Topang Daya Saing Industri, Kemenperin Cetak SDM Sektor Logistik

NERACA

Jakarta – Kementerian Perindustrian siap mencetak sumber daya manusia (SDM) kompeten dalam menopang sektor logistik yang akan membawa pada peningkatan daya saing industri nasional. Hal ini diwujudkan melalui penambahan program studi Diploma 1 (D1) Distribusi dan Transportasi di Politeknik Akademi Teknik Industri (ATI) Padang, Sumatera Barat.

“Sektor logistik semakin tumbuh pesat seiring bertambahnya industri di dalam negeri, yang tentunya membutuhkan pendistribusian barang secara efektif dan efisien,” kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin Eko S.A Cahyanto di Jakarta, disalin dari keterangan resmi.

Menurut Eko, pemerintah telah mendorong pembangunan sejumlah infrastruktur logistik di wilayah-wilayah strategis termasuk di sentra atau kawasan industri. “Sebab, penyediaan infrastruktur logistik yang memadai akan memacu pula peningkatan investasi di sektor industri,” jelasnya.

Apalagi, aktivitas industrialisasi konsisten memberikan dampak berganda bagi perekonomian nasional, baik itu penerimaan devisa maupun penyerapan tenaga kerja. Namun demikian, SDM terampil menjadi faktor utamanya.

“Pemerintah saat ini fokus pada pengembangan kualitas SDM. Kita ingin SDM unggul untuk mencapai visi Indonesia maju. Hal ini juga untuk menangkap peluang bonus demografi yang akan dinikmati Indonesia,” ungkap Eko.

Oleh karena itu, Kemenperin terus gencar melaksanakan berbagai program pendidikan dan pelatihan vokasi. Contohnya, mendorong hadirnya prodi D1 untuk memenuhi permintaan industri terhadap tenaga kerja yang dapat cepat diserap dan siap kerja dengan kompetensi sesuai kebutuhan saat ini.

“Prodi D1 tujuannya adalah menyiapkan tenaga kerja yang dibutuhkan perusahaan yang tidak menunggu lama. Pasalnya, banyak industri yang mendesak butuh tenaga terampil dan kompeten, maka kami buka prodi D1 untuk tamatan SMA dan SMK,” paparnya.

Menurut Eko, prodi D1 dengan berbagai bidang sudah tersebar di 13 kota di Indonesia. Sedangkan di wilayah Sumatera, ada di Padang dan Palembang. Implementasi program D1 di unit pendidikan vokasi Kemenperin memiliki skema kerja sama dengan industri sehingga semua lulusannya terserap kerja.

“Bahkan, biaya pendidikan bagi mahasiswa, kami kasih gratis. Alokasi anggaran per mahasiswa sekitar Rp10 juta untuk setahun,” sebutnya. Kemudian, dalam proses pembelajarannya, diterapkan metode dual system. “Jadi, porsi belajarnya lebih dominan praktik ketimbang teori,” imbuhnya.

Secara nasional, Kemenperin aktif mendorong pembukaan prodi D1 sejak tiga tahun terakhir di sejumlah unit pendidikan vokasi yang dimilikinya. Untuk prodi D1 distribusi dan transportasi, selain di Politeknik ATI Padang, juga sudah ada di Politeknik APP Jakarta.

“Di Politeknik ATI Padang, sebanyak 30 mahasiswa kini sedang mengikuti perkuliahan D1 distribusi dan transportasi yang 100 persen akan berkerja di industri, karena memang dikehendaki dan dibutuhkan, tentu sepanjang mereka lulus dan mendapatkan sertifikat kompetensi,” tandasnya.

Peluncuran prodi D1 distribusi dan transportasi di Politeknik ATI Padang pada pekan lalu, diresmikan oleh Kepala BPSDMI Eko S.A Cahyato dengan didampingi Kepala Pusat Pengembangan Kejuruan dan Vokasi Industri Kemenperin M. Arifin serta Direktur Politeknik ATI Padang Ester Edward. Pada kesempatan itu, disaksikan langsung Bupati Padang Pariaman Ali Mukhni.

Dalam rangkaian tersebut, dilaksanakan pula penandatangan perjanjian kerja sama antara Politeknik ATI Padang dengan kalangan industri, perguruan tinggi dan lembaga. Sebelumnya, Politeknik ATI Padang sudah memiliki prodi Analisis Kimia, Teknik Industri Agro, Teknik Kimia Bahan Nabati dan Manajemen Logistik Industri Agro.

“Jadi, prodi baru D1 distribusi dan transportasi ini menambah jumlah prodi di kami menjadi lima. Sebanyak 30 mahasiswa angkatan pertama ini juga akan mendapatkan beasiswa dari Kemenperin,” ujar Direktur Politeknik ATI Padang Ester Edward.

Pemerintah terus mendorong peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) dalam kesiapan menyongsong era revolusi industri 4.0. Selain telah melakukan upaya strategis melalui program pendidikan dan pelatihan vokasi yang link and match dengan industri, pemerintah juga sedang membidik kolaborasi antara perguruan tinggi di Indonesia dengan perguruan tinggi top dunia. “Salah satu tantangan saat ini adalah di level universitas,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto di Jakarta, Minggu (25/8).

BERITA TERKAIT

Sika Indonesia Resmikan Pabrik Ketiga di Cibitung

NERACA Bekasi – Perusahaan bahan kimia untuk konstruksi dan industri, Sika semakin mengukuhkan bisnisnya di Indonesia dengan meresmikan pabrik ketiga…

PRS, Solusi Sementara PGN untuk Alirkan Gas Bumi di Jawa Tengah

NERACASemarang - Dengan berdirinya sejumlah kawasan industri baru seperti di Kendal dan Ungaran, menjadi salah satu pertimbangan bagi investor dan…

Menteri Susi Prakarsai Dialog Pemberantasan IUU Fishing

NERACA New York - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kelautan, Peter Thomson,…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Sika Indonesia Resmikan Pabrik Ketiga di Cibitung

NERACA Bekasi – Perusahaan bahan kimia untuk konstruksi dan industri, Sika semakin mengukuhkan bisnisnya di Indonesia dengan meresmikan pabrik ketiga…

PRS, Solusi Sementara PGN untuk Alirkan Gas Bumi di Jawa Tengah

NERACASemarang - Dengan berdirinya sejumlah kawasan industri baru seperti di Kendal dan Ungaran, menjadi salah satu pertimbangan bagi investor dan…

Menteri Susi Prakarsai Dialog Pemberantasan IUU Fishing

NERACA New York - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kelautan, Peter Thomson,…