Demokrasi Ekonomi ala Indonesia

Meski harga BBM bersubsidi untuk sementara waktu tidak jadi naik, keputusan voting rapat DPR menghasilkan keputusan pemerintah dapat menaikkan harga minyak bersubsidi dengan syarat harga rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) pada waktu tertentu naik atau turun lebih dari 15% dari harga asumsi APBN- P 2012.

Yang menjadi pemikiran masyarakat sekarang ini, termasuk kalangan mahasiswa, kenapa negeri ini yang begitu kaya sumber daya alam dan sumber daya tambang, sepertinya tidak dapat menikmati kemurahan Tuhan, karena ekonomi Indonesia secara riil belum mandiri, masih bergantung pada luar negeri.

Padahal dalam sistem demokrasi ekonomi lazimnya rakyat yang seharusnya menguasai ekonomi dengan tingkat kesejahteraan tinggi. Namun di Indonesia kondisi ini kurang terlihat seperti itu. Yang menikmati porsi “kue” pembangunan hanya segelintir orang, sementara banyak anggota masyarakat hanya menjadi penonton pembangunan, bukan aktor.

Kita melihat secara makro indikator ekonomi Indonesia memang cukup bagus, tetapi juga mudah dilihat berbagai kejanggalannya. Seperti banyak pasar tradisional yang memprihatinkan, dan banyak yang terbakar. Namun di sisi lain pasar modern dari minimarket, supermarket, hingga hypermarket, tumbuh pesat hingga ke tingkat kabupaten, bahkan pelosok desa. Kehadiran mereka memukul sektor usaha mikro, kecil dan menengah.

Kondisi sektor pertanian yang dulu pernah jadi unggulan ekonomi di masyarakat, sekarang sangat memprihatinkan. Walau katanya produksi beras surplus, faktanya impor terus berjalan. Garam, gula dan komoditas strategis lainnya yang dulunya swasembada, atau malah bisa mengekspor, sekarang hampir semuanya harus impor. Dikhawatirkan masa depan kejayaan sektor pertanian hanyalah cerita masa lalu, yang lambat laun bisa menghilang dari bumi Indonesia.

Kemandirian ekonomi Indonesia idealnya dapat tercapai di tengah sumber daya alam, mineral, dan hasil tambang begitu melimpah. Ada sebagian pihak mengatakan kualitas SDM kita masih rendah, tetapi faktanya banyak orang Indonesia yang cerdik dan pandai. Hanya persoalannya, kita tidak memperlakukan mereka sebagaimana mestinya sehingga banyak yang mencari kerja di luar negeri. Mereka memilih bekerja di luar negeri karena di sana lebih menghargai orang yang berkualitas dengan kompetensi tertentu.

Banyak pakar asing menilai kalau Indonesia dikelola secara benar bisa menjadi negara besar dengan kesejahteraan rakyat yang tinggi dan merata. Mahasiswa sebagai pemegang tongkat estafet masa depan menyadari hal ini. Mereka paham bahwa BBM seperti beras yang merupakan komoditas strategis dan juga politis sehingga momen rencana kenaikan harganya ditentang.

Kesadaran menciptakan kemandirian ekonomi begitu penting untuk terus diperjuangkan sampai terwujud. Menurut sejumlah guru besar ekonomi, salah satu kuncinya adalah para pemimpin yang harus memperjuangkannya supaya berbagai kondisi ke arah pelaksanaan demokrasi ekonomi dapat tercapai. Para pemimpin yang bercirikan masyarakat yang paternalistik, sejatinya perlu menjadi panutan.

Jadi, harga BBM bersubsidi seharusnya tidak perlu dinaikkan jika pemerintah tanggap, termasuk memperbaiki sarana dan prasarana pengolahan minyak di dalam negeri, menerapkan kebijakan efisien dan efektif terkait kerja sama eksplorasi. Yang terpenting adalah mewujudkankemandirian sektor pertambangan dan energi mengingat lokasi sumbernya ada di Indonesia.

Related posts