Pertumbuhan Ekonomi Tetap Terkoreksi - Terkait Pembatalan Harga BBM

NERACA

Jakarta—Penundaan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi bukan berarti pertumbuhan akan terdorong. Namun batalnya kebijakan soal BBM itu diperkirakan akan tetap mempengaruhi pertumbuhan ekonomi menjadi negatif yaitu diperkirakan sebesar 5,8%. “Tentu akan ada dampaknya walaupun sebetulnya misalkan harga BBM dinaikkan otomatis dampak sementara negatif terhadap pertumbuhan ekonomi, dan dicairkan BLT membantu konsumsi masyarakat tidak turun terlalu tajam, itu yang dibahas,” kata ekonom Stanchard, Fauzi Ichsan di Jakarta,3/4

Menurut Fauzi, rencana kenaikan BBM subsidi dan kompensasi berupa Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) tidak cukup untuk mendongkrak daya beli masyarakat. “Kita melihatnya, pasar melihatnya apapun yang terjadi pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak terlalu turun tajam baik itu BBM naik atau tidak, paling buruk 5,8 persen tahun ini keseluruhan," jelasnya

Lebih jauh kata Fauzi, sejauh ini yang disiapkan pemerintah khususnya Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengenai postur APBN-P 2012 sangat teknokratis dan masuk akal. "Namun pertanyaannya apakah ide teknokratis ini bisa diterima di forum politik, apakah bisa diterima di DPR, seperti yang saya bilang diatas kertas partai politik koalisi pemerintah di atas 75% kenapa partai yang bergabung dikoalisi malah menunjukkan oposisi yang cukup tajam, seharusnya sewaktu pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM, partai politik mendukung rencana tersebut, bukan wacana yang dibahas di DPR, namun kenapa hal tersebut tidak terjadi," paparnya.

Di sisi lain, yang perlu dikhawatirkan dengan ditundanya kenaikan harga BBM subsidi tersebut adalah inflasi dalam APBN-P 2012 yang dipatok sebesar 6,8% menjadi tidak realistis lagi dalam artian inflasinya akan meningkat lebih dari 6,8% pada akhir 2012 tersebut. "Selain itu juga dikhawatirkan naiknya subsidi BBM membuat pengeluaran pemerintah untuk subsidi BBM, bukan disebabkan kenaikan konsumsi energi dalam negeri, melainkan penimbunan dan penyelendupan yang marak, sehingga APBN menjadi tidak suistanable, bukan hanya konsumsi tetapi penyelundupan dan penimbunan," imbuhnya

Hal tersebut tidak lain karena dengan adanya disparitas harga yang tinggi antara BBM subsidi dengan pertamax misalnya memicu terjadi penimbunan sehingga menjadikan nanitnya APBN-P 2012 menjadi tidak suistanable. "Yang dikhawatirkan adalah walaupun asumsi pemerintah 6,8 persen (inflasi) cukup realistis namun dengan tidak dinaikkan harga BBM, dan ada kemungkinan naik di Juni, Juli otomatis ekspektasi inflasi naik, otomatis ada penimbunan, penyelundupan karena bagaimanapun juga dengan selisih harga yang besar antara BBM dalam negeri dan internasional, di dalam negeri Rp4.500, luar negeri di atas Rp8 ribu, bagi penimbun penyelundup, itu adalah selisih yang menguntungkan," pungkasnya. **cahyo

Related posts