Stok Makin Menipis, Harga Daging Melambung Tinggi - Akibat Impor Dibatasi

NERACA

Jakarta – Menipisnya ketersediaan stok daging sapi di Jakarta akibat pasokan yang semakin terbatas membuat harga komoditas ini mengalami kenaikan cukup tinggi. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyebutkan menipisnya pasokan daging dan stok terdapat di sejumlah supermarket serta industri. Asosiasi menilai, kelangkaan pasokan daging sapi dikarenakan pemerintah belum membuka keran impor untuk komoditas tersebut.

Wakil Sekretaris Jenderal Aprindo Satria Hamid mengatakan, jika pihaknya biasa mendistribusikan daging sebanyak 225 ton per hari, maka kini jumlah daging yang didistribusikan terus mengalami penyusutan. "Kalau pemerintah tidak membuka keran daging sapi impor, stok daging kami pada pekan depan sudah kosong sama sekali," ujarnya di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Satria menambahkan, dampak dari kelangkaan pasokan daging itu membuat harga daging naik. Saat ini, harga daging ditingkat eceran di supermarket naik ke Rp79.500 hingga Rp191.500 per kilogram (kg) atau naik dari harga tahun lalu sebesar Rp 65.000 per kg. "Harga ini tidak wajar, biasanya hanya Rp 65.000 per kg di supermarket," jelasnya.

Sementara, berdasarkan data Kementerian Perdagangan, harga daging sapi secara rata-rata nasional per 3 April 2012 mencapai Rp 73.473 per kg atau naik 0,4% dari harga rata-rata Maret lalu mencapai Rp 73.155 per kg. Kenaikan harga daging sapi tercatat 0,8% jika dibandingkan dengan harga rata-rata bulan Februari yang mencapai Rp 72.880 per kg.

Puasa Daging

Dia mengakui suplai daging yang diterima pengusaha ritel terus menyusut. Jika setiap bulannya, Aprindo butuh daging sebanyak 1.100 ton per bulan, namun sejak Maret, pasokannya berkurang sekitar 20%.

"Warga Jakarta harus siap-siap berpuasa makan daging sapi mulai Mei hingga akhir 2012, kecuali Kementerian Pertanian segera memberikan kuota khusus daging sapi impor pada Jakarta. Stok daging sapi di Jakarta hanya cukup memenuhi kebutuhan warga hingga akhir April," terang Satria.

Menurut satria, pengolahan daging sebagian besar berada di Jabotabek dan sangat ketergantungan dengan daging impor. Jika tidak cepat diantisipasi, puluhan ribu orang yang bergantung dalam industri daging sapi akan kehilangan pekerjaannya. Mulai dari pedagang bakso, buruh pabrik sosis dan hamburger, abon, kerupuk, catering, hotel, restoran, hingga ritel.

Dia juga mengatakan, para pengusaha ritel bukannya menginginkan impor besar-besaran, namun memang ketersediaan daging lokal sangat sedikit. Sementara kebutuhan ritel modern terhadap daging sapi per tahun mencapai 12.700 ton.

"Keadaan sekarang, kami kesulitan memasok daging sapi. Meski dijanjikan pemerintah, Indonesia memiliki banyak sapi, tapi retailer membutuhkan daging bukan hewan. Kalau kuota impor dibatasi, kasih solusinya, misalnya kembangkan dong peternakan sapi di Indonesia," tandas Satria.

Untuk itu, Kementerian Pertanian, lanjut Satria, harus jujur terhadap ketersediaan sapi lokal sejumlah 2,4 juta ekor siap potong, dan secara terbuka memberikan informasi soal stok sapi lokal tersebut, sesuai dengan hasil sensus 2011 by name dan by address. Sehingga, lanjutnya, para asosiasi atau pelaku usaha dapat membeli secara langsung ke tingkat peternak dengan terjangkau dengan tetap menjaga harga ekonomis.

Sebagai informasi, kebutuhan daging sekarang ini mengalami kekuarangan sebesar 66 ribu ton. Kementerian Pertanian meyakini akan mendapatkan suplai dari sapi lokal, dengan asumsi berdasarkan sensus sapi yang dilakukan pada 2011 ketersediaan sapi potong lokal mencapai 14,8 juta ekor, sapi perah 597 ribu ekor, dan kerbau 1,3 juta ekor.

Related posts