Jurus Kemendag Rebut Pasar Non Tradisional - Diversifikasi Pasar Ekspor Ditargetkan Tumbuh 25%

NERACA

Jakarta – Untuk mencapai target pertumbuhan ekspor ke pasar non tradisional sebesar 25% sekaligus mendorong tercapainya target ekspor 2012 sebesar US$230 miliar, Kementerian Perdagangan mengaku tengah mengupayakan beragam jurus untuk menembus pasar non tradisional seperti Afrika. Salah satunya, Kemendag berupaya keras lakukan promosi untuk mendapat akses lebih besar ke pasar non tradisional seperti Afrika Selatan. Pasalnya, hingga saat ini, ekspor Indonesia masih terlalu bergantung pada pasar tradisional seperti Eropa dan Amerika Serikat yang tengah terbelit krisis finansial.

Wakil Menteri Perdagangan RI Bayu Krisnamurthi menjelaskan perlu strategi yang tepat untuk mencapai target ekspor US$230 miliar. Bayu mengakui di tengah krisis yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa saat ini, akan sulit dicapat apabila mengandalkan pasar tradisional, seperti Amerika Serikat. Sehingga, strategi diversifikasi pasar dan dengan meningkatkan nilai tambah produk ekspor (value added) dinilai dapat mencapai tujuan target ekspor 2012.

“Kami melihat peluang yang besar di pasar non tradisional, seperti Afrika Selatan. Afrika Selatan juga berpotensi menjadi pintu masuk bagi produk ekspor dan jasa Indonesia ke pasar yang berada di kawasan Afrika,” ujarnya di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (4/4).

Dengan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) negara yang tergabung dalam blok Southern Afrika Development Community (SADC) tercatat sebesar US$366,2 miliar, dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 3,2% dan PDB per kapita sebesar US$7.249 dan US$10.881 pendapatan per kapita perorangan (PPP). Afrika Selatan yang memiliki jumlah penduduk sekitar 48 juta orang, memiliki daya beli konsumen yang tinggi. Serta situasi politik dan keamanan di negara tersebut juga relatif stabil.

Kementerian Perdagangan mencatat pada 2011, total nilai perdagangan kedua negara mencapai US$2,1 miliar atau naik signifikan sebesar 78,93% dibanding tahun 2010 yang sebesar US$1,1 miliar. Ekspor Indonesia ke Afrika Selatan pada 2011 tercatat US$1,4 miliar, sementara impornya sebesar US$705,7 juta. Sehingga Indonesia mengalami surplus sebesar US$730,8 juta. “Nilai perdagangan Indonesia dengan Afrika masih relatif rendah, maka dari itu berpotensi untuk ditingkatkan,” kata Bayu.

Misi Dagang

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Gusmardi Bustami menjelaskan misi dagang ini merupakan menindaklanjuti misi dagang ke Afrika Selatan yang sudah dilakukan pada akhir tahun 2011 lalu. “Selain partisipan terdahulu, ada beberapa perusahaan di bidang jasa pertambangan yang akan turut berpartisipasi,” ungkapnya.

Perusahaan yang dimaksud Gusmardi, merupakan perusahan yang memiliki pengalaman dalam melakukan usaha di berbagai negara di kawasan Afrika dan Pasifik. “Sehingga, keikutsertaan mereka kali ini, karena berhasil mengindentifikasi adanya peluang ekspor bagi usaha jasa-jasa yang terkait dengan pertambangan di kawasan Afrika,” terangnya.

Gusmardi menyebutkan produk Indonesia yang potensial untuk dipasarkan di kawasan Afrika Selatan, antara lain minyak sawit dan turunannya, kendaraan dan suku cadangnya, the, kopi, kakao, kertas, kulit, kelapa kopra, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, furniture, kerajinan tangan, obat-obatan, produk kesehatan, produk perawatan bayi, produk kecantikan, produk makanan dan minuman, industri monocarboxilate, industri asam fosfat, dan industri kayu.

Sedangkan peluang investasi bagi Indonesia di Afrika Selatan diantaranya di bidang infrastruktur, properti industri kertas, teknologi energi, peternakan, pertanian, pengilangan minyak, industri pariwisata, peralatan pertanina, teknologi pengolahan makanan, pengepakan, jasa transportasi laut, suku cadang kendaraan, permesinan, peralatan elektrik dan indsutri kesehatan.

Related posts