Suri Tauladan Atau Pencitraan?

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Pencitraan seorang pejabat negara terkadang mampu menghipnotis rakyatnya sehingga mengganggap pemimpin sebagai pahlawan yang mampu membawa harapan kehidupan lebih baik dengan alasan ikut merasakan kesusahan yang diderita rakyatnya.

Tengkok saja, sikap garang Menteri Dahlan Iskan yang mengatur kemacetan di jalan tol Semanggi dengan aksi "mengamuk" saat itu mendapatkan pujian dari publik yang sudah memimpikan jalan tol dalam kota yang lengang. Kalaupun macet hanya dibatasi antrean lima kendaraan di depan pintu masuk tol.

Bukan kali ini saja, Dahlan melakukan kebiasaan yang tidak semestinya dilakukan pejabat negara, mulai berkantor dengan menggunakan KRL, hingga teranyar menginap rumah susun sampai di rumah petani miskin saat kunjungan kerja ke Yogyakarta.

Mungkin sangat rasional, bila kehadiran Dahlan di tengah masyarakat sebagai pejabat negara begitu lenggang kangkung tanpa dikawal pengamanan ketat protokol, lantaran ingin mengetahui kepuasan masyarakat terhadap pelayanan pemerintah juga didukung sejarah Dahlan yang berasal dari keluarga miskin.

Tidak hanya Dahlan, sebelumnya ada Wiranto Ketua Umum Partai Hanura dengan makan nasi aking bersama rakyat miskin hingga Joko Widodo calon gubernur DKI Jakarta yang menggunakan KRL dari stasiun Tanah Abang ke Depok untuk memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia.

Saat ini menjadi senjata ampuh bagi pejabat negara dengan mengedepankan pencitraan bisa mengambil perhatian rakyatnya, dan pengalaman inilah yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di setiap kunjungan ke daerah hingga persoalan bantuan langsung tunai (BLT).

Saat ini memang sulit menilai pencitraan yang dilakukan para pejabat negara, apakah murni sebagai bagian sikap pemimpin yang peduli pada rakyatnya ataukah sebagai upaya tipu muslihat meredam kecewaan masyarakat. Pada dasarnya, apa yang dilakukan pejabat negara dengan caranya mengambil hati rakyatnya sah-sah saja dan hal itu dinilai wajar sepanjang diikuti dengan langkah kongkret.

Namun saat ini, belajar dari pengalaman pahit pada pemilu lalu tidak mudah bagi sebagian rakyat menelan mentah begitu saja, setiap pencitraan yang dilakukan pejabatnya. Rakyat sudah lelah dengan segala bentuk pencitaraan pejabatnya sehingga melupakan nasib rakyatnya yang susah.

Memang di negeri ini butuh seorang pemimpin yang dekat dengan rakyatnya dan mampu merasakan kesusahan dan kesulitan rakyatnya, tetapi itu dilakukan dengan solus kongkret jelas dan terukur dan bukan sekedar lip-service.

Sebaliknya, sudah saatnya pejabat negara menyudahi pencitraan yang penuh dengan kebohongan dan kemunafikan. Bagi rakyat yang dibutuhkan saat ini adalah solusi yang kongkret dan suri tauladan dari pemimpin.

Related posts