Regulasi Ini Diharapkan Warnai Regenerasi Tenaga Kerja Pertanian

NERACA

Jakarta – Rancangan Undang-Undang (RUU) Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan yang akan dibawa ke tingkat Rapat Paripurna DPR diharapkan setelah disahkan akan dapat menambah jumlah petani di berbagai daerah yang memerlukan regenerasi tenaga kerja sektor pertanian.

"Kami tekankan kepada pemerintah, undang-undang ini harus bisa mendorong pertanian Indonesia semakin maju, jumlah petani di daerah semakin banyak, bukan sebaliknya," kata Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Daniel Johan dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, disalin dari Antara.

Menurut Daniel, ke depan jumlah petani berpotensi semakin berkurang sehingga jangan sampai UU ini malah membuat petani menjadi musnah. Politisi PKB itu juga menekankan agar UU tersebut juga tidak dijadikan dasar untuk melakukan kriminalisasi terhadap petani. "Kami juga mendorong tidak hanya petani kecil, namun juga seluruh petani Indonesia harus kita dukung, sehingga pertanian di Indonesia semakin maju," katanya.

Dia mengutarakan harapannya agar UU Sistem Budi Daya Pertanian dapat menjadi dasar yang kuat untuk memajukan pertanian Indonesia, serta membuat masyarakat bersemangat menjadi petani sekaligus menjadikan Indonesia sebagai basis pangan dunia.

Sebelumnya Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Prof. Loekas Soesanto mengingatkan pentingnya modernisasi pertanian khususnya pada era revolusi industri 4.0.

"Modernisasi sangat penting dalam rangka menghadapi revolusi industri 4.0, selain itu modernisasi dapat menumbuhkan minat petani milenial untuk mengembangkan sektor pertanian," katanya di Purwokerto, Kamis (19/9). Loekas Soesanto mencontohkan modernisasi pertanian dapat berupa pemanfaatan drone untuk penyemprotan, serta penggunaan alat-alat pertanian modern lainnya.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian menyatakan 1.636 perusahaan atau calon investor menunjukkan minatnya untuk menanamkan modal di sektor pertanian dengan perkiraan nilai investasi mencapai Rp426,2 triliun hingga 2020.

"Dari sistem one single submission (OSS), menunjukkan cukup banyak minat investasi di sektor pertanian dengan nilai investasi mencapai Rp426,2 triliun," kata Dirjen Perkebunan Kementan Kasdi Subagyono.

Dengan potensi investasi tersebut, Kementan memperkirakan kebutuhan tenaga kerja pada 2020 untuk sektor pertanian sebesar 651.697 orang.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi sektor pertanian selama 2009-2013 masih cukup rendah yaitu hanya sebesar Rp96,1 triliun. Pada periode 2014-2018, investasi sektor pertanian meningkat tajam mencapai Rp240,8 triliun, atau naik 150,7 persen dibanding periode sebelumnya.

Dalam 5 tahun mendatang (2020-2024), pemerintah menargetkan investasi sektor pertanian mencapai Rp2.231,5 triliun dengan porsi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar 55 persen dan penanaman modal asing (PMA) sebesar 45 persen.

Modernisasi sistem pertanian dapat berperan strategis dalam mendukung program regenerasi petani, kata akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Ponendi Hidayat. "Modernisasi sistem pertanian sangat penting untuk dilakukan guna mendorong regenerasi sumber daya manusia sektor pertanian," katanya di Purwokerto.

Ponendi Hidayat yang merupakan dosen Fakultas Pertanian Unsoed tersebut menambahkan sistem pertanian yang modern bisa meningkatkan minat milenial untuk terjun ke sektor pertanian atau agribisnis.

"Pertanian dengan sistem modern, alat modern, akan menjadi magnet bagi kaum muda untuk mau terjun ke sektor pertanian atau agribisnis, selain itu alat-alat pertanian modern juga bisa menumbuhkan rasa bangga bagi kaum milenial," katanya.

Untuk itu, dia berharap pemerintah akan terus menyosialisasikan dan mendorong modernisasi sistem pertanian. "Pemerintah harus terus mendorong modernisasi pertanian dan menjadikan ini sebagai salah satu fokus perhatian," katanya.

Selain itu, kata dia, pemerintah juga perlu mengoptimalkan tata niaga pertanian agar harga komoditas bisa makin menjanjikan. "Dengan harga komoditas yang menjanjikan maka pendapatan petani akan meningkat dengan biaya produksi yang tetap rendah," katanya.

Sebelumnya, Loekas Soesanto mengingatkan pentingnya regenerasi petani atau SDM bidang pertanian. Dia menjelaskan pemerintah perlu mengintensifkan program yang bertujuan untuk mencetak lebih banyak petani milenial.

BERITA TERKAIT

LG Chemical Ingin Terlibat Proyek Percontohan Motor Listrik

NERACA Jakarta - Perusahaan ternama Korea Selatan, LG Chemical ingin berpartisipasi dalam pilot project pengembangan kendaraan motor listrik di Tanah Air. Langkah…

AS Minat Investasi di RI Bidang Indsutri 4.0

Jakarta - Kementerian Perindustrian ikut aktif mendorong peningkatan investasi industri digital guna memperkuat struktur teknologi di dalam negeri, terutama dalam…

Kemenperin Siap Bangun ‘Material Center’ IKM Furnitur di Jepara

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian akan membangun material center untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pelaku industri kecil dan menengah (IKM) yang menghasilkan produk…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Awal 2020, Bulog Gelontorkan Beras CBP

NERACA Jakarta - Perum BULOG telah menggelontorkan CBP (Cadangan Beras Pemerintah) sebesar 120 ton sampai dengan minggu kedua di bulan…

PUGAR, Solusi Atasi Garam Rakyat

NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan terus berupaya meningakatkan kesejahteraan petambak garam melalui program Pengembangan Usaha Garam Rakyat (PUGAR)…

WEF 2020, Kemenperin Bangun Daya Saing Manufaktur

NERACA Jakarta –  Dalam World Economic Forum (WEF) 2020, Kementerian Perindustria (Kemenperin) para pemangku kepentingan global untuk membangun daya saing…