KKP Gandeng Kadin Kampanyekan “Gemarikan” - Tingkat Konsumsi Ikan Masih Rendah

NERACA

Jakarta - Tingkat konsumsi ikan di Indonesia yang masih sangat rendah membuat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggandeng Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia untuk mendukung dan mengkampenyekan Gerakan Mari Makan Ikan (Gemarikan) sebagai sebuah gerakan nasional. Tingkat konsumsi ikan nasional pada 2009 tercatat 29,9 kg/kapita/tahun, 2010 mencapai 30,47 kg/kapita/tahun, dan 2011 mencapai 31,64 kg/kapita/tahun.

KKP menilai, program Gemarikan erat berhubungan dengan peningkatan taraf kesejahteraan nelayan yang sebagian besar masih hidup memprihatinkan. Pasalnya, peningkatan konsumsi ikan akan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya para nelayan, pembudidaya dan pengolah hasil perikanan. "Program Gemarikan sangat penting dibudayakan karena saat ini masyarakat belum banyak yang memanfaatkan ikan," ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo di Menara Kadin, Kamis (5/4).

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto menyatakan dukungannya terhadap program Gemarikan yang di usung oleh KKP. Dia menuturkan, peningkatan dalam konsumsi ikan bukanlah suatu hal yang mustahil karena wilayah Indonesia memiliki potensi ikan yang cukup besar sehingga dapat dimanfaatkan dengan optimal.

Senada dengan Bambang, Wakil Ketua Umum Bidang Perikanan dan Kelautan Kadin Indonesia Yugi Prayanto menuturkan, jika tingkat konsumsi ikan masyarakat tinggi, maka semakin tinggi juga dorongan produktivitas kelautan dan perikanan Indonesia. Menurut dia, tingkat konsumsi makan ikan yang kecil dapat mempengaruhi keberlangsungan industri pengolahan ikan dan kesejahteraan nelayan. “Oleh sebab itu, Gemarikan merupakan tanggung jawab bersama bukan hanya pemerintah saja tetapi juga para pengusaha dalam mendukung peningkatan konsumsi ikan di masyarakat,” lanjutnya.

Yugi mengharapkan, program Gemarikan dapat memberikan efek positif terhadap industrinya, maupun pelaku perikanan dan kelautan di segala tingkatan terutama bagi para nelayan dan petambak dalam mencapai kesejahteraan. “Kami harapkan (konsumsi ikan) tahun ini bisa mencapai sedikitnya 33 kg/kapita/tahun atau lebih dari itu,” ujar Yugi.

Di sisi lain, Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, total produksi perikanan nasional tahun lalu sudah mencapai 10,65 juta ton. “Total produksi yang terus dipacu seharusnya bisa diimbangi dengan peningkatan nilai tambah, sehingga daya saing perikanan dan kelautan nasional bisa bersaing baik di pasar lokal maupun luar,” urai Yugi.

Dia menambahkan, dua komoditas perikanan unggulan ditetapkan sebagai andalan ekspor Indonesia, yaitu tuna dan udang. Diharapkan dalam 20 tahun ke depan, komoditas itu dapat berswasembada pangan yang kompetitif dan berkelanjutan serta peningkatan daya saing produk pangan Indonesia di pasar dunia.

Tahun lalu, Indonesia menghasilkan Rp13,2 triliun dari ekspor udang. Diperkirakan pada 2014, ekspor udang bisa men­capai Rp61,5 triliun. Sedangkan dari ekspor tuna, Indonesia menghasilkan Rp3,8 triliun. Target sampai 2014 sebesar Rp17,3 triliun.

Menurut Yugi, Kadin sebelumnya juga menargetkan pembangunan sektor pangan kelautan dan perikanan antara tahun 2010-2014. “Hal ini terlihat dari target produksi pangan dan konsumsi ikan pada tahun 2011 yang mencapai 6,8 juta ton. Ditambah lagi dengan surplus produksi ikan di 2011 sebesar 3,5 juta ton,” tandasnya.

Related posts