BI Optimis Inflasi Inti Tetap Terjaga

BI Optimis Inflasi Inti Tetap Terjaga

Jakarta-Bank Indonesia (BI) mengaku laju inflasi inti masih bisa terjaga pada level 4,36%. Sehingga bisa dikatakan untuk sementara ini situasi ekonomi Indonesia masih aman. “Karena inflasi inti masih rule of thumbs (terjaga), kita jaga di bawah 5%," kata Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono kepada wartawan di Jakarta, 12/3

Lebih jauh kata Hartadi, sekarang ini BI melihat inflasi inti masih terpantau pada kisaran 4,36%. Bisa dikatakan gejala ini jauh dari indikator overheating rata-rata di 7%. "Lihat saja saat ini inflasi sekitar 4,36%," tambahnya.

Namun diakui Hartadi, masalah laju inflasi tinggi tak hanya dialami Indonesia, tapi juga negara lain akibat kenaikan harga pangan dunia. “hampir semua negara mengalami tekanan inflasi. Karena pangan,”tegasnya.

Yang jelas, kata Hartadi, BI melihat dalam jangka pendek ini justru ada potensi besar untuk menyegarkan demand dengan cara menambah pasokan barang. Sehingga inflasi bisa ditekan. "Bukan demand ditekan, tapi suplai yang ditambah. Demand yang disesuaikan," tuturnya

Menyinggung soal ancama overheating, lanjut Hartadi, BI meragukan hal itu. Karena tanda-tanda ke arah itu masih jauh. “Overheating biasanya, kalau output gap-nya mengecil, demand meningkat, suplai terbatas. Intinya, overheating belum kita lihat prioritasnya," paparnya

Sementara itu, pengamat ekonomi Fauzi Ichsan mengakui tekanan inflasi masih cukup tinggi. Tapi disebabkan konflik politik di Timur Tengah. ‎​"Neraca berjalan masih surplus. Inflasi inti masih di bawah 5%. Belum overheating. Memang inflasi tinggi tapi pangan yang terpicu karena konflik politik.

Hanya saja, lanjut ekonom Standar Chartered ini menambahkan berbeda kalau krisis Timur Tengah sudah meluas ke Arab Saudi yang bisa menyebabkan minyak tak terkendali “Kalau Timteng meluas ke negara lain, Iran, Arab, harga minyak akan lebih tinggi. Akibatnya inflasi dunia naik tidak hanya Indonesia. Jadi beda dengan ekonomi overheating, sehingga inflasi inti naik," jelasnya.

Bank Sentral pun, dianggap Fauzi sudah tepat menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate secara bertahap. Ini sekaligus menunjukkan perhatian BI untuk mengatasi ekspektasi inflasi.

Pandangan berbeda soal ancaman overheating datang dari ekonom Mirza Adityaswara yang sepakat mulai adanya tanda-tanda ancaman overheating. "Arah menuju overheating itu sudah kelihatan. Impor naik, terutama impor barang konsumsi, minyak sehingga naik terus defisit perdagangan minyak," ujarnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Pasar Apartemen Tetap Tumbuh di Tahun Politik

NERACA Jakarta –Meskipun tahun depan dihantui sentimen politik, para pelaku properti menyakini industri properti masih tetap positif. Apalagi, properti masih…

Banten November Alami Inflasi 0,35 Persen

Banten November Alami Inflasi 0,35 Persen NERACA Serang - Provinsi Banten pada bulan November 2017 mengalami inflasi 0,35 persen dibandingkan…

Jelang Tutup Tahun, JICT Tetap Komitmen Berikan Layanan Terbaik

Jelang Tutup Tahun, JICT Tetap Komitmen Berikan Layanan Terbaik NERACA Jakarta - Jelang tutup tahun, bukan berarti kegiatan semakin sepi…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Menkeu Harap Swasta Makin Banyak Terlibat di Infrastruktur

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap makin banyak pihak swasta yang terlibat dalam pembangunan…

Menggenjot Skema KPBU di Sektor Pariwisata

    NERACA   Jakarta - Sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang tumbuh secara masif di tahun ini. Bahkan,…

BPJS Ketenagakerjaan Siapkan Layanan Digital

      NERACA   Jakarta - Era digital menuntut semua pihak untuk dapat memenuhi tuntutan pelanggan dengan mudah dan…