Perbankan Belum Buka Akses UKM

NERACA

Jakarta---Keberadaan perbankan nasional dalam memberikan akses pendanaan ke Usaha Kecil Menengah (UKM) saat ini dinilai kurang maksimal. Padahal, permodalan merupakan faktor utama dari UKM. "Saat ini akses perbankan sangat penting dan membantu wirausaha. Minimal dia (UKM) dapat meningkatkan modalnya dari perbankan," kata Deputi Pengembangan Kewirausahaan dan pengembangan SDM Kementrian Koperasi dan UKM, Taty Ariati di Jakarta,7/4

Menurut Taty, hingga saat ini masih banyak UKM yang kurang bankable atau memenuhi syarat-syarat perbankan, salah satuya karena laporan keuangan dan bisnis plan kedepan. Padahal para calon pemula wirausaha maupun yang sudah jalan atau memiliki usaha dalam skala kecil sangat mengharapkan bantuan permodalan. Dia menambahkan, hingga saat ini dari total seluruh UKM, baru 45-55 persen UKM yang mendapatkan akses ke perbankan.

Lebih jauh Taty, berharap para UKM kedepan bisa meningkatkan kemampuannya sehingga dinilai layak oleh bank. Meski begitu, saat ini pemerintah telah meluncurkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan menggandeng sejumlah perbankan. "Perlu adanya peningkatan kapasitas SDM dengan meningkatkan performanya sebagai wirausaha, sehingga bisa dinilai layak oleh bank," imbuhnya

Sementara itu, Deputi Bidang IV Kordinasi Industri dan Perdagangan, Kementerian Kordinator Bidang Perekonomian Eddy Putra Irawadi mengatakan salah satu permasalahan penting yang masih menjadi kendala bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) adalah permodalan. Walaupun sudah ada program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang didukung oleh perbankan, namun bunga yang ditetapkan masih sangat tinggi. Dari sisi permodalan untuk UMKM hanya membutuhkan dana, tidak masalah darimana sumber dana tersebut. "Artinya kalau buat UKM yang penting ada, jadi selama ini yang dari tengkulak lebih besar bunganya," ujarnya

Menurut Eddy, pemerintah akan mendorong agar perbankan masuk ke dalam permodalan. Setelah itu, lanjut dia, bunga dari bank tersebut dapat diturunkan melalui beberapa skema yang sudah ada dan yang masih dalam tahap perencanaan. "Kita sekarang punya skema baru. Untuk para pelaku UMKM kita banyak program, hmpir setiap minggu kita punya program seperti ini real, pelatihan, konseling, pemodalan," paparnya

Eddy menambahkan, pemerintah berharap enterpreneur tersebut nantinya dapat menjadi saudagar global. "Saya harpakan pendapatan per tahun sebesar USD5.000 bukan hanya angka per kapita tapi pemerataan juga,"tukasnya

Diakui Eddy, yang menghambat dunia UMKM salah satu dan masih sukar untuk dicarikan solusinya adalah terkait dengan pembiayaan dan pasar. "Pembiayaan atau biasa disebut modal, memang cenderung susah sampai ke pelaku UMKM sehingga informasi, sosialisasi itu harus terus. Kemudian pasar, dimana Indonesia dan luar negeri disana sempit, yang membuat produk selalu terkendala untuk dijual," paparnya. **cahyo

Related posts