Dunia Usaha Harus Perhatikan Masalah Gizi Pekerja Wanita - Tidak Hanya Sekedar Penuhi CSR

Permasalahan gizi buruk tidak hanya diderita oleh balita atau anak-anak saja, rupanya juga banyak dialami para pekerja perempuan. Masalah gizi buruk yang dialami kebanyakan pekerja peremuan,selain disebabkan oleh stres baik lingkungan maupun beban kerja, wanita juga mengalami menstruasi secara berkala dan cenderung melakukan diet.

Faktor lainnya adalah kurang memerhatikan asupan nutrisi karena alasan sibuk. Padahal, asupan gigi yang kurang ditambah tingkat stres yang tinggi dan polusi bisa menurunkan sistem imunitas tubuh. Akibatnya, jadi mudah terkena penyakit karena virus yang menyerang kurang mendapat perlawanan dari tentara imun. Merespon kondisi tersebut, Kepala Sub Direktorat Pemberdayaan Gizi Masyarakat Kementerian Perencanaan Pembangunan Negara/Badan Pembangunan Nasional, Entos Zaenal meminta pada dunia usaha untuk menyelesaikan masalah gizi pada pekerja perempuan sebagai salah satu upaya penurunan angka kekerdilan.

Entos menjelaskan target penurunan angka stunting hingga 19% pada 2024 harus dilakukan oleh semua pihak termasuk dunia usaha."Untuk dunia usaha, pertama selesaikan dulu masalah pekerjanya, khususnya pekerja wanita. Bukan CSR-nya yang kita kejar, tapi gizi pekerja wanitanya dulu," kata Entos di Jakarta, kemarin.

Dalam peta jalan penurunan angka stunting, dunia usaha dilibatkan untuk menyelesaikan masalah gizi pekerja perempuan yang juga berkaitan dengan gizi anak, edukasi tentang gizi, dan baru setelahnya penggunaan dana tanggung jawab sosial perusahaan untuk masalah gizi. Pemerintah meminta agar dunia usaha memberikan perhatian pada kesehatan pekerja perempuan dengan memberikan waktu istirahat yang cukup, jam kerja yang tidak berlebihan, dan juga fasilitas ruang laktasi.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan meminta dunia usaha untuk memberikan ruang laktasi bagi pekerja perempuan agar bisa memerah susu untuk menyelesaikan program ASI eksklusif pada anaknya. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama pada anak yang dilanjutkan hingga 24 bulan dengan makanan pendamping ASI merupakan salah satu syarat mutlak bagi orang tua untuk mencegah terjadinya kekerdilan pada anak.

Entos menyebutkan, 45% kematian balita di Indonesia berkaitan dengan kekurangan gizi. Intervensi penurunan angka stunting dan perbaikan gizi dilakukan oleh berbagai pihak mulai dari kementerian-lembaga pemerintah, perguruan tinggi dan organisasi profesi, organisasi masyarakat sipil, mitra pembangunan, media, dan dunia usaha serta filantropi.

Asupan Vitamin

Menurut peneliti Puslitbang Gizi dan Makanan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Fitrah Ernawati, penyakit gizi buruk bagi pekerja wanita bisa dicegah bila asupan makanan, sudah memenuhi kelayakan, terutama sayur dan buah yang merupakan sumber antioksidan yang berfungsi menetralkan radikal bebas. Stres dan polusi juga termasuk dalam radikal bebas. Sementara itu, vitamin dan mineral berfungsi membantu kerja berbagai jenis enzim, yang berfungsi sebagai antioksidan.

Kebutuhan zat gizi yang tidak dapat dipenuhi dari makanan, sebenarnya bisa dicukupi dari konsumsi suplemen multivitamin. Berdasarkan penelitian dan timnya menunjukkan, pekerja wanita yang mendapat suplemen multivitamin dan mineral memiliki kadar vitamin E dan kadar superoxide dismutase cukup tinggi. Vitamin E adalah antioksidan yang dapat memutus rantai radikal bebas melalui beberapa proses. Sedangkan superoxide dismutase (SOD) adalah enzim yang berfungsi untuk memperbaiki sel dan mengurangi kerusakan sel yang ditimbulkan oleh superoksida; radikal bebas yang terdapat dalam tubuh. "SOD berfungsi ganda sebagai antioksidan dalam tubuh dan menetralkan radikal bebas yang dapat menyebabkan keriput dan perubahan sel pada tubuh," kata Rimbawan, Ketua peneliti dari Departemen Gizi Masyarakat IPB.

Penelitian dilakukan terhadap 150 karyawati yang bekerja di pabrik garmen di kawasan Bogor. Mereka dianggap rentan kekurangan gizi mikro dan terpapar stres oksidatif di tempat kerja. Penelitian dilakukan selama 70 hari dengan membagi sampel ke dalam dua kelompok besar, yaitu mereka yang diberi suplemen multivitamin dan plasebo. Hasilnya, redoxon fortimun, suplemen multivitamin dan mineral, terbukti meningkatkan 47% kadar SOD yang menetralisasi radikal bebas dalam tubuh.

Oleh karena itu, persoalan gizi buruk harus disikapi dengan serius. Pasalya, apalah artinya pertumbuhan ekonomi tinggi bila warga negaranya masih mengalami derita gizi buruk. Begitu juga dengan Indonesia, meski ekonomi tumbuh baik, Indonesia tak akan menjadi negara dengan ekonomi kuat jika banyak warganya kurang gizi.

BERITA TERKAIT

Selamatkan Teluk Jakarta - Ancol Jernihkan Air Laut Lewat Restorasi Kerang Hijau

Isu lingkungan yakni pencemaran air laut dari sampah plastik masih menjadi perhatian besar karena Indonesia menjadi negara peringkat kedua dengan…

Indocement Bantu Masyarakat Atasi Krisis Air Bersih

Air menjadi sumber kebutuhan hidup manusia, namun tidak semua masyakat Indonesia memiliki sumber akses air yang layak dan bahkan masih…

IndiHome Digital Learning - Telkom Fasilitasi Pemerataan Kualitas Pendidikan di Papua

Sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam pemerataan pendidikan di Indonesia, khususnya bagi milenial Papua. PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk…

BERITA LAINNYA DI CSR

Menjaga Eksistensi Warisan Nenek Moyang - Festival Pesona Lokal Membawa Cerita di Masa Kecil

Bandung Paris Van Java atau Paris dari Jawa adalah sebutan yang tidak asing lagi untuk menggambarkan kota Bandung yang terkenal…

Peduli Budaya Suku Pedalaman - Menteri BUMN Berikan Bantun Peletarian Suku Badui

Pesatnya dan majunya perkembangan zaman, tidak membuat eksistensi suku Badui sebagai suku terdalam di Lebak, Banten ikut punah. Bahkan sebaliknya,…

Bank Muamalat dan BMM Renovasi Rumah Warga Sukabumi

Rumah sebagai tempat tinggal atau berlindung merupakan kebutuhan pokok dari masyarakat, namun seiring dengan membengkaknya harga tanah tiap tahunnya membuat…