Jalan Korea, 'Rumah' Burung Cenderawasih di Papua

Masalah perambahan hutan di Papua untuk dijadikan lahan kelapa sawit sedang menjadi perhatian Alex Waisimon yang merupakan pelaku ekowisata di Papua. Salah satu alasan Alex menolak perambahan hutan untuk penanaman sawit karena masih banyak masyarakat Papua yang tak mengenyam pendidikan tinggi, sehingga mereka tak mengerti cara mengelola kelapa sawit dan sistem ekonominya. Oleh karena itu, ia semakin giat mempromosikan ekowisata. Salah satu yang telah didirikannya ialah ekowisata pengamatan burung (bird watching) di salah satu area hutan Papua. Ekowisata disebutnya bisa membantu melindungi hutan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat lokal di sekitar hutan tersebut. "Ketika ekowisata tumbuh di tanah Papua, kita bisa lindungi hutan," ungkapnya saat ditemui di acara 'Cenderawasih dan Ekowisata di Papua' di Jakarta dikutip dari CNN Indonesia.com. Bird Watching milik Alex berlokasi di hutan seluas 19 ribu hektare di Jalan Korea, Nimbokrang, Papua. Burung yang diamati ialah Cenderawasih, fauna endemik di Papua. Kawasan ini telah menjadi lokasi pengamatan burung sejak 27 tahun terakhir. Untuk bisa menggunakan lahan hutan tersebut, Alex harus bolak-balik membujuk dua suku adat yang bermukim di sana. Dalam usahanya Alex diburu waktu, karena oknum-oknum juga gencar merayu untuk mencomot hutan mereka. Sepengetahuan Alex, masyarakat lokal memang seringkali diberikan iming-iming oleh tokoh masyarakat atau perusahaan sawit yang ingin membeli tanah milik penduduk yang menjanjikan akan membuka lahan baru bagi mereka. Nyatanya perusahaan tak pernah merealisasikan janjinya kepada masyarakat lokal. Beruntung, tak lama berusaha dua suku adat mengizinkan Alex membuka ekowisata di hutannya. "Membuka pikiran orang tidak gampang, tentunya ada proses. Tapi kita punya keyakinan, bahwa lewat ekowisata, lewat jasa wisata berbasis lingkungan, akan memberikan dampak yang luar biasa kepada masyarakat. Pelan-pelan pasti mereka mulai mengerti," kata Alex. Dari ekowisata yang didirikan Alex, masyarakat lokal bisa bekerja sebagai pemandu wisata sampai supir mobil wisatawan. Diharapkan, semakin banyak lagi warung makan dan tempat penginapan yang muncul. Dana dari tiket ekowisata juga dikumpulkan Alex untuk membangun sekolah alam, demi anak-anak suku adat bisa mengenyam pendidikan. Selama mengikuti kegiatan ekowisata, Alex mengajak wisatawan untuk melihat sosok burung Cenderawasih di habitat aslinya. Ia juga akan berbagai wawasan mengenai alam Papua. Perjalanan menyusuri hutan tentu tidak mudah, karena populasi mereka kian langka akibat perburuan liar para pedagang pasar gelap. Saat bertemu Cenderawasih, wisatawan tak diperbolehkan berada terlalu dekat atau mengusik kegiatan mereka. Berfoto dari jauh boleh, memegang jangan, begitu intinya. Selain ekowisata bird watching, Alex juga memiliki paket wisata pendakian alam. Kegiatannya tentu lebih ekstrem, tergantung keinginan wisatawan, bisa memanjat tebing atau rafting. Jerih payah Alex untuk menjaga hutan Papua menuai banyak pujian, mulai dari 'Penghargaan Kalpataru 2017' sampai 'Pahlawan Keragaman Hayati ASEAN (The ASEAN Biodiversity Heroes) 2019 dari ASEAN Center for Biodiversity (ACB)'."Minat wisatawan Indonesia untuk kegiatan ekowisata semacam ini masih kecil dibandingkan dengan minat wisatawan mancanegara. Hanya sekitar lima persen jumlah dari Indonesia," ujarnya. "Mungkin kesadaran penduduk Tanah Air dalam melestarikan alam dan satwa masih kecil," lanjutnya. Alex menaruh harapan besar kepada para penduduk Indonesia untuk mendukung kelangsungan ekowisata. Pasalnya keberhasilan ekowisata terletak pada dukungan masyarakat lokal, mau atau tidaknya masyarakat memiliki pikiran terbuka jika area hijaunya dikelola dengan prinsip ramah lingkungan, tak sekedar mendatangkan keuntungan. "Indonesia tanpa hutan maka Indonesia akan kehilangan paru-paru, saya pikir pemerintah harus tekankan itu," ujar Alex.

BERITA TERKAIT

Objek Wisata di Jayawijaya Tak Terdampak Kerusuhan Wamena

Sejumlah obyek wisata di Kabupaten Jayawijaya, Papua, dikabarkan aman dari dampak kerusuhan yang terjadi pada dua pekan lalu hingga menyebabkan…

Bukit Santiong, Pilihan Destinasi Paralayang di Subang

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat bersiap menjadikan kawasan wisata Bukit Santiong di Kabupaten Subang, Jawa Barat, sebagai…

Mengenal Empat Pondok 'Misterius' di Gunung Raung

Musibah kebakaran Gunung Raung, Jawa Timur, yang terjadi pada Jumat (4/10) sore menyebabkan 13 pendaki sempat terjebak. Hal ini menyebabkan…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Objek Wisata di Jayawijaya Tak Terdampak Kerusuhan Wamena

Sejumlah obyek wisata di Kabupaten Jayawijaya, Papua, dikabarkan aman dari dampak kerusuhan yang terjadi pada dua pekan lalu hingga menyebabkan…

Bukit Santiong, Pilihan Destinasi Paralayang di Subang

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat bersiap menjadikan kawasan wisata Bukit Santiong di Kabupaten Subang, Jawa Barat, sebagai…

Mengenal Empat Pondok 'Misterius' di Gunung Raung

Musibah kebakaran Gunung Raung, Jawa Timur, yang terjadi pada Jumat (4/10) sore menyebabkan 13 pendaki sempat terjebak. Hal ini menyebabkan…