Industri Pulp dan Kertas Genjot Produksi Dua Kali Lipat - Ditargetkan Tumbuh 100% di 2020

NERACA

Jakarta - Asosiasi Pengusaha Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) menargetkan volume produksi industri pulp dapat mencapai 20,4 juta ton dan kertas sebesar 19,8 juta ton pada 2020 atau tumbuh sekitar 100% dibanding pertumbuhan produksi sepanjang 2012. Karena itu, asosiasi mengklaim hingga saat ini sudah ada 14 unit industri pulp dan 79 perusahaan kertas yang siap menggenjot skala produksi hingga dua kali lipat.

Direktur Eksekutif APKI Liana Bratasida mengatakan, produksi pulp dan kertas Indonesia berpotensi mengungguli negara-negara penghasil hutan tanaman produktif seperti Brazil, Amerika Serikat, bahkan China. Hingga kini, produksi pulp Indonesia telah mencapai 6,9 juta ton per tahun, dan kertas yang diproduksi sebesar 11,5 juta ton per tahun.

Asosiasi optimistis industri pulp dan kertas dapat berkembang pesat karena didorong oleh kondisi tanah dan musim di Indonesia yang kondusif dalam pengembangan hutan tanaman industri (HTI). Lebih jauh Liana memperkirakan potensi produksi pulp dan kertas akan meningkat stabil yakni sekitar 20% setiap tahun sehingga kapasitas terpasang industri dapat mencapai dua kali lipat pada 2020.

Indonesia kini menempati urutan ke-9 sebagai produsen pulp di dunia. Selain itu, produktivitas industri kertas Indonesia bahkan telah berada di posisi ke-6 menyalip negara-negara Skandinavia yang kini lebih cenderung menggalakkan impor akibat kelangkaan bahan baku. “Harus diakui kita mempunyai lahan yang subur dengan lokasi strategis di kawasan tropis, sehingga pengembangan industri jauh lebih pesat ketimbang negara dingin,” ungkap Liana dalam Workshop Pulp dan Kertas di Jakarta, Selasa (3/4).

Kebutuhan Meningkat

Peningkatan kapasitas produksi diharapkan mampu memasok kebutuhan pulp dan kertas baik di dalam negeri maupun ekspor. Liana meyakini kebutuhan kertas akan terus meningkat dengan pertumbuhan rata-rata 2,1% per tahun. Sepanjang tahun lalu, konsumsi kertas dalam negeri mencapai 7,8 juta ton, dan kebutuhan dunia saat ini sebesar 394 juta ton. Pertumbuhan kebutuhan kertas di negara maju akan meningkat sekitar 0,5% per tahun sehingga diyakini mencapai 394 juta ton pada 2020.

Proyeksi peningkatan kebutuhan kertas di negara-negara maju telah membuka peluang pertumbuhan volume ekspor. Pemerintah telah menargetkan kapasitas ekspor pulp dan kertas diharapkan meningkat 10% tahun ini. Ekspor pulp dan kertas tahun lalu bahkan mampu berkontribusi hingga US$ 6,2 miliar, atau sekitar 5% dari total ekspor Indonesia. “Pasar ekspor nantinya akan banyak diarahkan ke China dan negara-negara Timur-Tengah,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Direktur Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan Kementerian Kehutanan Dwi Sudharto,mengungkapkan mekanisme ekspor pulp dan kertas ke depan perlu mengikuti sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK). Setiap unit industri harus mengantongi SVLK apabila produknya ingin diterima di negara tujuan ekspor.

Menurut Dwi, pemerintah Indonesia telah menandatangani nota kesepahaman dengan sejumlah negara Uni Eropa, Amerika Serikat, Jepang dan China untuk mengimplementasikan SVLK. Dengan begitu, imbuhnya, proses lacak balak kayu dapat dibuktikan dari sumber lahan yang mengantongi izin. Pemerintah telah menunjuk lima lembaga verifikasi yang akan membidani sertifikasi bagi sejumlah unit industri di sektor kehutanan.

Lembaga verifikasi tersebut akan meninjau legalitas kayu sesuai prinsip tata kelola hutan yang diatur oleh Kementerian Kehutanan. Produk kehutanan yang dinyatakan legal akan diberi tanda dan dokumen khusus oleh lembaga penilai dan verifikasi independen.

Related posts