ABMM Bidik Pendapatan Rp9,95 Triliun Hingga Akhir Tahun - Fokus Kembangkan Anak Usaha

NERACA

Jakarta - Perusahaan energi terintegrasi, PT ABM Investama Tbk (ABMM), tahun ini membidik pendapatan sebesar Rp9,95 triliun, meningkat 50% jika dibandingkan perolehan 2011 yang senilai Rp6,63 triliun. Direktur Utama ABMM, Andi Djajanegara mengatakan, kenaikan pendapatan tersebut akan ditopang oleh pertumbuhan penjualan yang kuat dari anak usaha perseroan.

Dia lalu memaparkan kinerja salah satu anak usaha ABMM yang bergerak di sektor batu bara, PT Reswara Minergi Hartama, mulai mengoperasikan penuh pertambangan batu bara sekaligus beroperasinya pelabuhan tersebut di Provinsi Kalimantan Selatan. Selain itu, perseroan juga akan mempercepat pembangunan infrastruktur pertambangan batu bara yang terletak di Provinsi Aceh.

“Kami berharap (pembangunan tambang batu bara di Aceh) rampung semester II-2013, sehingga dapat beroperasi penuh untuk mendukung produksi batu bara ABMM,” ujar Andi di Jakarta, Selasa (3/4).

Kedua tambang ini, lanjut dia, memiliki total cadangan batu bara sekitar 221 juta ton. Sementara produksi batu bara Reswara Minergi yang low ash dan low sulfur saat ini memiliki permintaan tinggi dari perusahaan pembangkit listrik di dalam dan luar negeri seperti India, China, Thailand, dan Filipina.

"Reswara dapat mengamankan kontrak jangka panjang dengan pembeli utama," tambahnya. Hingga kuartal I-2012, PT Reswara Minergi Hartama melalui anak usahanya, PT Tunas Inti Abadi, dapat mengantongi kontrak jual beli batu bara sebesar 2 juta ton dengan Subham Corporation Pvt, Ltd asal India.

Bidik pasar China

Selain India, ABMM berencana menyelesaikan kontrak penjualan batu bara sebanyak 2 juta ton per tahun ke China pada kuartal II-2012. Saat ini, perseroan masih menegosiasikan kontrak tersebut dengan dua calon pembeli asal China.

"Secara keseluruhan target penjualan batubara perseroan tahun ini sebesar 5,5 juta ton, 2 juta ton sudah dikontrak oleh pembeli dari India, 2 juta ton lagi masih dijajaki dengan pembeli dari China yang diharapkan selesai sekitar Mei atau Juni 2012 mendatang," tukas Andi.

Dia menambahkan dengan menyisakan 1,5 juta ton batu bara lagi untuk dijual dari target tahun ini, pihaknya optimistis seluruh batu bara yang diproduksi Reswara Minergi akan terserap oleh pembeli. "Untuk sisa produksi sekitar 1,5 juta ton akan kami jual ke pasar Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, Filipina, dan sedikit ke pasar domestik," katanya.

Anak usaha ABMM lainnya, PT Cipta Kridatama yang bergerak di sektor jasa kontraktor pertambangan, juga mengalami pertumbuhan penjualan konsolidasi sebesar Rp 2.955 triliun atau 44% tahun lalu. Saat ini, Cipta Kritadana melayani delapan produsen batu bara di sepuluh lokasi pertambangan berbeda, dan menargetkan pertumbuhan mencapai 20% pada akhir tahun ini.

Sedangkan anak usaha yang bergerak di bidang jasa penyedia kelistrikan, PT Sumberdaya Sewatama, telah tercatat sebagai pemimpin pasar dan menguasai 42% pangsa pasar pembangkit listrik sementara (temporary power). Diketahui, perseroan telah menyediakan total 934 megawatt (MW) pembangkit listrik sementara yang sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan listrik dalam negeri.

Hingga Desember 2011, Sewatama mengantongi penjualan senilai Rp1.006 triliun. “Induk perusahaan menargetkan pertumbuhan pendapatan rata-rata 25% selama periode 2011-2015. Tentunya hal ini didukung dari volume penjualan, harga jual, serta tingkat marjin profitabilitas di semua segmen, termasuk penjualan batu bara, jasa kontraktor tambang, penyedia jasa kelistrikan, logistik terintegrasi, dan jasa engineering," tutup Andi.

Mayoritas pinjaman

Tak hanya kinerja, ABMM mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun ini sebesar US$ 335 juta. Dana tersebut berasal dari hasil penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) serta pinjaman perbankan. Menurut Direktur Keuangan ABMM, Willy Adipradhana, mayoritas dana capex tersebut akan digunakan untuk pengembangan bisnis anak-anak usaha ABMM.

Mengenai komposisi alokasi, Willy menjelaskan untuk sektor jasa kontraktor tambang senilai US$ 129 juta, jasa kelistrikan US$ 73 juta, pertambangan US$ 62 juta, dan logistik US$ 19 juta. Terkait pinjaman bank, Willy menuturkan, sejauh ini Bank DBS Singapura dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang akan memberikan fasilitas pinjaman dalam capex tersebut.

"Jadi, pendanaan untuk capex dari kas internal sebesar 30%, dan sisanya dari pinjaman sebesar 70%," papar Willy. Dengan alokasi capex untuk anak-anak usaha, perseroan berharap dalam tiga hingga empat tahun mendatang, kontribusi anak usaha terhadap konsolidasi ABMM akan terus meningkat.

Pada penutupan perdagangan saham Selasa (3/4) kemarin, saham ABMM ditutup melemah 50 poin di level Rp3.925 per lembar. Volume perdagangan sebesar 1,28 juta lot dengan nilai Rp5,05 miliar. Berdasarkan laporan keuangan 2011, ABMM mencatat kenaikan laba bersih 226% menjadi Rp415,74 miliar. Torehan laba bersih ini meningkat lebih dari tiga kali lipat dari pencapaian tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp127,32 miliar.

Tingginya pertumbuhan laba itu berkat penjualan yang meningkat sebesar 47,7% menjadi Rp6,63 triliun, dibandingkan dengan periode yang sama 2010 yang mencapai Rp4,49 triliun.

Selain itu, lonjakan ini dikarenakan peningkatan marjin laba bersih menjadi 6,27%, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,84%. Posisi kas dan setara kas ABMM tumbuh melesat 285,34% atau Rp1,67 triliun dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya senilai Rp433,04 miliar. [didi/ardi]

Related posts