Regulator Segera Cek Harga Semen Untuk Lindungi Produk Lokal - Dunia Usaha

NERACA

Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengakui ada beberapa semen impor bermerek tertentu yang memiliki harga yang lebih murah dari semen lokal. Untuk itu, dia akan mengkoordinasikan jajarannya guna mengecek kondisi di pasar. Semen bermerek Cina memiliki harga yang relatif lebih murah dari semen lokal.

"Nanti kami cek, karena ada beberapa semen merek tertentu yang produksinya ada di dua-tiga pabrik," ujar Menperin usai rapat dengan Komisi VI DPR di Gedung Nusantara I Komplek Parlemen RI Jakarta, seperti disalin dari laman kantor berita Antara.

Ia menambahkan semen bermerek Cina memiliki harga yang relatif lebih murah dari semen lokal. Beberapa semen bermerek Cina yang beredar di antaranya Conch, Hippo dan lainnya. Semen Hippo ukuran 50 kilogram di Jakarta dijual seharga Rp47.000 per sak. Jika dibandingkan dengan semen lokal merek Tiga Roda yang dijual seharga Rp54.400 per sak di Jakarta. Ada selisih sekitar Rp7.000 antara semen bermerek China dan lokal.

Perbedaan harga juga terjadi pada semen ukuran 40 kilogram. Di salah satu toko e-commerce, semen bermerek China Conch ukuran 40 kilogram di Jakarta dibanderol sekitar Rp34.300 per sak. Sementara untuk semen lokal Tiga Roda ukuran 40 kilogram dijual dengan harga sekitar Rp39.800 per sak.

Kinerja industri semen meningkat pada 2019 dibanding dengan 2018, karena didorong upaya pemerintah untuk terus menciptakan iklim usaha yang kondusif di Tanah Air.

Menperin terus mendorong peningkatan konsumsi semen di pasar domestik melalui beberapa peluang proyek yang sedang berjalan, terutama yang dicanangkan oleh pemerintah.

Misalnya, program pembangunan sektor infrastruktur, properti, dan manufaktur. Langkah lainnya, Kemenperin mengarahkan industri penggilingan semen (grinding plant) di dalam negeri yang menggunakan bahan baku klinker, diharapkan dapat menyerap dari produksi lokal, sebagau upaya mengurangi impor produk serupa.

Airlangga menjelaskan kebijakan-kebijakan tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk menjaga iklim usaha tetap kondusif sehingga industri semen nasional dapat tumbuh dan berkembang. “Kami juga mendorong diversifikasi produk barang-barang dari semen serta penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) semen secara wajib,” imbuhnya.

Airlangga Hartarto menyebut kekhawatiran Federasi Serikat Pekerja Industri Semen Indonesia (FSP ISI) atas impor produk semen asal China berakar dari masalah persaingan.

Ia pun menyebut aksi jual rugi (predatory pricing) yang diduga dilakukan oleh perusahaan semen asal China di pasar Indonesia bukan masalah utamanya. "Ini masalahnya bukan itu (predatory pricing), masalahnya persaingan," ujarnya ditemui di Kemenko Kemaritiman Jakarta, sebagaimana disalin dari laman Antara.

Airlangga menjelaskan semen merupakan salah satu produk yang sangat lokal, di mana hanya bisa diproduksi di dalam negeri dengan bahan baku di negara tersebut. Jika Indonesia mengimpor semen dari China, maka harga produk tersebut seharusnya jauh lebih mahal dari semen produksi domestik. "Semen itu sangat lokal, tidak untuk impor. Lagipula impor itu kan bayar PPN, PPh, itu saja sudah 20 persen. Harga impor dan domestik bedanya sudah besar," katanya.

Airlangga pun mengaku akan melakukan upaya teknis untuk menangani masalah tersebut. Terkait dugaan predatory pricing yang dilakukan perusahaan semen asal China, Wasekjen Partai Gerindra Andre Rosiade dan Federasi Serikat Pekerja Industri Semen Indonesia (FSP ISI) bertemu dengan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko untuk audiensi pada Senin (2/9).

Andre juga telah melaporkan hal tersebut kepada Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) karena dianggap melanggar UU Nomor 5 Tahun 1999 pasal 20 tentang aktivitas jual rugi (predatory pricing) yang dilakukan oleh pabrik semen asal China.

Andre mengatakan terdapat sinyal jual rugi yang dilakukan oleh semen China dengan indikasi perbedaan harga yang sangat jauh antara produk semen lokal dengan semen pabrikan China. Padahal, lanjut dia, komponen bahan, sistem pembuatan dan biaya produksi relatif sama.

"Memang secara rata-rata biaya produksi semen lokal lebih mahal salah satunya karena komponen upah buruh yang berbeda antara pabrik lokal dengan pabrik asal China, namun bila dihitung dalam skala ekonomi perbedaan ini tidak terlalu signifikan. Tapi kok selisih harganya bisa begitu jauh. Ini ada apa," kata Anggota DPR RI terpilih periode 2019-2024 itu mempertanyakan.

BERITA TERKAIT

Sesuai Standar Global, Pertamina Atasi Tumpahan Minyak

Jakarta-Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menilai penanganan tumpahan minyak di perairan Karawang, Jawa Barat, yang dilakukan Pertamina selama dua…

Perdagangan Bilateral - Selaput Biji Pala 5 Ton Senilai Rp1,3 Miliar Diekspor ke India

NERACA Jakarta – Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian melepas ekspor 5 ton komoditas selaput biji pala asal Maluku Utara…

OPEC Pangkas Perkiraan Permintaan Minyak di 2020

NERACA Jakarta – OPEC pada Rabu memangkas perkiraan untuk pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2020 karena perlambatan ekonomi, sebuah pandangan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Sektor Pangan - Ini Sebab Realisasi Impor Daging Sapi Brazil Mundur Hingga 2020

NERACA Jakarta – Perum Bulog menyatakan impor daging sapi sebesar 30.000 ton dari Brazil baru terealisasi pada 2020 atau mundur…

Defisit Industri Elektronik Capai US$12 Miliar

NERACA Jakarta – Dirjen Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Harjanto mengatakan defisit industri elektronik sangat…

Pacu Wirausaha Muda Kreatif Berorientasi Ekspor

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berkomitmen untuk terus memacu pertumbuhan wirausaha muda dalam sektor industri kreatif di Tanah…