Eksportir Kopi Minta Pemerintah Perluas Lahan - Dorong Peningkatan Produksi

NERACA

Jakarta - Meskipun jadi salah satu negara penghasil kopi terbesar dunia, Indonesia tahun lalu masih mengimpor kopi Robusta berkisar 40 ribu-50 ribu ton dari Vietnam. Kebutuhan kopi di dalam negeri memang terus meningkat dan sudah mencapai 200 ribu ton. Namun ironisnya di tengah peningkatan permintaan kopi untuk pasar ekspor, produksi kopi Indonesia saat ini relatif stagnan.

Itulah sebabnya, anggota Gabungan Ekspor Kopi Indonesia (Gaeki) Moenardji Soedargo meminta pemerintah memperluas lahan kopi untuk meningkatkan produksi nasional. Tahun ini, lanjutnya, produksi kopi diperkirakan mencapai 600 ribu ton, untuk memenuhi pasar domestik dan sisanya di ekspor. “Volume ekspor tidak bisa dikurangi karena tingginya permintaan dunia terhadap kopi Indonesia. Sedangkan produksi pada 2011 tidak mencapai 400 ribu ton, akibat anomali cuaca,” ujarnya di Kantor Kementerian Perdagangan, Rabu (4/4).

Moenardji menuturkan dengan adanya peningkatan konsumsi dunia yang sangat tinggi, ke depan, dipastikan konsumsi kopi terus meningkat dan tuntutan kualitas juga akan terus meningkat dan dikhawatirkan akan terjadi kekurangan pasokan.

“Sekarang konsumsi kopi dunia sekitar 7,8 juta ton pada tahun lalu. Padahal, pada 15 tahun lalu hanya 4,8 juta ton. Jadi memang terjadi pertumbuhan konsumsi kopi yang cukup besar. Itu menjadi sesuatu yang harus disikapi dan diwaspadai,” katanya.

Tingkatkan Produksi

International Coffee Organization (1CO), lanjut Moenardji, pun tengah meminta negara produsen kopi untuk meningkatkan produksi sekaligus kualitas kopi. Meningkatkan produksi untuk mengamankan jaminan pangsa pasar, negara produsen kopi harus mulai menggalakkan peningkatan produksi di dalam negeri.

"Sambil tetap mengisi pasar ekspor. Sebagai perlindungan sehingga tidak semata-mata mengandalkan pasar ekspor, tetapi juga harus meningkatkan pasokan di dalam pasar domestik,” ungkapnya.

Menurut Moenardji, jika bergantung penuh pada pasar ekspor, akan menyebabkan gejolak ekonomi di negara tujuan, kinerja ekspor akan terganggu sebagaimana yang terjadi pada tahun 2011. Dia optimistis dapat meningkatkan konsumsi kopi di dalam negeri mengingat pasar dalam negeri sangat potensial dan konsumsi domestik meningkat.

"Produsen harus meningkatkan produksi kopi dan juga peningkatan kualitas. Ini penting, karena prospek kebutuhan akan kopi ini sangat besar baik di pasar ekspor maupun di dalam pasar domestik," katanya.

Dia menjelaskan, harga kopi robusta lebih murah dibandingkan dengan kopi Arabika, kendati volume Arabika di pasar dunia mencapai 70%, sedangkan kopi robusta hanya 30%. Berbeda dengan kondisi di Indonesia, justeru produksi kopi robusta mencapai 80%, sedangkan arabika hanya 20% dari total produksi kopi.

Perluasan Lahan

Moenardji menuturkan, Gaeki sudah mengusulkan kepada pemerintah agar ada perluasan perkebunan, sehingga produksi kopi Indonesia bertambah, khususnya jenis arabika. Selain itu, pihaknya akan menaikkan produktivitas untuk kopi jenis robusta dari 700 kg per hektar menjadi 1,5 ton per hektar. Harga kopi arabika saat ini US$7 hingga US$8 per kg, sedangkan robusta US$2 hingga US$2,5 per kg.

Sebagai Executive Vice President PT Aneka Coffee Industry, Moenardji mengakui adanya dominasi pedagang asing dalam perdagangan kopi di dalam negeri, karena telah ada peraturan dari pemerintah yang mengatur perdagangan kopi. "Tapi yang jelas iya, terjadi ketimpangan dalam arti biaya operasi. Perusahaan asing menggunakan sumber dana pembiayaan internasional yang jauh lebih murah dan efisien, sedangkan biaya operasional di dalam negeri ditopang dengan pembiayaan yang lebih mahal,” terangnya.

Menurut dia, telah menjadi permasalahan klasik selama ini untuk itu diperlukan kemampuan pedagang lokal dalam menyiasati persaingan dengan pedagang asing. "Kembali pada bagaimana kiat berdagangnya. Faktor ketimpangan pembiayaan salah satu faktor saja," lanjutnya.

Related posts