Pertumbuhan Ekonomi Hanya 6,1% - Prediksi Bank Dunia

NERACA

Jakarta--Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2012 hanya mencapai kisaran 6,1%. Alasanya pertumbuhan ekspor yang melambat dan adanya ekspektasi atas kenaikan harga BBM bersubsidi. "Pertumbuhan ekonomi pada 2012 mencapai 6,1%, di bawah angka proyeksi yang kami paparkan pada Desember 2011 sebesar 6,2%," kata Kepala Ekonom Bank Dunia Shubham Chauduri di Jakarta, Rabu.

Menurut Shubham, pertumbuhan ekspor diperkirakan masih melemah dan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan karena perekonomian global masih rapuh serta belum sepenuhnya membaik.

Kondisi tersebut diperparah dengan adanya kenaikan harga minyak dunia yang makin sulit diprediksi dan meningkat setiap bulannya, sehingga ikut mempengaruhi pemerintah untuk mengajukan APBN-Perubahan. "Dalam tiga bulan rataan harga minyak mencapai 122 dolar per barel, apabila situasi ini bertahan hingga akhir tahun maka harga rataan minyak akan mencapai kisaran 125 dolar AS per barel," tambahnya

Namun, lanjut Shubham, pemerintah justru menunda kenaikan harga BBM bersubsidi, yang dapat mendorong defisit anggaran diatas tiga persen karena adanya peningkatan anggaran subsidi energi. Situasi ini dapat menimbulkan ketidakpastian terhadap pasar domestik dan global karena ekspektasi atas kenaikan harga BBM bersubsidi telah terjadi serta kemungkinan akan mendorong laju inflasi. "Apabila ada penundaan, artinya ada ketidakpastian yang berpengaruh pada pasar. Jadi ada baiknya apabila pemerintah menaikkan harga BBM sekarang daripada nanti-nanti," paparnya.

Lebih jauh kata Shubham, kondisi ini hanya terjadi pada tahun ini, karena pada 2013 pertumbuhan diprediksi akan meningkat hingga 6,4%. Karena perekonomian global diperkirakan mulai membaik. "Namun, perkiraan pertumbuhan masih bisa terdorong keatas atau kebawah tergantung apakah resiko dalam pertumbuhan ekonomi dapat diminimalisir," ujarnya.

Shubham menyarankan kepada pemerintah agar subsidi energi yang jumlahnya mencapai Rp225 triliun sebaiknya mulai dikurangi, sehingga pemerintah memiliki anggaran berlebih untuk membangun sarana infrastruktur dan pendidikan. "Kita harus mengurangi subsidi energi khususnya bahan bakar minyak dan mengarahkan anggaran kepada investasi untuk pembangunan sarana infrastruktur, dan sumber daya manusia melalui pengembangan sarana pendidikan. Ini adalah keputusan yang bijak," tukasnya

Dikatakan Shubham, harga minyak dunia yang sulit untuk diprediksi, membuat pemerintah mengajukan APBN-Perubahan lebih cepat dari waktu semula, dan menambah anggaran subsidi untuk BBM. Kenaikan anggaran subsidi selalu terjadi setiap tahun, namun subsidi ini selalu menguntungkan rumah tangga yang mampu daripada masyarakat kurang mampu yang benar-benar membutuhkan. "Subsidi BBM lebih menguntungkan rumah tangga kaya daripada mereka yang miskin, karena 40 persen manfaat langsung dari subsidi dinikmati oleh 10 persen rumah tangga terkaya," ucapnya. **bari

Related posts