DPR: Potensi Ancaman Resesi Makin Nyata - RI SUDAH SIAPKAN ANGGARAN YANG SOLID

Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Prof. Dr. Bambang PS Brodjonegoro mengungkapkan, Indonesia telah memiliki anggaran yang solid untuk mengantisipasi potensi resesi ekonomi dunia di 2020. Penganggaran yang solid dilakukan dengan merancang APBN yang rasional. Sementara itu, anggota DPR-RI memprediksi Indonesia bakal mengalami resesi pada tahun 2020.

NERACA

Anggota Komisi X DPR-RI Sri Meliyana memprediksi Indonesia mengalami resesi ekonomi pada 2020. Prediksi tersebut melihat perkembangan ekonomi global saat ini, di mana Indonesia merupakan negara yang mudah terpengaruh kondisi global.

"Resesi ekonomi dikhawatirkan melanda Indonesia pada 2020. Ancaman krisis keuangan global dan resesi ekonomi global pada 2020 telah makin nyata. Saat ini beberapa negara mulai mengalami resesi," ujarnya di Gedung DPR, Jakarta, Senin (23/9).

Resesi, menurut Sri, adalah posisi pertumbuhan ekonomi yang terus terkontraksi atau melemah dalam dua triwulan berturut-turut. Indonesia sendiri sudah pernah mengalami resesi ketika 1998 dengan pertumbuhan ekonomi melemah dalam 5 triwulan.

"Ukuran lebih longgar dipakai pula menyebut resesi terutama dalam kasus Indonesia, yaitu laju pertumbuhan yang menurun signifikan, meskipun tidak sampai negatif sebagaimana yang terjadi di 2008," ujarnya seperti dikutip merdeka.com.

Beberapa triwulan terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia memang tumbuh stagnan di angka 5%. Pada 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia bahkan diprediksi Bank Dunia hanya mencapai 4,9%, artinya di bawah target pemerintah sebesar 5,3%. "Bank Dunia juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 sebesar 4,8% dengan risiko lebih rendah lagi jika kondisi global tak menentu. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi 5,3% di 2020 tidak realistis," jelas Sri.

Sementara itu, faktor penyokong pertumbuhan ekonomi seperti industri pengolahan tak bisa lagi diharapkan menyumbang pertumbuhan ekonomi. Sebab, sektor itu pun terus melambat bahkan lebih lambat dibanding kondisi 2008 hingga 2009.

"Dilihat dari sektor, sektor ekonomi pengolahan Indonesia lebih sensitif terhadap penguatan dan pelemahan kondisi ekonomi. Penyebabnya antaralain porsinya yang besar dalam PDB. Faktanya industri pengolahan pun tumbuh melambat selama beberapa triwulan terakhir, terburuk dibandingkan kondisi 2008 hingga 2009," ujarnya.

Meski demikian, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Prof. Dr. Bambang PS Brodjonegoro menyebut bahwa Indonesia telah memiliki anggaran yang solid untuk mengantisipasi potensi resesi ekonomi dunia di 2020. Penganggaran yang solid dilakukan dengan merancang APBN yang rasional. "Ya kita pada intinya harus punya anggaran yang solid untuk mengantisipasi potensi resesi dunia 2020, karena itu targetnya dibuat serasional mungkin," ujarnya, kemarin.

Dalam RAPBN 2020, pemerintah juga sudah menyiapkan pengalokasian anggaran untuk pencegahan dampak terburuk dari resesi. Adapun resesi adalah kemerosotan pertumbuhan ekonomi dalam dua kuartal berturut-turut dalam satu tahun. "Alokasi penganggarannya pun dibuat dengan upaya untuk mencegah dampak terburuk resesi yang kemungkinan terjadi di 2020," jelas Bambang.

Sebelumnya, Presiden Jokowi mengatakan, ekonomi global telah mengalami perlambatan dan kemungkinan terjadinya resesi akan semakin besar. Untuk itu, dia meminta jajaran menterinya membuat langkah-langkah antisipasi dalam menghadapi krisis ekonomi.

"Payung harus kita siapkan, kalau hujannya besar, kita enggak kehujanan. Kalau gerimis kita enggak kehujanan," kata Jokowi saat memimpin rapat terbatas antisipasi perkembangan perekonomian di Kantor Presiden Jakarta, baru-baru ini.

Menurut dia, dampak krisis ekonomi global sudah terjadi di beberapa negara. Contohnya, mata uang yuan dan peso yang mengalami depresiasi. Sehingga, pemerintah perlu menyiapkan langkah-langkah konkret untuk mengantisipasi dampak resesi.

"Tantangan itu harus kita antisipasi, hadapi, dan kita harapkan, langkah-langkah antisipatif sudah benar-benar konkret kita siapkan dan berharap, perlambatan pertumbuhan ekonomi dan dampak dari resesi bisa kita hindarkan," ujarnya.

Antisipasi Pelonggaran

Pada bagian lain, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir menjelaskan, beberapa negara maju telah lebih dulu terjerembab ke resesi. Itu seperti Turki, Argentina hingga Jerman yang saat ini juga memasuki risiko resesi. "Jadi kita tidak boleh main-main. Makanya semua negara sudah antisipasi ini dengan pelonggaran kebijakan lewat bank sentralnya," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dia menegaskan, pemerintah akan terus menjaga sekaligus merespons ekonomi global guna mengantisipasi pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat. "Singapura saja growth mereka ini sudah negatif di kuartal I. Jadi kita harus merespon dengan kebijakan yang tepat," ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan Indonesia belum terkena ancaman dari resesi. Sebab, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menunjukkan peningkatan dan masih berada di atas atau sekitar 5%.

Sedangkan, negara yang dikatakan resesi adalah ketika produk domestik bruto (PDB) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Isu ini kian menghangat mengingat sejumlah negara maju sudah menjadi korban dari resesi ekonomi.

"Resesi itu jika suatu negara growth negative berturut-turut pada 2 triwulan. Pertumbuhan ekonomi global kami memproyeksi tahun ini 3,2% dan tahun depan 3,3%. Ini belum termasuk definisi resesi," tutur Perry di Jakarta, pekan lalu. "Pertumbuhan ekonomi Indonesia kami memprediksi masih di bawah titik tengah 5-5.4%. Tahun depan kami memproyeksi 5-5.5%,” dia menambahkan.

Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Arif Budimanta, mengatakan Indonesia masih jauh dari ancaman krisis ekonomi. Menurutnya, dengan ketahanan ekonomi yang masih kuat, Indonesia masih bisa bertahan di tengah perlambatan ekonomi global. “Beberapa hari ini Rupiah bahkan menguat," tuturnya di Jakarta, Jumat (13/9).

Budimanta menjelaskan, ketahanan ekonomi Indonesia ditopang konsumsi rumah tangga yang signifikan. Hematnya, secara fundamental RI masih terbilang jauh dari ancaman resesi.

"Secara market kita ini besar 260 juta penduduk kalau kita bicara konsumsi menggerakkan ekonomi PDB-nya sudah 55%, orang butuh belanja, butuh barang. Jadi yang disebut dengan capital outflow itu harus kita bagi apakah itu berbasis portfolio?" ujarnya.

Sebelumnya dalam presentasi Bank Dunia bertajuk Global Economic Risks and Implications for Indonesia, RI tengah berada pada ancaman capital outflow (arus modal keluar) yang besar. Hal ini membawa Indonesia turut terkena ancaman dari resesi global.

Menurut dia, dana keluar tidak terjadi di surat utang negara. Sebab, imbal hasil yang ditawarkan dinilai masih menarik. "Surat utang negara 10 tahun di atas 7 persen ada tidak negara tetangga yang bisa kasih di atas itu? Tidak ada kan?"

Arif merasa dana keluar terjadi di pasar modal. "Jadi mungkin masuk portfolio saham, mungkin ya, tapi saham-saham investor yang jangka panjang (bluechip) mereka tidak bakal keluar. Top 5 itu BUMN, ada BRI, Mandiri, untungnya triliunan. Jadi masih jauh dari ancaman krisis ekonomi. Kita hargai bank dunia jika itu sebagai warning tapi kalau kita lihat secara fundamental kita memiliki ketahanan ekonomi," ujarnya. bari/mohar/fba

BERITA TERKAIT

UNDP Catat Kemiskinan di Indonesia Menurun 0,2 Basis Poin

NERACA Jakarta – Berbagai macam program sosial yang diluncurkan Presiden Joko Widodo (Jokowi), rupanya dinilai efektif dalam menurunkan angka kemiskinan.…

RENCANA PENERBITAN INPRES BAGI PENUNGGAK IURAN - ORI: Sanksi BPJS Tidak Miliki Dasar Hukum

Jakarta-Ombudsman Republik Indonesia (RI) dan YLKI menilai, penerbitan Instruksi Presiden (Inpres) terkait dengan sanksi untuk penunggakan iuran di Badan Penyelenggara…

Ribuan Kontraktor Swasta Bangkrut Akibat Dominasi BUMN Karya

NERACA Jakarta-Kamar Dagang dan lndustri (Kadin) Indonesia mengeluhkan ribuan kontraktor swasta lokal yang gulung tikar selama periode 2014-2018 karena kurang…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

PENILAIAN KETUA UMUM APINDO - Defisit Akibat Daya Beli Masyarakat Menurun

Jakarta-Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Haryadi Sukamdani mengungkapkan, defisit perdagangan Indonesia pada September 2019 sebesar US$160 juta terjadi akibat…

Daftar Negatif Investasi (DNI) Direvisi Ulang

NERACA Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa saat ini pemerintah sedang merevisi ulang Daftar Negatif Investasi…

UNDP Catat Kemiskinan di Indonesia Menurun 0,2 Basis Poin

NERACA Jakarta – Berbagai macam program sosial yang diluncurkan Presiden Joko Widodo (Jokowi), rupanya dinilai efektif dalam menurunkan angka kemiskinan.…