Batubara, Si Hitam Penghasil Energi

Oleh Agus S. Soerono

Wartawan Harian Ekonomi Neraca

Batubara yang depositnya banyak ditemukan di berbagai provinsi di Indonesia, mulai dikenal sebagai penghasil panas sekitar 1000 Tahun Sebelum Masehi (SM) di China. Setelah itu penggunaan batubara itu mulai dikenal di Eropa sekitar 400 Tahun SM.

Peranan batubara sebagai penghasil energi di Indonesia, sangat besar. Namun penggunaan batubara sebagai pembangkit listrik belum maksimal, karena adanya bahan bakar minyak dan gas (migas) yang puluhan tahun lalu masih murah. Sejalan dengan naiknya harga BBM, maka orang mulai melirik batu bara sebagai pembangkit energi.

Batubara yang berwarna hitam itu, mulai digunakan untuk pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) menjelang berakhirnya era Orde Baru pada 1990-an.

Pada masa mendatang, produksi batubara Indonesia diperkirakan akan terus meningkat, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri (domestik), tetapi juga untuk memenuhi permintaan luar negeri (ekspor). Hal ini mengingat sumber daya batubara Indonesia yang masih melimpah, di lain pihak harga BBM yang tetap tinggi, menuntut industri yang selama ini berbahan bakar minyak untuk beralih menggunakan batubara.

Adanya rencana pembangunan PLTU baru di dalam dan luar Pulau Jawa dengan total kapasitas 10.000 MW, meningkatnya produksi semen setiap tahun, dan semakin berkembangnya industri lain seperti industri kertas (pulp) dan industri tekstil merupakan indikasi permintaan dalam negeri akan semakin meningkat. Begitu pula industri keramik yang banyak menyerap energi untuk memanaskan tanur pembakaran.

Demikian pula halnya dengan permintaan batubara dari negara-negara pengimpor mengakibatkan produksi akan semakin meningkat pula.

Terkait dengan hal tersebut, pemerintah mengeluarkan Kebijakan Energi Nasional (KEN) melalui PP No.5 Tahun 2006 sebagai pembaruan Kebijaksanaan Umum Bidang Energi (KUBE) tahun 1998. Seperti diketahui, negara pengimpor batubara Indonesia a.l. India, China, Thailand dan Filipina.

Batubara merupakan komoditas utama ekspor nonmigas Indonesia dalam triwulan I-2011 dengan pangsa sebesar 14,4% terhadap total ekspor nonmigas.

NPI triwulan I-2011 Bank Indonesia menyatakan, ekspor batubara selama triwulan I-2011 mencapai US$5,3 miliar, tumbuh 7,1% (q.t.q) dari triwulan sebelumnya.

Peningkatan ekspor batubara tersebut lebih banyak dipengaruhi faktor kenaikan harga, sementara volume ekspor mengalami penurunan.

Harga batubara di pasar internasional pada triwulan I-2011 meningkat dari US$108/MTon (triwulan IV-2010) menjadi US$129,61/MTon.

Selain tren harga yang terus meningkat sejak pertengahan 2009, gangguan suplai batubara yang terjadi akibat banjir bandang yang melanda Australia sebagai negara penghasil batubara terbesar dunia menjadi faktor penyebab utama kenaikan harga selama triwulan I-2011.

Naiknya ekspor batubara juga tecermin dari pengiriman ke negara-negara utama tujuan ekspor, seperti India dan Jepang.

Kebutuhan energi dalam negeri India yang semakin meningkat, sedangkan pemenuhan kebutuhan dari dalam negeri India dibatasi oleh perizinan lingkungan yang ketat diperkirakan menjadi pendorong naiknya permintaan batubara dari India. (agus)

Related posts