Emiten Rokok Teriak Bakal Ganggu Ekosistem IHT - Imbas Kenaikan Cukai Rokok 23%

NERACA

Jakarta – Keputusan pemermintah yang akan menaikkan cukai rokok rata-rata sebesar 23% mulai Januari 2020 menjadi pil pahit bagi emiten produsen rokok yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pasalnya, dampak kebijakan tersebut akan menekan kinerja penjualan perseroan.

Merespon hal tersebut, Legal & External Affairs Director Bentoel Group, Mercy Franscisca Hutahaean dalam soaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, rencana kenaikan cukai yang tinggi sebagaimana telah dimuat di berbagai media tentunya tidak kami duga sebelumnya, Meski demikian, PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) berharap ada kebijaksanaan dari pemerintah dalam hal ini, yaitu dengan tetap memperhatikan suara dari mayoritas industri dan para petani.“Selama ini, kami secara konsisten terus berupaya mengembangkan usaha industri tembakau di Indonesia, termasuk berkontribusi di bidang ekspor yang kami percaya akan memberikan dampak positif kepada perekonomian Indonesia,"ujarnya.

Sementara Direktur PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP), Troy Modlin menilai, kenaikan cukai rokok sebesar 23% mengejutkan dan akan mengganggu ekosistem industri hasil tembakau (IHT) nasional. Sampoerna juga memberikan beberapa rekomendasi kepada pemerintah terkait kebijakan tarif cukai ke depan. Pertama, jika pemerintah bermaksud untuk memberlakukan kebijakan cukai yang dapat mendukung kelangsungan penyerapan tenaga kerja, Sampoerna merekomendasikan agar pemerintah menutup celah cukai pada sigaret buatan mesin sesegera mungkin. Yakni dengan menggabungkan volume produksi Sigaret Putih Mesin (SPM) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM) menjadi 3 miliar batang per tahun.

Kedua, memastikan tarif cukai SKM/SPM lebih tinggi secara signifikan dari tarif cukai Sigaret Kretek Tangan (SKT). "Terakhir, kami meminta kepada Pemerintah untuk mempertahankan batasan produksi untuk SKT golongan 2 sebesar maksimal 2 miliar batang per tahun,” ujar Troy.

Troy menegaskan, pemerintah akan mencapai tujuannya melalui rekomendasi tersebut sekaligus menciptakan lingkungan persaingan yang adil bagi para pelaku industri. Tidak hanya itu, Pemerintah diminta mempertimbangkan untuk memperlebar jarak tarif cukai untuk segmen Sigaret Kretek Tangan (SKT) dari rokok mesin SKM atau SPM. Melalui penggabungan batasan produksi rokok mesin SPM dan SKM, maka produk-produk rokok mesin, khususnya dari pabrikan besar, tidak bersaing langsung dengan rokok tangan SKT.

Hal senada juga disampaikan Ketua Umum Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri), Henry Najoan, keputusan kenaikan cukai rokok sangat disesalkan karena dinilai memberatkan industri hasil tembakau. Menurutnya, bila cukai meningkat menjadi 23% dan harga jual eceran meningkat sebesar 35% di 2020, maka industri harus menyetor sekitar Rp 185 triliun, belum termasuk pajaknya. "Dengan demikian setoran kami ke pemerintah bisa mencapai Rp 200 triliun. Belum pernah terjadi kenaikan cukai dan harga jual eceran yang sebesar ini. Benar-benar di luar nalar kami," ujarnya.

Rencana kenaikan cukai ini, menurut Henry, tidak pernah dikomunikasikan dengan kalangan industri. "Selama ini, informasi yang kami terima rencana kenaikan cukai dikisaran 10%, angka yang moderat bagi kami meski berat," tambahnya. Menurut Henry, masalah lain yang akan dihadapi industri adalah terkait peredaran rokok ilegal. Menurutnya, saat cukai rokok naik 10%, peredaran rokok ilegal semakin marak.

BERITA TERKAIT

Dukung Pasar Modal Syariah - Tren Layanan Wakaf Saham Bakal Tumbuh

NERACA Jakarta – Mengoptimalkan produk layanan pasar modal syariah, beberapa perusahaan manajer investasi terus berinovasi dengan menghadirkan layanan menjawab kebutuhan…

Sidang Bangun Cipta Kontraktor - PN Minta Lengkapi Legal Akta Perusahaan

NERACA Jakarta - Menyoal permohonan perusahaan asal Selandia Baru, H Infrastructure Limited (HIL) kepada Pengadilan Niaga (PN) pada Pengadilan Negeri Jakarta…

IPO Itama Ranoraya Oversubscribed 34,96 Kali

NERACA Jakarta – Penawaran umum saham perdana PT Itama Ranoraya mendapatkan respon positif dari investor. Dimana berdasarkan hasil penawaran di…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Modernland Realty Raih The 11th IICD GCG Award 2019

PT Modernland Realty Tbk. (MDLN) berhasil meraih penghargaan dalam acara The 11th IICD Corporate Governance Conference & Award 2019 yang…

Rencanakan Divestasi Saham - Vale Indonesia Matangkan Transaksi Dengan Inalum

NERACA Jakarta – Setelah pertemuannya dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di istana September lalu mendapatkan dukungan soal rencana divestasi, kini…

Ketapatan Laporan Keuangan - BEI Catatkan 12 Emiten Belum Rilis Keuangan

NERACA Jakarta – Meskipun kepatuhan dan kedispilinan emiten dalam penyampaian laporan keuangan terus meningkat, namun pihak PT Bursa Efek Indonesia…