBR), menyampaikan bahwa “Coba seandainya tidak ada jiwa nasional itu, kita sudah lama patah”.

Bagi Rahmat, kalimat ini menyampaikan satu pesan yang amat dalam kepada kita sebagai satu negara bangsa yang telah merdeka untuk terus memegang teguh jiwa nasionalsime dan persatuan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semangat nasionalisme terbukti secara efektif sebagai alat pemersatu para pejuang dalam konteks perjuangan merebut kemerdekaan dari cengkraman kolonial."Dari Semangat nasionalisme inilah yang di pakai sebagai metode perlawanan dan alat identifikasi untuk dapat menyatukan berbagai golongan dari sabang sampai Merauke", jelas Rahmat.

Keberagaman yang ada di Indonesia merupakan fitrah. Realitas ini harusnya menjadi kebanggan tersediri."Namun, oleh berbagai kelompok sektarian justru dijadikan ajang untuk memecah belah keberagaman. Mereka memainkan isu-isu agama untuk membenturkan kemajemukan bangsa", ungkap Rahmat.

Isu-isu tersebut digoreng sedemikian rupa, sehingga agama hanya bisa diterima oleh golongan tertentu saja dengan menafikan golongan lain."Tentu hal ini amatlah riskan. Mengingat pluralnya kebangsaan negeri ini tidak hanya agama. Akan tetapi intensitas keberagamaannya sangat tinggi, mulai dari ragam suku etnis, ras dan budaya", papar dia lagi.

Namun kemudian, ketika kita melihat realitas sosial keIndonesian saat ini sangatlah memperihatinkan. Dimana jiwa jiwa nasionalisme kian hari semakin memudar."Ini disebabkan karena kurangnya pemaham generasi muda terhadap sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang tidak hanya diperjuangkan oleh satu golongan saja", ujar Rahmat.

Sebagai negara yang majemuk dari berbagai suku, ras agama dan golongan, bagi Rahmat, seharusnya kita jauh lebih peka terhadap ancaman ancaman yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan kita. Dengan adanya kemajemukan itulah Indonesia harusnya jauh lebih toleran terhadap sesama golongan sebagaimana dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Rahmat menambahkan, yang jauh lebih penting adalah nilai nilai nasionalisme dan pluralisme harus benar benar ditanamkan dalam setiap jiwa anak bangsa dari masa ke masa demi mewujudkan Indonesia yang merdeka secara sepenuhnya.

“Indonesia bagaikan Taman Sari di Timur Asia. Taman ini harus terus dirawat dan dipupuk demi keutuhan dan keharmonisan bangsa”, pungkas Rahmat. Mohar/Rin

BERITA TERKAIT

PoliticaWave : Media Sosial Harus Digunakan Secara Bijaksana

PoliticaWave : Media Sosial Harus Digunakan Secara Bijaksana NERACA Jakarta - Terry Flew, Professor of Communication and Creative Industries, Queensland…

Tantangan Berat Menkop dan UKM Baru

Tantangan Berat Menkop dan UKM Baru   NERACA Jakarta - Tantangan ke depan bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo tak bisa dibilang…

Presiden Diharapkan Tunjuk Menteri yang Punya Rekam Jejak Bagus

Presiden Diharapkan Tunjuk Menteri yang Punya Rekam Jejak Bagus   NERACA Jakarta - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode M.…

BERITA LAINNYA DI HUKUM BISNIS

RUU Perkoperasian Harus Bisa Diselesaikan

RUU Perkoperasian Harus Bisa Diselesaikan NERACA Jakarta - Pengamat koperasi Suroto menegaskan, tantangan bagi Menteri Koperasi dan UKM yang baru…

PoliticaWave: Jokowi Menang Pilpres 2019 Karena Tetap Fokus

PoliticaWave: Jokowi Menang Pilpres 2019 Karena Tetap Fokus NERACA Jakarta - Istilah buzzer kembali ramai diperbincangkan di media sosial dalam…

PoliticaWave : Media Sosial Harus Digunakan Secara Bijaksana

PoliticaWave : Media Sosial Harus Digunakan Secara Bijaksana NERACA Jakarta - Terry Flew, Professor of Communication and Creative Industries, Queensland…