Ditjen Pajak Vs BP Migas

Oleh Munib Ansori

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Perang mulut antara Direktur Jenderal Pajak Fuad Rahmany dan petinggi Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Migas (BP Migas) soal pajak dan produksi migas nasional bak sinetron yang mengharu-biru. Fuad menuding banyak perusahaan minyak yang memainkan data produksinya untuk menghindari pajak. Merasa tak terima dengan “nyanyian sumbang” dari Fuad, Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas BP Migas, Gde Pradnyana, balas menyerang dengan mengatakan bahwa bualan anak buah Menteri Keuangan Agus Martowardojo itu menyesatkan.

Lantas omongan siapa yang benar dalam perseteruan dua petinggi pemerintah itu? Sulit menjawabnya. Yang pasti, sebagai komandan tertinggi di Ditjen Pajak, Fuad tahu betul penerimaan pajak yang berasal dari sektor migas. Dia juga tak mungkin asal bunyi ketika menuduh BP Migas tidak jeli dalam memeriksa produksi minyak (lifting) yang berasal dari laporan perusahaan minyak offshore maupun onshore.

Sebagai orang lama malang-melintang di lantai bursa, Fuad paham betul kelakuan busuk perusahan besar di sektor migas entah itu perusahaan terbuka (Tbk) ataupun terbatas. Mereka adalah pihak yang pandai bersilat lidah dan sulit dipercaya. Fakta di lapangan yang seringkali terjadi adalah, ketika perusahaan migas bilang bahwa produksi minyaknya hanyak sekian, orang Pertamina atau BP Migas yang datang melihat langsung percaya begitu saja, tanpa menguji kebenaran data mereka di lapangan.

Jika pejabat tinggi sekelas Dirjen Pajak saja tidak percaya dengan lifting minyak nasional sebesar 930 ribu barel per hari (bph), maka bisakah rakyat biasa menelan begitu saja angka produksi tersebut? Sesungguhnya, semua pihak telah diingatkan Fuad soal betapa gelap data migas nasional. Ketidakpercayaan Fuad soal produksi minyak itu paling tidak menjadi dasar rakyat kecil yang niscaya tak pernah mengunjungi pabrik migas nasional untuk mempertanyakan keabsahan angka produksi migas di atas kertas.

Kalau benar BP Migas yakin tidak bermain mata dengan pengusaha minyak, nyatakanlah argumentasi yang kuat dengan membuka data produksi migas secara transparan. BP Migas jangan asal bantah pernyataan Fuad dengan mengatakan pencatatan produksi minyak telah disaksikan dan diperiksa di lapangan oleh pihak producer (perusahaan migas) maupun pihak buyer (petugas BP Migas), namun lembaga yang dipimpin R. Priyono itu mesti berani memeriksa ulang angka yang mencurigakan ini.

Jangan-jangan angka minyak dan gas nasional di atas kertas selama ini hanya tipu muslihat belaka. Dengan pemeriksaan asal-asalan yang patut ditengarai kong-kalikong, perusahaan minyak patut diduga menyampaikan data asal-asalan mengenai hasil produksinya. Perusahaan migas memang menggunakan alat semacam odometer untuk membaca volume dalam setiap proses bor minyak, namun dengan ketertutupan data migas selama ini, tak ada yang bisa menjamin kalau perusahaan migas tidak memainkan pencatatannya. Umpamanya yang dibor secara volume sebanyak 500.000 barel namun yang dilaporkan hanya 250.000 barel. Jika dugaan ini benar, maka mega skandal di sektor industri migas telah benar-benar terjadi di depan mata. Kita pun patut menangis untuk kesekian kalinya!

Related posts