Demi Perkuat Manufaktur, Pemerintah Berupaya Buka Akses Pasar - Perdagangan Internasional

NERACA

Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita akan terus berupaya untuk membuka akses pasar yang lebih besar melalui berbagai perjanjian perdagangan sehingga diharapkan dapat memperkuat kinerja industri manufaktur.

"Kalau manufaktur dan industri lain sudah ada, persoalannya bagaimana memasarkannya, yaitu dengan membuka akses pasar dengan berbagai perjanjian perdagangan yang kami lakukan. Ini dapat mengejar ekspor di tengah ketidakpastian permintaan dunia," ujar Enggartiasto Lukita usai Rapat Koordinasi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan Bank Indonesia (Rakorpusda) di Jakarta, sebagaimana disalin dari Antara.

Saat ini, lanjut Mendag, pihaknya menargetkan dapat menyelesaikan tiga perjanjian dagang hingga akhir tahun ini sehingga turut mendorong kinerja ekspor dan investasi di Indonesia. "Sampai hari ini, sudah ada 14 perjanjian perdagangan dalam kurun waktu tiga tahun, hingga akhir tahun ada tiga lagi, jadi totalnya ada17 perjanjian perdagangan," ucapnya.

Menurut dia, dengan melakukan perjanjian perdagangan dengan negara lain maka akan membuka akses pasar bagi produk-produk Indonesia. Sementara itu dalam Rakorpusda disebutkan, salah satu langkah strategis untuk memperkuat kinerja industri manufaktur guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, berkelanjutan, dan inklusif, yakni mendukung promosi perdagangan dan investasi industri manufaktur melalui fasilitasi negosiasi untuk menjadi pemasok brand global.

Kemudian, percepatan ratifikasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement/IA-CEPA) dan negosiasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Uni Eropa (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement / IEU-CEPA).

Lalu, pemanfaatan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dan Chili (Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement/ IC-CEPA). Penyelenggaraan West Java Investment Summit (IRU-RIRU-GIRU). Kemudian pameran, misi dagang, serta business matching, antara lain Trade Expo Indonesia di Jakarta.

Ekonom dan Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic Mohammad Faisal menyebut ekspor nasional akan bisa terus digenjot bila saja kebijakan yang ada dapat betul-betul membenahi sektor manufaktur di berbagai daerah. "Pertumbuhan ekspor lambat karena industri untuk manufaktur tidak signifikan," kata Faisal.

Faisal mengingatkan bahwa sejak dulu Indonesia seperti terperangkap dengan ekspor yang lebih mengandalkan bahan mentah, seperti dahulu minyak bumi dan kayu gelondongan, serta pada saat ini komoditas kelapa sawit.

Ia menuturkan, berbagai negara maju dapat mencapai ke tahapannya yang sekarang karena mereka dapat mencapai pertumbuhan tinggi dengan ditopang oleh sektor manufakturnya masing-masing. "Karena dengan mendorong industri manufaktur, juga akan mendorong ekspor," katanya.

Di tempat terpisah, Bank Indonesia (BI) akan menggenjot kinerja industri manufaktur berorientasi ekspor dengan membuat sektor itu semakin terhubung antarindustri dan antarwilayah yang bertujuan untuk menekan defisit transaksi berjalan.

"Selama (defisit) current account tidak bisa diatasi, maka pertumbuhan ekonomi tidak bisa naik di atas lima persen," kata Kepala Grup Sektoral dan Regional Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Endi Dwi Cahyo.

Menurut dia, perlu didorong hilirisasi komoditas industri misalnya nikel yang di hilir diproduksi menjadi baterai untuk mobil listrik. Dengan demikian, lanjut dia, akan terjadi koneksi antarindustri dan antarwilayah sehingga bahan baku yang sebelumnya impor dapat ditekan dan pada akhirnya juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Dia menjelaskan strategi yang akan dilakukan yakni dengan integrasi dan koordinasi bertahap dengan fokus pada tiga sektor manufaktur prioritas yakni otomotif, tekstil dan alas kaki. Ketiga sektor itu, kata dia, memiliki daya saing dan merupakan komoditas yang banyak diekspor dibandingkan impor.

Tiga sektor manufaktur prioritas versi BI itu juga dibahas dalam seminar nasional manufaktur dengan menghadirkan industri dan pemerintah daerah. Ia mengungkapkan tiga sektor tersebut akan dibahas dalam rapat koordinasi antara BI, pemerintah pusat di antaranya tujuh kementerian dan pemerintah daerah untuk menggenjot ekspor industri manufaktur itu. "Ini untuk memberi komitmen kebijakan apa yang akan ditempuh untuk mendorong manufaktur," katanya.

BERITA TERKAIT

Sesuai Standar Global, Pertamina Atasi Tumpahan Minyak

Jakarta-Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menilai penanganan tumpahan minyak di perairan Karawang, Jawa Barat, yang dilakukan Pertamina selama dua…

Perdagangan Bilateral - Selaput Biji Pala 5 Ton Senilai Rp1,3 Miliar Diekspor ke India

NERACA Jakarta – Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian melepas ekspor 5 ton komoditas selaput biji pala asal Maluku Utara…

OPEC Pangkas Perkiraan Permintaan Minyak di 2020

NERACA Jakarta – OPEC pada Rabu memangkas perkiraan untuk pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2020 karena perlambatan ekonomi, sebuah pandangan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Sektor Pangan - Ini Sebab Realisasi Impor Daging Sapi Brazil Mundur Hingga 2020

NERACA Jakarta – Perum Bulog menyatakan impor daging sapi sebesar 30.000 ton dari Brazil baru terealisasi pada 2020 atau mundur…

Defisit Industri Elektronik Capai US$12 Miliar

NERACA Jakarta – Dirjen Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Harjanto mengatakan defisit industri elektronik sangat…

Pacu Wirausaha Muda Kreatif Berorientasi Ekspor

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berkomitmen untuk terus memacu pertumbuhan wirausaha muda dalam sektor industri kreatif di Tanah…