Saatnya Reformasi Ekonomi

Di tengah era ekonomi digital yang terus berkembang saat ini, kinerja sektor industri di Indonesia terlihat masih memprihatinkan. Seperti pertumbuhan sektor industri manufaktur di Indonesia yang masih stagnan di bawah pertumbuhan ekonomi nasional (5%-an). Padahal, jika merunut referensi sejarah pertumbuhan ekonomi, lebih dari 10 tahun yang lalu dan juga di masa Orde Baru, sektor industri manufaktur pernah memberikan kontribusi hingga 25%-30% terhadap PDB.

Meski selama empat tahun belakangan industri nasional mampu memberi kontribusi bagi PDB sebesar 17%–20%, namun perlambatan yang terjadi menyebabkan dampakmultiplier effectsektor industri terhadap penerimaan negara menyangkut devisa ekspor dan penerimaan pajak, amat menurun. Terlebih, harga komoditas internasional seperti batubara dan minyak sawit juga sedang runyam.

Padahal, selama ini komoditas masih menjadi andalan ekspor Indonesia. Begitupula dampak perang dagang Amerika Serikat – China yang memperburuk pertumbuhan ekonomi dunia. Relokasi industri dari negara China ke Asia Tenggara tidak dapat diharapkan lebih jauh, karena China lebih memilih ke negara Asia Tenggara yang lain seperti Vietnam.

Sektor industri akhirnya bagai sakit bekepanjangan karena tidak kunjung mampu tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi, begitupun kontribusi sektor industri terhadap PDB yang tidak lagi mampu melampaui angka 20%.

Berbagai analisa dan pendapat pihak-pihak yang prihatin terhadap performa industri nasional, apalagi setelah investasi (FDI) cenderung melambat dan banyak industri melakukan relokasi ke luar negeri, menyebutkan Indonesia sedang mengalami gejala deindustrialisasi. Suatu kondisi sektor manufaktur yang digambarkan tidak lagi dinamis dan tidak mempunyai daya dorong terhadap pertumbuhan ekonomi, peluang penyediaan tenaga kerja, penerimaan pajak negara dan ekspor yang menurun jauh.

Jika berkaca pada kasus negara industri maju, kasus deindustrialisasi akan secara “alamiah” terjadi jika industri di suatu negara telah mencapai masa puncak dari kinerja industri di semua level, dan pergerakan motor perekonomian negara tersebut telah bergerak ke arah pemberdayaan masif ekonomi, terutama didominasi sektor jasa sebagai kelanjutan dari industri yang telah mencapai level puncak. Teknologi 4.0 semakin menunjukkan identifikasi dari arah kemajuan ekonomi yang mengarah pada ekonomi digital sebagai konsekuensi dari era teknologi digital 4.0.

Dari gambaran di atas, muncul masukan-masukan yang menganjurkan bahwa sektor manufaktur butuh revitalisasi serius agar lepas dari gejala deindustrialisasi. Fokus utama pembahasan adalah kebutuhan akan Reformasi Struktural Ekonomi (RSE) untuk menyehatkan kembali perekonomian, khususnya sektor manufaktur.

Pertanyaannya, Pertama, Bagaimana sebenarnya rumusan dari ide Reformasi Struktural Ekonomi? Kedua, Darimana awal masuk reformasi struktural ekonomi itu? Ketiga, Dikaitkan dengan kondisi industri kita dihadapkan pada dunia teknologi di abad tekno digital 4.0, apa yang sebetulnya bisa diperbuat dengan kondisi real industri kita saat ini? Keempat, Jika memilih industri prioritas, industri mana saja yang harus di fokuskan dulu untuk dibangun, selain indusri komoditas yang telah eksis namun shutdown harga internasional? Kelima, Ruang atau Kondusivitas seperti apa yang dibutuhkan untuk melancarkan RSE itu?

Lima pertanyaan di atas sebaiknya memang diberikan dulu--minimal--deskripsi awal, agar jelas benar “wujud’ sebenarnya dari apa yang dimaksudkan dengan Reformasi Struktural Ekonomi. Tanpa adanya keterangan yang jelas, dikhawatirkan konsep yang diberikan sebagai resep dari revitalisasi sektor manufaktur atau perekonomian kita, akan tidak tepat sasaran.

BERITA TERKAIT

Ancaman Kemiskinan Tetap Ada

Meski pemerintah akhirnya merealisasikan angka inflasi hingga akhir 2018 mencapai kisaran 3%-4%, situasi ini tampaknya tak bertahan lama, mengingat pemerintah…

PR Daya Saing Indonesia

Laporan terbaru WEF yang bertajuk The Global Competitiveness Index Report 2019 mengungkapkan, Indonesia berada di peringkat 50 dengan nilai 64,6,…

Mimpi Jadi Negara Besar

Sekitar September 2012, McKinsey Global Institute (MGI) melaporkan hasil kajian berjudul “The archipelago economy: unleashing Indonesia’s potential”, yang isinya kurang…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Dinamika Perbankan Lokal

Perbankan di dalam negeri memiliki posisi strategis sebagai lembaga intermediasi dan penunjang sistem pembayaran. Selain itu, bank juga sebagai agent of…

Ancaman Kemiskinan Tetap Ada

Meski pemerintah akhirnya merealisasikan angka inflasi hingga akhir 2018 mencapai kisaran 3%-4%, situasi ini tampaknya tak bertahan lama, mengingat pemerintah…

PR Daya Saing Indonesia

Laporan terbaru WEF yang bertajuk The Global Competitiveness Index Report 2019 mengungkapkan, Indonesia berada di peringkat 50 dengan nilai 64,6,…