Penundaan Kenaikan BBM Beri Sentimen Positif Indeks - Dana Asing di Pasar Modal Masih Betah

Neraca

Jakarta–Penundaan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dari rencana awal 1 April menjadi enam bulan kedepan, memberikan dampak positif dan negatif. Positinya, diyakini dapat mencegah keluarnya dana asing dari pasar modal Indonesia.

Direktur Utama Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Ronald T Andi Kasim mengatakan, penundaan kenaikan BBM bersubsidi ini memiliki sentimen positif dan bisa merubah alur posisi IHSG di pasar modal, “Penudaan kenaikan BBM memang bukan alasan yang terlalu utama, tetap dibutuhkan kebijakan pemerintah dalam menjaga kondisi ekonomi seperti saat ini karena sebenarnya yang dibutuhkan investor adalah kepastian,” katanya di Jakarta, Selasa (3/4).

Ronald menuturkan, derasnya aliran dana asing merupakan dampak dari membaiknya persepsi asing terhadap resiko investasi di pasar modal Indonesia. “Saya percaya negara kita cukup bagus prestasinya, terbukti saat negara kita tidak terdampak saat negara lain mengalami dampak cukup berat,” ujarnya.

Kata Ronald, salah satu strategi pencegahan yang bisa dilakukan pemerintah untuk menjaga kondisi ekonomi di Indonesia sendiri adalah dengan menjaga aliran informasi sehingga rencana strategis yang akan dilakukan pemerintah sebaiknya dijaga agar tidak menimbulkan kepanikan di pasar.

Seperti diketahui, hingga perdagangan kemarin pemodal asing telah mencatatkan net buy selama 17 hari berturut-turut dengan nilai mencapai Rp10 triliun. Sebelumnya, analis pasar modal MNC Securities Edwin Sebayang pernah bilang, kinerja emiten dinilai akan terpengaruh terhadap rencana kenaikan harga BBM, kendatipun ditunda, “Ini kan hanya masalah waktu saja, partai koalisi minus PKS berlindung pada ayat abu-abu," ujarnya.

Hanya Soal Waktu

Menurut Edwin, disahkannya pasal 7 ayat 6A RUU APBN-Perubahan 2012, maka pemerintah berwenang melakukan penyesuaian BBM dengan catatan apabila harga rata-rata minyak mentah dunia mengalami deviasi lebih 15% dalam enam bulan terakhir.

Dia menuturkan, kondisi ini akan menghantam kinerja emiten-emiten yang berkaitan langsung dan tidak langsung terhadap kenaikan harga energi tersebut. Emiten yang usaha utamanya bertumpu pada BBM akan memicu menaikan biaya produksi.

Selain menggerus kinerja emiten, kenaikan BBM pada Agustus mendatang memicu inflasi berkepanjangan (tahunan) ke level 6,5% -7%. Hal ini juga akan mendongkrak tingkat suku bunga acuan (BI rate) ke level 6% -6,5% di saat pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat. "Hanya masalah waktu saja, 60 juta rakyat miskin Indonesia akan semakin miskin akibat kenaikan BBM, belum lagi spirral effect ke sektor-sektor lainnya,”jelasnya

Kata Edwin, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) akan terkena dampak paling besar dari kenaikan harga BBM. Kebijakan GIAA untuk tidak melakukan lindung nilai (hedging) bahan bakarnya, menjadikan biaya operasi perseroan akan membengkak.

Hal itu akhirnya membawa pesimisme investor yang memiliki portofolio saham Garuda.“Industri penerbangan, apalagi Garuda tidak hedging. Dengan frekuensi penerbangan tinggi, maka biaya akan naik,”ungkapnya.

Emiten semen, PT Semen Gresik Tbk (SMGR), PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) dan PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) juga diprediksi rentan akan kenaikan harga BBM. Pasalnya, selain faktor distribusi, dalam memproduksi semen, emiten itu juga masih tergantung pada BBM. “Perusahaan semen kan mayoritas ada di Jawa dan mereka masih banyak pakai BBM,” tuturnya. (bani)

.

Related posts