Pasar Menjanjikan, Mayora Pilih Sukuk Biayai Ekspansi Usaha - Terbitkan Sukuk Senilai Rp 250 Miliar

Neraca

Jakarta – Dalam rangka memenuhi biaya ekspansi bisnis perseroan serta pembangunan pabrik di Tangerang, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) siap menerbitkan sukuk korporasi senilau Rp 250 miliar. Perusahaan yang bergerak di bisnis consumer goods ini akan menerbitkan sukuk dan 70% setelah dikurangi penerbitan akan digunakan untuk kembangkan pabrik di Tangerang.

Kata Wakil Ketua Badan Pengurus Harian Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) Fathurrahman Djamil, penerbitan sukuk yang dilakukan Mayora dinilai langkah yang tepat. Alasannya, prospek dan pasar sukuk korporasi di Indonesia masih luas,”Pasar sukuk korporasi masih menjanjikan ditengah kondisi ekonomi yang tumbuh positif,”katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Kemudian sekitar 20% penjualan sukuk MYOR, nantinya untuk pembiayaan aktiva rutin divisi coklat, wafer, dan permen, dan 10% dananya untuk mengembangkan pabrik pengolahan biji coklat anak usahanya yaitu PT Kakao Mas Gemilang.

Anak usaha itu bergerak di bidang makanan kesehatan dan bertindak sebagai penjamin emisi surat utang itu adalah PT Danareksa Sekuritas dan PT Mandiri Sekuritas, serta PT Bank CIMB Niaga Tbk sebagai wali amanat.

Menurut Fathurrahman Djamil, penerbitan sukuk korporasi yang dilakukan Mayora adalah refleksi penerbitan sukuk di tahun 2012 yang belum banyak digarap perseroan. Padahal, instrument pembiayaan ini dinilai menjanjikan dengan tetap didorong dari sisi korporasi.

Merespon kondisi tersebut, praktisi keuangan syariah dan pakar sukuk, Kanny Hidaya mengungkapkan, tidak hanya Mayora yang akan menerbitkan sukuk, tetapi ada juga Bank Muamalat. Bahkan satu lagi perusahaan akan menyusul menerbitkan sukuk, “Kami mendapatkan informasi setidaknya ada lima emiten yang akan menerbitkan sukuk korporasi pada tahun ini. 3 emiten lain akan rilis secepatnya akhir tahun ini. Nilainya bisa tembus Rp2 triliun, meningkat jauh dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya Rp200 miliar,”ujarnya.

Dia menuturkan, Bank Nagari sebenarnya mendapatkan pernyataan efektif pada akhir 2010, namun listing baru pada Januari 2011, sehingga tercatat terbit pada tahun lalu. Sebagai informasi, PT Bank Muamalat Tbk akan merilis sukuk pada Juli 2012 dengan nilai sebesar Rp 800 miliar. Rencananya, Dana yang dikumpulkan tidak hanya sebagai alternatif pembiayaan melainkan turut menjadi sarana perbaikan struktur keuangan perusahaan dalam menerapkan prinsip syariah dengan mengutamakan produk halal. “Produk syariah belum ada. Jadi kalau ada produk syariah investasi akan tingkatkan probability. Sehingga arahnya setiap produk harus punya lisensi halal. Makanan dan minuman yang paling dekat,”tegasnya.

Selanjutnya, Kanny menjelaskan sukuk memiliki kelebihan karena investor base. Artinya, lembaga konvensional dapat membeli sukuk, namun lembaga keuangan syariah tidak dapat membeli obligasi konvensional.

Maka dengan kinerja emiten sukuk yang baik, secara otomatis penerbitan sukuk akan menarik investor berbasis syariah dan investor yang berbasis non syariah. Dari 19 panduan variasi struktur sukuk yang dikeluarkan Bepepam-LK, 7 diantaranya adalah variasi sukuk mudharabah dan sisanya 12 termasuk variasi sukuk ijarah.

Muamalat Rilis Sukuk

Di tempat terpisah, Direktur keuangan Bank Muamalat Indonesia Hendiarto membenarkan pihaknya akan menerbitkan sukuk senilai Rp 800 miliar rupiah (US$ 87 miliar), atau mungkin mencapai Rp 1,5 trilun jika terjadi kelebihan permintaan. "Kami condong akan menerbitkan dalam rupiah. Kami mempertimbangkan apakah kebutuhan untuk dollar mendesak. Penerbitan sukuk dalam dollar cukup sulit, karena tidak ada instrumen rating untuk obligasi syariah," ujar Hendiarto.

Lebih lanjut, Hendiarto mengatakan, Mumalat lebih suka menerbitkan obligasi bertenor tujuh hingga 10 tahun. Namun, kepastian terkait tenor dan mata uang akan diputuskan setelah melihat penawaran dan minat investor di Juni mendatang.

Bank syariah tertua di Indonesia ini sudah menunjuk PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas dan PT Indo Premier Securities sebagai penjamin emisi. Awalnya, Bank Muamalat Indonesia berencana menjual US$ 50 juta sukuk global pada tahun lalu, namun ditunda hingga paruh pertama 2012.

Sebagai informasi, pertumbuhan aset sukuk korporasi di 2011 mencapai 1,28%. Pertumbuhan ini masih jauh bila dibandingkan dengan pertumbuhan bank syariah sebesar 19,78%. Bahkan masih sangat kecil bila dibandingkan dengan Sukuk negara sebesar 54,55%.

Namun, dia menyayangkan bahwa saat ini masih sangat minim minat dari para emiten dalam memanfaatkan sukuk sebagai alternatif pembiayaan. Hal ini seharusnya tidak perlu terjadi, karena proses emisi sukuk relatif tidak berbeda dengan proses emisi obligasi konvensional, meski ada beberapa tambahan akad, namun hal itu dirasa tidak akan menyulitkan. “Saya rasa justru lebih mudah dengan penerbitan sukuk ini. Karenanya, sudah sewajarnya emiten di Indonesia lebih memperhatikan sukuk ini”, tutupnya.(mayabd)

Related posts