Tambah Utang Bikin Susah Pemerintah

NERACA

Jakarta--- Pemerintah belum memilki rencana menambah utang baru. Bahkan memilih untuk melakukan penghematan nasional guna menjaga agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2012 tetap sehat dan aman. "Menambah utang bukan pilihan kita, karena akan menyusahkan pemerintah, pemerintahan yang akan datang, akan menyusahkan generasi yang akan datang," kata Presiden Yudhoyono di Jakarta,4/4

Menurut Presiden guna menghindari tekanan dan menjaga agar APBN Perubahan tetap sehat dan ekonomi terus bergulir dengan baik seiring dengan tidak dinaikannya BBM bersubsidi oleh pemerintah, maka langkah-langkah penghematan secara nasional dibutuhkan.

Gerakan penghematan ini diperlukan guna menekan agar defisit APBN tidak melampaui 2,23% seperti ditetapkan undang-undang. Gerakan ini akan dipimpin secara langsung oleh Presiden. "Bulan April ini saya akan memimpin langkah marathon kita tiap minggu kita juga bekerja, sehingga Insya Allah pada awal Mei kita berlakukan kebijakan kita sebuah gerakan penghematan nasional," paparnya

Bahkan Presiden meminta dukungan kepada seluruh masyarakat luas, dunia usaha, dan seluruh pemerintahan baik di pusat maupun daerah agar gerakan ini dapat berjalan dengan baik. Selain itu, juga memastikan kebijakan yang akan diberlakukan jelas dan terarah serta dengan program aksi yang jelas pula.

Presiden menambahkan, penyelamatan perekonomian nasional sangatlah penting disadari oleh seluruh komponen masyarakat Indonesia. Apalagi saat ini, perekonomian dunia juga masih diliputi oleh rasa ketidakpastian. "Kemudian manakala sekali lagi harga BBM tidak perlu kita naikkan, kita bisa pastikan bahwa tahun 2012 ini kita aman dan tidak perlu ada masalah yang dihadapi oleh rakyat kita," ujarnya

Ditempat terpisah, Lembaga pemeringkat internasional Fitch tetap memberikan peringkat utang Indonesia pada posisi BBB- meski terjadi penundaan kenaikan harga bahan bakar minyak. "Keputusan untuk menunda kenaikan harga BBM tidak mengubah peringkat kredit Indonesia sebagai negara layak investasi pada posisi BBB-," demikian siaran pers Fitch Rating

Namun penundaan tersebut menunjukkan momentum untuk mengubah harga BBM tampaknya akan terhambat saat ini hingga pemilu presiden 2014. "Upaya untuk menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar 33 persen merupakan upaya yang lebih ambisius dibanding perubahan kebijakan subsidi yang dimaksud pemerintah saat kami menaikkan peringkat utang Indonesia pada Desember tahun lalu," demikian tertulis.

Fitch menilai bila harga BBM bersubsidi dinaikkan maka akan berdampak positif pada peringkat utang Indonesia, membatasi dampak fiskal karena meningkatnya harga minyak dan menambah fleksibilitas fiskal.

Manfaat tersebut dapat timbul karena pemerintah memiliki hak untuk menaikkan harga BBM di masa depan karena pertimbangan harga minyak dalam negeri dan kondisi yang ditetapkan pada APBN-Perubahan. "Namun bila pemerintah tidak menaikkan harga maka rencana pembelian barang modal akan terkena dampak sehingga membatasi kemampuan pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur dan mengatasi hambatan suplai," ungkap Fitch.

Fitch mengakui bahwa ada kemungkinan peningkatan inflasi bila harga BBM dinaikkan namun "inflation expectations" cenderung tetap tinggi karena perkiraan kenaikan harga.

Profil kredit Indonesia, menurut Fitch, memiliki toleransi yang lebih besar atas kelemahan struktrural dibanding kebijakan moneter yang longgar.

Fitch juga meyakini Bank Indonesia bila dibutuhkan akan memperketat kebijakan moneternya, namun hal tersebut di masa lalu masih menjadi wilayah yang mengkhawatirkan karena bias dalam kebijakan BI. "Kami memandang bahwa sudah terjadi upaya informal menuju pemilu 2014 dan hal itu dapat memperlambat kinerja pemerintah dan pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya dapat memperkuat profil utang Indonesia dalam jangka panjang," tambah Fitch. **cahyo

Related posts