Peluang Ekspor Pisang ke Malaysia Masih Terbuka Lebar

NERACA

Jakarta – Pimpinan CV Royal Mehar, Enggi Nazilla, selaku eksportir pisang menyebutkan peluang ekspor pisang sangat terbuka lebar dan satu di antaranya dari Malaysia sebanyak 300 ton setiap minggunya.

“Permintaan pisang Kalimantan Barat  dari negara luar seperti Malaysia sangat tinggi. Dari 300 ton setiap minggunya saat ini kami baru mampu memenuhi 50 ton pada tahap pertama,” ujarnya saat melepas ekspor perdana pisang di Pontianak, Kalimantan Barat, disalin dari Antara di Jakarta.

Ia menyebutkan bahwa pasar pisang sangat terbuka luas apalagi dengan kemudahan layanan dari Karantina Pertanian Pontianak, tidak ada lagi kendala teknis. “Buah pisang yang diekspor terjaga kesehatan dan keamanannya, sehingga memiliki daya saing. Ke depan kami berharap dapat menggenjot produksi untuk memenuhi permintaan pasar,” jelas dia.

Sementara itu Kepala BKP RI, Ali Jamil mengapresiasi terus bermunculan eksportir baru di Kalimantan Barat. Hal itu menurutnya sejalan dengan perintah Menteri  Pertanian Amran Sulaiman untuk melahirkan eksportir baru. “Apalagi yang eksportir kali ini anak muda. Ini eksportir milenial. Kami sangat apresiasi dan terus mendorong lahir lagi eksportir baru dan dari anak muda,” kata dia.

Pihaknya terus mendorong langkah ekspor dengan semangat berani ekspor. Namun menurutnya produk ekspor bukan hanya lagi bahan baku saja, namun harus produk turunan, minimal setengah jadi.

“Yang diekspor kami minta bukan lagi bahan baku namun sudah produk turunan, sehingga mendapat nilai tambah. Kemudian itu juga berdampak pada peningkatan penerimaan petani di Kalimantan Barat,” jelas dia.

Ia juga mendorong eksportir bisa membuat industri di Kalimantan Barat, agar produk yang dibawa ke luar tidak lagi bahan baku. “Kami minta tolong juga agar industri ada di sini. Itu juga bentuk memberdayakan petani agar apa yang ia jual nilanya tinggi. Produk diolah tentu lebih tinggi nantinya,” kata Ali Jamil.

Sementara itu, sebelumnya, Kepala Badan Karantina Pertanian (BKP) Kementerian Pertanian Ali Jamil melepas ekspor perdana komoditas pisang kepok asal Kalimantan Barat ke Malaysia. "Alhamdulillah, hari ini bersama-sama kita menjadi saksi untuk ekspor perdana buah pisang Pontianak. Ke depan, perlu terus dijaga masa tanam dan panen nya agar tetap terjaga kualitas, kuantitas dan kontinuitasnya. Ini kunci masuki pasar ekspor," ujarnya.

Jumlah ekspor pisang yang dilepas tersebut sebanyak 10 ton dengan nilai ekonomi Rp85 juta dengan tujuan negara tetangga, Malaysia. Jamil menyampaikan potensi produksi buah pisang di Kalbar cukup tinggi. Tahun lalu Kalbar berkontribusi memproduksi buah pisang sebesar 0.64 persen dari prosentase produksi nasional atau sebesar 44.462 ton.

“Selama tahun 2018 tersebut Kalbar telah mengirimkan buah pisang sebanyak 1.594 ton ke daerah lain di Indonesia, namun buah pisang tersebut belum mampu untuk di ekspor ke luar negeri,” tambah Jamil.

Ia menyebutkan sejumlah instruksi Menteri Pertanian untuk mendorong ekspor pertanian. Instruksi yang ada tersebut pihaknya tuangkan dalam lima terobosan kebijakan strategis. “Kita mendorong peningkatan volume, frekuensi, tumbuhnya produk pertanian dan negara ekspor baru dan juga pelaku usaha baru terlebih dari generasi baru. Salah satunya adalah program agro gemilang yang digagas awal tahun ini.,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Karantina Pertanian Pontianak, Dwi Susilo menjelaskan melalui program agro gemilang pihaknya bersama dengan instansi terkait khususnya Dinas pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar dan juga eksportir berhasil melakukan peningkatan kualitas buah pisang sehingga dapat di ekspor secara langsung.

“Selaku otoritas karantina, kami menjadi penjamin kesehatan dan keamanan buah pisang yang diekspor yang ditandai dengan terbitnya sertifikat kesehatan tumbuhan atau phytosanitary certificate, PC sesuai dengan persyaratan negara tujuan,” jelas dia.

Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) terus berupaya mendorong ekspor sektor hortikultura guna mengembangkan potensi ekonomi daerah dan mengatasi defisit neraca perdagangan.

Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono mengatakan hortikultura sengaja dipilih karena sektor tersebut memiliki pasar yang luar biasa di pasar domestik maupun pasar ekspor. "Kenapa kita pilih mengembangkan hortikultura? Hal itu karena hortikultura potensi ekspornya luar biasa," ujar Susiwijono.

BERITA TERKAIT

Cargill Komit Mendukung Masyarakat dalam Pelestarian dan Perlindungan Hutan

NERACA Jakarta - Cargill yang merupakan perusahaan memproduksi minyak sawit berkelanjutan memberikan pendanaan sebesar Rp 49 miliar (US$ 3,5 juta)…

Sarinah Siap Dirubah Menjadi Showroom Produk UMKM Lokal

Jakarta - Demi mendorong perekonomian rakyat dalam hal ini usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), maka  PT Sarinah yang merupakan…

LPDB Dorong KUKM Manggarai Barat Hasilkan Produk Premium

NERACA Labuan Bajo - Lembaga Pengelola Dana Bergulir - Koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB - KUMKM) bersinergi dengan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Produk Lokal Menggerakkan Sektor UMKM

NERACA Yogyakarta  - Indonesia dikenal sebagai negara kaya penghasil pangan lokal dengan keanekaragaman sumber pangan yang sangat besar. Namun ternyata…

Pertemuan ITRC: Indonesia Perjuangkan Petani Karet

NERACA Jakarta – Indonesia mengajak Thailand dan Malaysia sebagai negara anggota International Tripartite Rubber Council (ITRC) untuk melindungi petani karet…

Transaksi Niaga Elektronik Memperkuat Akselerasi Peningkatan Ekspor Indonesia

NERACA Jakarta – Kemneterian Perdagangan (Kemendag optimistis bahwa melalui trnasaksi niaga elektronik dapat memperkuat akselerasi peningkatan ekspor Indonesia, untuk itu…