DPR Dorong Pemerintah Rem Pertumbuhan Industri Otomotif - Pangkas Subsidi BBM

NERACA

Jakarta – Di tengah pertumbuhan industri otomotif yang terus menanjak hingga 8,5% pada 2011 lalu, Dewan Perwakilan Raktat (DPR) justru mendorong pemerintah untuk mengerem pertumbuhan sektor otomotif untuk mendukung program pemangkasan subsidi bahan bakar minyak (BBM) sepanjang 2012 dan tahun-tahun selanjutnya.

“Untuk mengurangi konsumsi BBM bersubsidi, sebaiknya pemerintah mengerem laju pertumbuhan otomotif yang terlalu tinggi. Pasalnya konsumsi dari kendaraan yang terlalu banyak ini menyebabkan pemakaian BBM bersubsidi tidak mengenai sasaran. Seharusnya BBM bersubsidi ini diprioritaskan untuk masyarakat dengan penghasilan rendah, bukan untuk masyarakat kelas menengah ke atas,” ungkap anggota Komisi VII DPR, Satya Wira Yudha, di Jakarta, Rabu (4/4).

Volume konsumsi bahan bakar minyak pada tahun ini, lanjut Satya, juga diperkirakan jebol dari target 40 juta kiloliter. Pasalnya pertumbuhan industri otomotif sangat tinggi sehingga mendorong konsumsi BBM melambung tinggi, terlebih setelah DPR menolak rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Satya mengatakan, berkaca pada 2011, pertumbuhan mobil tiap tahun mencapai 900 ribu unit dan motor 7 juta unit. Hal inilah yang menyebabkan kuota 2011 melebihi ketentuan. "Jadi itu karena pertambahan motor dan mobil," ujarnya.

Penyebab lain, sambung Satya, jebolnya kuota BBM bersubsidi adalah migrasi pengguna BBM non subsidi menjadi subsidi, karena harganya terus melambung. Selain itu ditambah pula tingginya tingat penyeludupan BBM. Atas pertimbangan inilah Satya menyatakan bahwa kemungkinan konsumsi BBM kembali tembusnya kuota yang ditetapkan dapat terjadi. "Tahun ini pun (2012) akan terjadi over kuota, karena usul 43 juta kl, yang disetujui hanya 40 juta kl. Nanti akan tembus lagi," ujar Satya.

Agar Tepat Sasaran

Di tempat yang sama, sebagai solusi banyaknya mobil mewah menggunakan bensin premium yang masih disubsidi, Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo mengusulkan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) jualan bensin premix RON 90 seharga Rp 7.200. Harga bensin premix Rp 7.200 ini menurut Widjajono masih disubsidi oleh pemerintah. Namun subsidinya tidak besar dibandingkan bensin premium yang saat ini harganya Rp 4.500 dan disubsidi Rp 4.000 per liter. "Pembakarannya baik, harganya tidak terlalu mahal, tapi negara tetap subsidi, tapi subsidinya lebih kecil dibandingkan subsidi premium," katanya.

Widjajono yakin alternatif bahan bakar ini akan diterima masyarakat. "Karena selama ini kan sudah banyak orang yang mencampur Pertamax dengan premium, biar bahan bakarnya tidak terlalu jelek. Artinya pasarnya kan ada, jadi kenapa tidak," ujarnya.

Namun dirinya yakin, kalau pemerintah memerintahkan Pertamina untuk buat premix dengan RON 90 bisa segera dilaksanakan. "Kalau diperintahkan, besok bisa, tapi perlu waktu juga, tapi tidak susah, kan Pertamina punya premium, pertamax, pertamax plus, apa susahnya sih tinggal di blend," tandasnya.

Menurut Widjajono, premix RON 90 merupakan solusi terbaik untuk pengendara mobil sehingga tidak menggunakan premium yang oktannya rendah dan bisa merusak mesin kendaraan. "Kan, ada orang berpikir, mau pakai BBM non subsidi tapi harganya terlalu tinggi, tapi kalau pakai BBM bersubsidi tidak tega makan subsidinya terlalu besar. Maka kenapa kita tidak memberikan pilihan di tengahnya, yakni campuran antara BBM bersubsidi dan non subsidi, harganya di tengah," kata Widjajono.

Widjajono juga mengungkapkan, dirinya tak rela subsidi energi sebesar Rp 225 triliun banyak dihabiskan untuk subsidi BBM. Harusnya energi alternatif mulai dikembangkan. "Saya tidak rela subsidi minyak habis hanya untuk BBM. Karena selain tidak memberikan kesempatan energi alternatif lain berkembang, besarnya subsidi hanya habis terbuang, sementara infrastruktur lain terhambat," papar Widjajono.

Dia menjelaskan, sebaiknya subsidi energi sebesar itu lebih baik digunakan untuk buat jalan, kapal, pesawat terbang, mobil, dan infrastruktur energi lain seperti gas dan transportasi umum. "Waktu saya jadi pembicara di kampus-kampus seperti Balikpapan, Medan, di Kupang, kenapa BBM harus naik, mereka mengerti dan tidak ada yang demo. Saya bilang kalau subsidi BBM dibuat bangun infrastruktur, buat pesawat terbang, kapal, mobil jadi hebat negara kita. Waktu kantor saya didemo mahasiswa Trisakti, saya ajak ngomong mereka, saya jelaskan kenapa BBM harus naik, mereka jelas, selesai kita malah foto-foto," ujarnya lagi.

Seperti konversi BBM ke gas, Widjajono mempunyai ide, bagaimana biar jalan, converter kit ditanggung bersama antara pemerintah, pengguna, pengusaha SPBG dan lainnya. "Jadi harga converter kit bisa ditekan, syukur harganya bisa Rp 6 juta, jadi masak Rp 6 juta orang yang punya mobil nggak mau, sementara bagi pengusaha SPBU untuk sementara marginnya turun, tapi kalau makin banyak yang pakai BBG untungnya makin tinggikan," harapnya.

Seperti diketahui, dalam APBN-P 2012, pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi energi Rp 225 triliun dengan rincian subsidi BBM Rp 137 triliun, subsidi listrik Rp 65 triliun, dan cadangan risiko fiskal energi Rp 23 triliun.

Related posts