Rekreasi Jiwa di Nusa Dua

Sejumlah kegiatan seperti yoga, meditasi dan pembersihan telah merupakan telah lama dilakukan masyarakat Hindu di Bali. Kini ritual yang unik sekaligus menyehatkan jiwa itu bisa dinikmati oleh turis melalui beragam paket wisata yang ditawarkan agen perjalanan sampai hotel. Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengikuti ritual yoga, meditasi cakra, dan melukat saat bermalam di The Apurva Kempinski Bali. Resor yang berlokasi di Nusa Dua, Bali, itu menawarkan paket yoga dan meditasi gratis untuk setiap tamunya.

Layanan yoga dan meditasi diadakan setiap harinya yakni pada pukul 07.00 WITA, saat matahari belum lama terbit. Kegiatan yoga dilakukan di teras belakang hotel yang menghadap langsung ke Samudera Hindia itu dipandu oleh seorang guru. Air terjun dan kolam-kolam kecil di sekitar teras membuat suasana pagi menjelang siang terasa lebih sejuk dikutip dari CNN Indonesia.com.

Setelah pemanasan, guru mulai memandu kelas untuk melakukan gerakan yoga secara perlahan. Ia tak segan mengulang instruksi atau membenarkan gerakan tamu yang salah, salah satunya saya yang jarang melakukan yoga.

Setelah sekitar 15 menit melakukan gerakan fisik perlahan, guru yoga memandu para tamu untuk melakukan meditasi cakra dan aura dengan tujuan melatih konsentrasi para tamu. Kami diminta menutup mata dan membayangkan berbagai warna yang memiliki sejumlah makna bagi kesehatan dan pikiran. Warna-warni itu merupakan refleksi dari cakra dan aura. "Bayangkan warna kuning. Warna kuning berarti pikiran yang baik, bayangkan warna itu masuk lewat tulang belakang Anda dan kemudian keluar dari kepala Anda," ucap sang guru.

Gemericik air plus angin pantai sepoi-sepoi membuat sesi yang berlangsung selama 45 menit ini tak terasa sampai usai. Saat membuka mata tubuh saya terasa lebih segar. Rasa kantuk yang awalnya hinggap berganti dengan semangat menjalani hari.

Saya baru paham mengapa Liz Gilbert dalam kisah 'Eat Pray Love' memutuskan datang ke Bali untuk wisata sembari mencari ketenangan. Setelah mengabadikan gambar bersama, para tamu diajak untuk melakukan melukat atau pembersihan jiwa di candi yang lokasinya ada di Pura Geger, Nusa Dua.

Sebelum pergi menggunakan kendaraan roda empat, para tamu akan dipakaikan kain dan selendang khas Bali. Bagi tamu laki-laki, ikat kepala atau udeng wajib dipakai. Kegiatan pembersihan ini bukan merupakan bagian dari layanan menginap, sehingga setiap tamu harus membayar Rp1 juta per orang untuk bisa mengikutinya.

Lokasi pura yang bersebelahan dengan Pantai Geger hanya berjarak lima menit perjalanan mobil dari hotel. Jalanan menuju ke sana agak rusak dan kecil, maklum saja pura dan pantai ini masih jauh dari keramaian turis.

Setelah sampai di lokasi, kami dipandu menelusuri jalan kecil yang dipenuhi semak-semak dan memiliki banyak turunan. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya saya bisa melihat beberapa anak tangga ke arah bawah yang mengantarkan para tamu ke bebatuan besar di pinggir pantai tempat Pura Geger itu berada.

Sambil menunggu para pemuka agama pura atau pemangku datang, kami dibiarkan untuk menikmati pemandangan Pantai Geger nan indah. Matahari mulai terik tapi para tamu masih bisa berfoto dan bermain di pantai yang memiliki banyak batu karang itu. Pasir putih dan air laut yang jernih membuat pemandangan pantai dan pura semakin rupawan.

Setelah beberapa saat menikmati pantai, dua orang pemangku berpakaian serba putih datang. Kami dipanggil kembali ke balik bebatuan besar tempat pura berada. Para tamu diminta duduk di depan candi dan sesajian yang sudah dipersiapkan. Pemangku membacakan doa. "Pembersihan ini bisa menghilangkan trauma masa lalu dan mengabulkan harapan untuk masa depan yang lebih baik," kata salah satu pemandu kami.

Setelah membacakan doa, para tamu diminta mencuci muka, berkumur, dan meminum air kelapa yang dipersiapkan secara satu per satu. Pemangku juga menyipratkan air bunga yang sudah ia doakan ke kepala para tamu. Setelah itu ia meminta tamu untuk duduk kembali dan membacakan doa.

"Sekarang doa sesuai kepercayaan masing-masing harapannya apa, kebahagiaan, kesehatan," kata salah satu pemangku sambil tersenyum lebar.Lebih lanjut, kedua pemangku itu akan mendatangi para tamu satu persatu dan membawa sesajian lagi, kemudian tamu akan diminta mengambil sejumput beras yang dinamakan bija untuk dikenakan di kening mereka.

Setelah itu salah seorang pemangku akan membawa tiga benang berwarna merah, putih dan hitam dan kemudian ia anyam menjadi gelang untuk diikatkan pada pergelangan para tamu. Ini dinamakan gelang Tri Datu khas Bali. "Yang merah itu Dewa Brahma, hitam Dewa Siwa, nah yang putih ini Dewa Wishnu," ucap pemangku itu.

Dengan pemasangan gelang Tri Datu itu, maka ritual melukat sudah selesai. Para tamu dibawa kembali ke mobil yang mengantar tadi. Di mobil itu pemandu akan menawarkan minuman kelapa muda yang menyegarkan. Para tamu pun bisa menikmati air kelapa muda sambil menempuh perjalanan kembali ke hotel.

Sesampainya di hotel dan setelah sarapan pagi, kegiatan saya lalu diisi dengan kelas menganyam janur. Janur memang sangat lekat dengan kehidupan masyarakat Bali. Dari penanda jalan hingga perayaan besar, janur selalu terlihat di setiap sudut Pulau Dewata.

Teknik menganyam daun muda pohon kelapa itu ternyata sudah diajarkan kepada masyarakat Bali sejak usia muda. Pemandu wisata bernama Mia mengatakan dirinya sudah diajari menganyam sejak kecil oleh nenek dan ibunya. Oleh karena itu, pekerjaan itu terasa mudah baginya.

Namun tidak untuk para tamu yang ingin merasakan pengalaman menjadi 'orang Bali' sesungguhnya. Saya diberikan kesempatan mencoba menganyam ketupat, janur sederhana dan sebuah gelang. Tapi saya sangat kesulitan mengikuti instruksi Mia.

Setelah beberapa kali mencoba akhirnya para tamu yang merasa kesulitan bisa terbiasa menganyam. "Ini orang Bali kan biasa meditasi, konsentrasi, kalau mau menganyam tarik nafas, konsentrasi terus bisa menganyam," ucap Mia.

Benar, menurut saya, menganyam janur tidak akan berhasil jika tidak konsentrasi penuh. Karena pola menganyam itu membutuhkan jalannya logika. Jika tidak konsentrasi maka anyaman bakal berantakan, tidak selesai, dan perlu diulang dari awal. "Kalau tidak konsen bisa kena cutter juga tangannya, anyaman berantakan," kata Mia.

Usai mengikuti kegiatan tersebut saya merasa kalau kegiatan wisata di Bali bukan hanya sekedar pesta atau belanja. Bagi yang berkata Bali semakin membosankan, mungkin bisa mengikuti kegiatan wisata seperti ini. Dengan mengenal lebih dekat tradisi penduduk asli di sebuah destinasi, saya rasa turis bakal lebih menghormati bumi yang dijejaknya.

BERITA TERKAIT

Objek Wisata di Jayawijaya Tak Terdampak Kerusuhan Wamena

Sejumlah obyek wisata di Kabupaten Jayawijaya, Papua, dikabarkan aman dari dampak kerusuhan yang terjadi pada dua pekan lalu hingga menyebabkan…

Bukit Santiong, Pilihan Destinasi Paralayang di Subang

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat bersiap menjadikan kawasan wisata Bukit Santiong di Kabupaten Subang, Jawa Barat, sebagai…

Mengenal Empat Pondok 'Misterius' di Gunung Raung

Musibah kebakaran Gunung Raung, Jawa Timur, yang terjadi pada Jumat (4/10) sore menyebabkan 13 pendaki sempat terjebak. Hal ini menyebabkan…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Bukti Kerajaan Sriwijaya Ada di Tepi Sungai Musi

Ramainya kabar mengenai harta karun Kerajaan Sriwijaya membuat asal usul kerajaan tersebut naik daun. Tapi tak banyak yang tahu bahwa…

Pembangunan Geopark Bangka Barat akan Dimulai

Lembaga Swadaya Masyarakat Laskar Hijau Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, bersiap mewujudkan pembangunan geopark atau taman bumi di Kabupaten Bangka Barat.…

Kondisi Kawah Putih Sudah Terkendali

Objek wisata Kawah Putih Kabupaten Bandung, yang mengalami kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sejak Senin (7/10), dinilai sudah aman untuk…