free hit counter

Gara-gara Transportasi, Pasokan Daging Jadi Terlambat

Selasa, 10/04/2012

NERACA

Jakarta - Kementerian Perdagangan mengakui terjadinya kelangkaan pasokan daging sapi yang terjadi di ibu kota, Jakarta. Namun, kelangkaan tersebut lebih disebabkan lantaran keterlambatan distribusi dari daerah produsen daging sapi di daerah. Faktor cuaca yang menghambat jalur distribusi laut menjadi penyebab keterlambatan ini.

"Distribusi dalam negeri terkendala masalah transportasi. Selama ini pasokan daging sapi di Jakarta dipenuhi dari Jawa Timur dan NTB (Nusa Tenggara Barat). Gelombang laut yang tinggi menyebabkan penundaan distribusi sehingga ada keterlambatan sedikit," ujar Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Gunaryo di Jakarta, Senin (9/4).

Dia menjelaskan, selama ini pasokan daging sapi ibu kota dipenuhi dari dalam negeri. Pemerintah juga melakukan importasi daging sapi lantaran produktivitas daging sapi dalam negeri belum dapat memenuhi kebutuhan akan komoditas tersebut.

Importasi daging sapi, jelas Gunaryo, dikhususkan untuk memenuhi kebutuhan restoran, hotel dan catering yang hanya membutuhkan daging sapi jenis dan bagian tertentu. Diakuinya, pasokan daging sapi impor semakin berkurang.

Ini juga, papar dia, yang menyebabkan kelangkaan daging sapi di pasar tradisional dan pasar modern. Gunaryo menjelaskan saat ini pemerintah sedang memproses impor daging sapi. "Ini impor untuk kuota berikutnya, yang sudah sebelumnya disepakati," ujarnya.

Mengenai importasi daging sapi, Gunaryo menjelaskan, jangan sampai menyebabkan ketergantungan terhadap impor dari luar negeri. Karena itu, impor daging sapi harus dikurangi dan Kementerian Pertanian harus bekerja keras untuk meningkatkan produksi daging nasional.

"Pertanian harus bekerja keras tingkatkan jumlah produk daging dalam negeri dan Kementerian Perdagangan harus mensupport itu melalui kebijakan-kebijakan kalau impor harus secukupnya, jangan samapi jadi suatu ketergantungan," jelasnya.

Meski demikian, Gunaryo menuturkan harga daging sapi relatif stabil selama dua bulan belakangan di kisaran Rp72.000-Rp73.500 per kg. Kenaikan harga daging sapi dimulai pertengahan tahun lalu ketika pada masa puasa dan Hari Raya Lebaran. "Menjelang lebaran memang naik, kemudian meningkat lagi sampai sekarang belum turun-turun," ujarnya.

Stok Gudang Kosong

Namun, berbeda dengan Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Sarman mengatakan, pada kenyataannya harga daging sapi masih sangat tinggi, mencapai Rp80.000 per kilogram. Sementara, pasokan daging malah menurun drastis. Bahkan cukup banyak gudang-gudang penyimpanan daging milik distributor sudah kosong.

"Stok daging sapi di Jakarta akan habis bulan ini. Kalau permintaan kuota daging sapi untuk Jakarta sebanyak 50 ribu ton tidak dipenuhi, banyak pengusaha distributor daging sapi akan tutup, industri makanan rumahan akan bangkrut," ujarnya.

Terkait kelangkaan itu, Sarman mendesak agar Kementerian Koordinator Perekonomian mengambil alih dan turun tangan terhadap masalah ini. "Kita berharap, Kemenko Perekonomian menyerahkan kuota impor daging sapi kepada Menteri Perdagangan. Karena memang seharusnya, Menteri Pertanian hanya menyediakan hewan sapi hingga siap potong. Sedangkan yang mendistribusikan daging sapi yang sudah dipotong adalah Menteri Perdagangan," ujarnya.

Dia menambahkan, bila hingga akhir April ini ketersediaan daging sapi masih mengalami ketidakpastian, ribuan tukang bakso, sosis, dan pengusaha industri rumahan lainnya akan melakukan unjuk rasa besar-besaran.

Sarman mengatakan, kelangkaan daging sapi di Jakarta ini disebabkan Pemerintah Pusat secara drastis menurunkan kuota daging sapi impor menjadi 34 ribu ton per tahun untuk seluruh Indonesia. “Padahal, kebutuhan daging sapi untuk warga Jakarta saja sebanyak 50 ribu hingga 60 tibu ton per tahun,” jelasnya.