Saham Acuan Baru Dinilai Membantu Pelaku Pasar - Picu Rilis Reksa Dana Baru

Neraca

Jakarta – Rencana PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menerbitkan indeks infrastruktur dan perbankan diluar indeks saham acuan LQ45 akan memicu perusahaan Manajer Investasi (MI) untuk menerbitkan produk reksa dana baru.

Menurut analis pasar modal dari Milenium Danatama Sekuritas Abidin, penerbitan indeks saham acuan baru akan menjadi peluang bagi MI merilis produk rekas dana baru, “Dengan adanya indeks saham acuan baru, MI dapat lebih fokus memilih saham sebagai 'underlying' suatu reksa dana yang akan diterbitkan," kata Abidin di Jakarta, Rabu (4/4).

Dia menambahkan, rencana Bursa yang akan membuat indeks per sektor itu juga dapat membantu MI memilih saham yang berkapitalisasi besar atau likuid diperdagangkan. Alhasil, indeks saham acuran baru ini akan membantu pelaku pasar.

Selain itu, lanjut dia, adanya indeks acuan baru itu akan dapat mendorong perusahaan pengelola investasi menambah instrumen investasi di pasar modal yang masih tergolong minim seperti produk reksa dana "Exchange Traded Fund" (ETF).

Kata Abidin, di dalam negeri masih minim MI yang mempunyai produk reksa dana ETF. Produk ini merupakan kontrak investasi kolektif yang unit penyertaannya dicatatkan dan diperdagangkan di bursa seperti saham.

Sebagaimana halnya reksa dana konvensional, dalam ETF terdapat pula Manajer Investasi, Bank Kustodian. Salah satu jenis ETF yang akan dikembangkan di pasar modal Indonesia adalah Reksa Dana Indeks.

Sebelumnya, Direktur Pengembangan BEI, Friederica Widyasari Dewi mengatakan Bursa akan menerbitkan tiga indeks baru pada April tahun ini menyusul permintaan pelaku pasar dan perusahaan Manajer Investasi (MI) untuk menjadi acuan berinvestasi di pasar modal. "Pihak Bursa tengah menyiapkan indeks 30 saham likuid, indeks saham perbankan, indeks saham infrastruktur. Diharapkan investasi di pasar modal lebih bervariasi dengan mendorong MI membuat produk reksadana 'Exchange Traded Fund' (ETF)," ujarnya.

Apalagi, lanjut dia, sebagian perusahaan investasi asing sudah menjadikan indeks LQ45 dan BEI sebagai "benchmark" dalam mengeluarkan produk reksadana ETF. Diharapkan, dengan bertambahnya indeks baru itu, perusahaam MI dapat menambah instrumen investasi di pasar modal, terutama produk reksa dana "Exchange Traded Fund" (ETF).

Menurut Friderica, indeks-indeks yang ada di pasar BEI saat ini dinilai masih kurang spesifik untuk dijadikan patokan (benchmark) bagi pelaku pasar, sehingga MI mengalami kesulitan dalam membentuk produk reksadana baru, khususnya ETF.

Saat ini, BEI memiliki beberapa indeks di pasar saham antara lain, indeks LQ45, Kompas100, Jakarta Islamic Index (JII), PEFINDO25, BISNIS-27, SRI-KEHATI, dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). (bani)

Related posts