Mendorong Investasi Batubara Di Indonesia

NERACA

Investasi batubara di Indonesia memang sangat menggiurkan, dengan sumberdaya alam yang melimpah, Indonesia sebagai sasaran para investor untuk mencari keuntungan, namun hal ini tidak akan membawa keuntungan secara terus menerus bagi rakyat Indonesia.

Pengamat Pasar Modal Ridwan Novayanto megatakan, Eksploitasi sumber daya alam umumnya bersifat padat modal dan memiliki kandungan impor tinggi sehingga memiliki keterkaitan rendah dengan perekonomian dalam negeri. Karena itu pengaruhnya pada perekonomian dan kesejahteraan sangat ditentukan oleh pengelolaan penerimaan negara dari sektor tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, batubara telah memainkan peran yang cukup penting bagi perekonomian Indonesia. Sektor ini memberikan sumbangan terhadap penerimaan negara setiap tahun. Saat ini sekitar 71,1% dari konsumsi batubara domestik diserap oleh pembangkit listrik, 17% untuk industri semen dan 10,1% untuk industri tekstil dan kertas.

Sedangkan ekspor batubara Indonesia ditujukan ke berbagai negara khususnya negara-negara di Asia seperti Jepang, China, Taiwan, India, Korea Selatan, Hongkong, Malaysia, Thailand dan Filipina.

Negara tujuan ekspor lainnya adalah Eropa seperti Belanda, Jerman dan Inggris, serta negara-negara di Amerika. Importir terbesar batubara Indonesia adalah Jepang (22,8%), danTaiwan (13,7%). Berikutnya adalah India dan Korea Selatan yang diperkirakan mencapai 28%.

Menurut catatan Direktorat Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Indonesia, tercatat 251 perusahaan yang melaksanakan penambangan batubara di Indonesia, dimana 71,7% (216 perusahaan) diantaranya merupakan perusahaan swasta nasional dan sisanya perusahaan asing.

Meskipun demikian sekitar 85% dari produksi batubara dihasilkan oleh 9 perusahaan besar diantaranya; Bumi Resources, Adaro, Kideco Jaya Agung, Berau Coal, Indominco Mandiri, dan PT Bukit Asam.

Dalam beberapa tahun kedepan prospek industri batubara diperkirakan masih cukup baik di pasar dalam negeri maupun di pasar global. Ini disebabkan semakin besarnya peran batubara sebagai pembangkit listrik baik di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia.

Dam diperkirakan pula pada masa mendatang peran minyak akan semakin berkurang sebagai sumber energi dan sebaliknya peran batubara dan gas akan semakin besar. Kebutuhan batubara di dalam negeri diperkirakan akan terus meningkat.

International Energy Agency(IEA) memperkirakan konsumsi batubara dunia akan tumbuh rata-rata 2,6% per tahun antara periode 2005-2015 dan kemudian melambat menjadi rata-rata 1,7% per tahun sepanjang 2015-2030.

Meningkatnya konsumsi batubara dunia tidak terlepas dari meningkat pesatnya permintaan energi dunia dimana batubara merupakan pemasok energi kedua terbesar setelah minyak dengan kontribusi 26%.

Peran ini diperkirakan akan meningkat menjadi 29% pada 2030. Sedangkan kontribusinya sebagai pembangkit listrik diperkirakan juga akan meningkat dari 41% pada 2006 menjadi 46% pada2030.

Meningkatnya peran batubara sebagai pemasok energi di masa-masa mendatang, membuat industri ini memiliki daya tarik yang sangat besar bagi para investor tak terkecualidi Indonesia.

Indonesia sendiri mengalami pertumbuhan konsumsi batubara yang cukup spektakuler dalam sepuluh tahun terakhir, yakni dari 13,2 juta ton pada 1997 menjadi 45,3juta ton pada 2007, atau meningkat lebih dari 3 kali lipat (243%). Peningkatan jumlah konsumsi yang sangat tajam tersebut disebabkan meningkat tajamnya permintaan batubara sebagai sumber energi terutama untuk pembangkit listrik, baik di dalam negeri maupun dinegara-negara importir.

Tidak mengherankan apabila sejalan dengan itu jumlah perusahaan pertambangan batubara di Indonesia pun tumbuh pesat khususnya dalam beberapa tahun terakhir.

Related posts