Defisit Industri Elektronik Capai US$12 Miliar

NERACA

Jakarta – Dirjen Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Harjanto mengatakan defisit industri elektronik sangat dalam mencapai sekitar 12 miliar dolar AS pada tahun lalu. "Dengan adanya ekspor ini bisa mengurangi defisit neraca perdagangan kita," kata Harjanto pada pelepasan ekspor perdana mesin cuci Panasonic, di Jakarta, disalin dari laman Antara.

Oleh karena itu, lanjut Harjanto, pihaknya mengapresiasi setiap langkah ekspor yang dilakukan kalangan industri, khususnya di industri elektronik, dan meminta jangkauan ekspor diperluas ke negara lain, seperti ke kawasan Afrika sebagai negara nontradisional tujuan ekspor Indonesia. "Bahkan AMMDes (Alat Mekanik Multifungsi Pedesaan) juga kami upayakan dibawa ke Afrika, di samping beberapa produksi dalam negeri lainnya," kata Harjanto.

Harjanto mengatakan defisit industri elektronik terjadi karena impor komponen untuk produksi masih sangat besar. Ia mencontohkan mesin cuci Panasonic saja kandungan komponen lokalnya masih 34 persen, sisanya impor. "Rata-rata industri elektronika masuk di hilir," kata Harjanto. Hal itu menyebabkan impor komponen menjadi tinggi.

Karena itulah, kata dia, pihaknya terus mencari investor baru yang mau masuk ke industri hulu komponen. Diakui Harjanto, defisit industri elektronik tidak hanya terjadi karena impor komponen yang tinggi, tapi juga karena impor produk jadi barang elektronik juga besar.

Apalagi ada kebijakan mengizinkan impor barang jadi elektronik untuk barang komplementer hingga 20 persen. Namun pihaknya hanya memberi rekomendasi izin impor hanya lima persen, guna menekan impor barang jadi. "Inilah mengapa kami berupaya mengurangi impor dan berupaya menarik investasi dengan memberi beragam insentif seperti tax holiday dan super deduction tax," kata Harjanto.

Berdasarkan data Kemenperin, dalam empat tahun terakhir industri elektronik tumbuh fluktuatif. Pada 2015 sempat tumbuh 2,92 persen dan 2016 tumbuh 8,98 persen, kemudian turun 0,80 persen pada 2017, dan makin anjlok turun 12 persen pada 2018. Pada 2018, ekspor industri elektronik mencapai 8,2 miliar dolar AS, namun impornya jauh lebih tinggi mencapai 19,9 miliar dolar AS.

Sementara itu, Preskom PT Panasonic Manufacturing Indonesia yang juga mantan menteri perdagangan Rachmat Gobel mengatakan pemerintah harus terus konsisten melindungi pasar dalam negeri agar pasar yang besar bisa dinikmati untuk pertumbuhan industri, khususnya industri elektronik. "Pemindahan ibu kota bisa dijadikan momentum untuk mengutamakan made in Indonesia dalam pembangunan dan pengembangan ibu kota baru itu," kata Rachmat Gobel.

Sementara itu, secara terpisah, perusahaan multinasional di bidang alat elektronik rumah tangga asal Jepang, AQUA Japan, memprediksi pasar produk tersebut di Tanah Air akan meningkat pada tahun ini.

Presdir AQUA Japan Indonesia Kenji Sadayuki mengatakan, pada kuartal pertama 2019 pasar elektronik di Indonesia meningkat 5,2 persen setelah tahun lalu mengalami penurunan sebagai dampak pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar AS. "Kami berharap ini dapat menjadi awal yang lebih baik untuk terus terjadinya pertumbuhan pasar yang lebih positif selama 2019," katanya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.

Sadayuki mengatakan, pada 2018 penjualan perusahaan tumbuh sebesar 28 persen dibandingkan 2017 dengan kontribusi terbesar dari produk cold chain kemudian pendingin ruangan dan lemari es. "Pada 2019 ini kami optimistis pasar untuk peralatan elektronik rumah tangga akan kembali meningkat," katanya saat media kick off 2019.

Berbagai upaya dilakukan perusahaan asal Jepang yang awalnya bernama Sanyo itu untuk mendongkrak penjualan pada tahun ini, antara lain memperluas penjualan produk mid-high atau masyarakat kelas menengah ke atas dengan target pertumbuhan 32 persen.

Sadayuki mengatakan strategi memperkuat pasar mid-high terbukti pada kuartal pertama 2019 sukses mendongkrak angka penjualan produk perusahaan yakni meningkat 29,4 persen dibandingkan periode sama 2018. "Secara keseluruhan kami memasang target peningkatan penjualan sebesar 28 persen dari 2018," katanya.

Sementara itu, Executive General Manager Sales Division AQUA Japan Indonesia Fajar Surya menyatakan, selain memperkuat pasar menengah ke atas, pihaknya juga akan melebarkan pemasaran ke luar Jawa yaitu Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

BERITA TERKAIT

Perlu Tingkatkan Sinergi Perlindungan Konsumen

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengajak pemerintah daerah (pemda) meningkatkan sinergi dalam menyusun strategi penyelenggaraan program perlindungan…

Niaga Internasional - BPDP-KS Pastikan Tak Ada Pungutan Ekspor Sawit Hingga Akhir 2019

NERACA Jakarta – Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) sepakat tidak melakukan pungutan ekspor sawit sampai akhir 2019, guna…

Serap 200 Ribu Naker, Ekspor Industri Batik Tembus USD18 Juta

NERACA Jakarta - Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan industri batik merupakan salah satu sektor yang cukup banyak membuka lapangan pekerjaan.…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Perlu Tingkatkan Sinergi Perlindungan Konsumen

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengajak pemerintah daerah (pemda) meningkatkan sinergi dalam menyusun strategi penyelenggaraan program perlindungan…

Niaga Internasional - BPDP-KS Pastikan Tak Ada Pungutan Ekspor Sawit Hingga Akhir 2019

NERACA Jakarta – Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) sepakat tidak melakukan pungutan ekspor sawit sampai akhir 2019, guna…

Serap 200 Ribu Naker, Ekspor Industri Batik Tembus USD18 Juta

NERACA Jakarta - Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan industri batik merupakan salah satu sektor yang cukup banyak membuka lapangan pekerjaan.…