Buah Keluhuran Yang Tidak Lekang Oleh Waktu - Eksistensi YHK Peduli Kemanusiaan

Jauh sebelum banyaknya tempat wisata edukasi yang mudah ditemukan saat ini, adalah Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang sudah menjadi ikon wisata edukasi yang berlokasi di Jakarta Timur dan menjadi kebanggaan masyarakat saat itu. Dibangun di atas tanah seluas 150 hektar, Taman Mini Indonesia Indah adalah salah satu taman rekreasi terbesar di Indonesia. Tempat wisata yang cukup merakyat ini dirasakan betul manfaatnya karena berisi gambaran kebudayaan nusantara.

Pembangunan TMII sendiri tidak bisa lepas dari peran dan campur tangan Siti Hartinah atau yang lebih dikenal dengan panggilan ibu Tien yang merupakan istri Presiden ke-RI, Soeharto dan juga ketua Yayasan Harapan Kita dan Yayasan Dana Gotong Royong untuk mengusulkan dibangun sebuah lokasi yang memuat wisata budaya untuk membangkitkan kebanggaan rakyat Indonesia terhadap budaya nusantara dan cinta pada tanah air. Alhasil proyek pembangunan TMII juga dilaksanakan oleh Yayasan Harapan Kita (YHK). Kini seiring dengan perkembangan zaman dan persaingan bisnis wisata hiburan, TMII terus berinovasi dengan tidak melupakan perannya untuk memberikan edukasi.

Ketua Yayasan Harapan Kita, Siti Hardiyanti Rukmana atau dikenal dengan panggilan Mbak Titiek mengatakan, dibalik pembangunan wisata hiburan TMII ada peran dan kontrtibusi YHK dalam membangun sarana dan prasana edukasi bagi rakyat. Anak sulung Ibu Tien, ini mengungkap pesan sang ibunda kepadanya terkait keberadaan TMII. Dimana ibu Tien berpesan agar tiket TMII tidak boleh dibanderol dengan harga mahal,”Pesan dari Ibu bahwa Taman Mini Indonesia ini merupakan taman hiburan rakyat, karena itu jangan sekali-sekali menaikkan harga tiketnya, itu selalu dipesankan oleh beliau," kata Tutut.

Diharapkan, dengan terjangkaunya harga tiket, masyarakat yang masih hidup dibawah garis kemiskinan juga bisa menikmati hiburan disekitar dan berkemah sambil mempelajari kekayaan budaya Indonesia. Sampai kini, dibandigkan dengan destinasi wisata lainnya, TMII realtif yang paling murah. Peran ibu Tien sebagai istri presiden dan juga ibu negara tidak pernah lupa untuk memberikan kepedulian terhadap kondisi rakyat saat itu. Berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi bangsa dan mewujudkan cita-cita Indonesia adil dan makmur, maka lahirah Yayasan Harapan Kita. Lewat kedua yayasan yang didirikannya, telah banyak peran dan kontribusi untuk kemanusiaan. Dimana eksistensi Yayasan Harapan Kita terus masih dirasakan manfaatnya bagi masyarakat.

Meneruskan Cita-Cita

Mbak Tutut menyampaikan, menjadi Ketua YHK merupakan panggilan untuk meneruskan cita-cita ibu dan bapak untuk membantu masyarakat yang memang sangat membutuhkan bantuan. Dimana tugas yang dititipkan oleh orang tuanya tidaklah ringan. Namun dirinya bertekad untuk terus melanjutkan yayasan tersebut. “Walaupun seberat apapun, saya akan terus coba melanjutkan apa yang telah beliau rintis sebelumnya,” ucapnya.

Menurut Tutut, yayasan ini adalah kadoyang diberikan pak Harto pada ibu Tien Soeharto saat berulang tahun ke 45, sebagai sebuahbentuk wadah amanah yang menampung berbagai harapan luhur bagi Bangsa Indonesia. Wadah ini, lanjutnya, senantiasa dijadikan tempat mewujudkan harapan demi harapan, impian demi impian, tentang bagaimana turut menyejahterakan bangsanya.”Tidak seperti kado ultah berupa perhiasan atau benda mewah yang hanya akan lapuk ditelan waktu, kado immaterial berupa yayasan ini hingga kini justru lebih bisa mengabadi sebagai buah keluhuran dan justru akan terus bermanfaat untuk khalayak luas hingga kapan pun," ungkap mbak Tutut.

Sederetan mahakarya, tambahnya, telah dilahirkan Yayasan Harapan Kita, dan keberadaannya sangat diperlukan dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat Indonesia hingga kini."Di antaranya adalah TMII, Perpustakaan Nasional, RSAB Harapan Kita, Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Taman Anggrek, Gedung Pewayangan, Padepokan Pencak Silat Indonesia, Museum Purna Bhakti Pertiwi, Rumah Sakit Kanker Dharmais, Taman Buah Mekarsari, dan sejumlah mahakarya lain yang tak bisa disebutkan satu persatu," paparnya.

Selain itu, kata Tutut, YHK juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial seperti penyaluran bantuan bagi korban bencana alam, beasiswa pendidikan dan sebagainya.Bahkan, YHK berkomitmen untuk mendirikan sarana ibadah, ikut menyelenggarakan pondok pesantren, dan madrasah.Disampaikan Tutut, jika dibandingkan dengan maksud dan tujuan yayasan pada awal mula didirikan, maka rumusan maksud dan tujuan serta kegiatan yang hendak dilakukan YHK saat ini jauh lebih luas lagi.

Meski begitu, Tutut merasa masih banyak tugas yang harus dilakukan YHK untuk membangun bangsa Indonesia."Seperti pesan ibu pada kami semua anak-anaknya, apapun yang kita perbuat harus bermanfaat bagi rakyat dan harus mengandung kesetiakawanan sosial. Ibu juga selalu mengatakan, apapun yang kita persembahkan, meskipun cuma satu titik, tapi harus menjadi bagian dari pembangunan bangsa," kenang Tutut.

Hal senada juga disampaikan Sekretaris Jenderal Yayasan Harapan Kita, Mohammad Sulaeman. Disampaikannya, pendirian YHK didirikan ibu Tien dengan tujuan luhur meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia dalam arti seluas-luasnya. Kemudian pak Harto, dengan keyakinan akan kemampuan sang istri selalu mendukung setiap ide besar Ibu Tien, berikut pelaksanaannya. Selanjutnya tidak kalah perannya dengan YHK, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK) warisan Ibu Tien juga memberikan banyak manfaat langsung oleh masyarakat hingga kini.

Selama 33 tahun berkiprah, YDGRK telah menyalurkan bantuan sebanyak Rp64 miliar. Selama itu pula YDGRK telah menyalurkan bantuan di 1.099 lokasi bencana, pada 899 kejadian bencana di 34 Provinsi di Indonesia dan beberapa titik bencana dunia. Kiprah yayasan pun berskala internasional dengan pemberian santunan untuk korban musibah di Saudi Arabia, korban perang Teluk Persia, dan korban bencana di belahan dunia lainnya.

Kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK) Mohamad Yarman, melalui Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan ini, putra-putri Soeharto dididik Ayahanda dan Ibunda sebagai ujung tombak pengantar sila ke-5 Pancasila, yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Kini, di bawah komando Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut), Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan tetap melanjutkan bakti sosialnya.”Generasi ketiga keluarga Pak Harto dan Ibu Tien tampak sangat bersemangat mengikuti jejak langkah eyang, ayah dan bundanya tercinta. Mbak Danty Rukmana, Mbak Eno Sigit, Mbak Gendis Trihatmojo telah menjadi bagian pasukan terlatih Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan Siti Hartinah Soeharto. Mereka kini ujung tombak pelanjut pengabdian Presiden ke-2 RI Bapak Mohamad Soeharto dan ibu Negara Tien Soeharto, di ranah kemanusiaan tanah air Indonesia,” ungkap Yarman.

Di usianya ke-51, YHK terus berkembang pesat dengan usaha pelayanan kesehatan demi kemanusiaan dan begitu juga Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan terus diperluas kepeduliannya. Diharapkan budaya kesetiakawan sosial dan kepedulian YHK bisa memberikan virus positif bagi masyarakat sekitar, ditengah budaya untuk saling membantu antar sesama sebagai indentitas orang Timur saat ini sudah mulai terkikis oleh globalisasi.

BERITA TERKAIT

Selamatkan Teluk Jakarta - Ancol Jernihkan Air Laut Lewat Restorasi Kerang Hijau

Isu lingkungan yakni pencemaran air laut dari sampah plastik masih menjadi perhatian besar karena Indonesia menjadi negara peringkat kedua dengan…

Indocement Bantu Masyarakat Atasi Krisis Air Bersih

Air menjadi sumber kebutuhan hidup manusia, namun tidak semua masyakat Indonesia memiliki sumber akses air yang layak dan bahkan masih…

IndiHome Digital Learning - Telkom Fasilitasi Pemerataan Kualitas Pendidikan di Papua

Sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam pemerataan pendidikan di Indonesia, khususnya bagi milenial Papua. PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk…

BERITA LAINNYA DI CSR

Menjaga Eksistensi Warisan Nenek Moyang - Festival Pesona Lokal Membawa Cerita di Masa Kecil

Bandung Paris Van Java atau Paris dari Jawa adalah sebutan yang tidak asing lagi untuk menggambarkan kota Bandung yang terkenal…

Peduli Budaya Suku Pedalaman - Menteri BUMN Berikan Bantun Peletarian Suku Badui

Pesatnya dan majunya perkembangan zaman, tidak membuat eksistensi suku Badui sebagai suku terdalam di Lebak, Banten ikut punah. Bahkan sebaliknya,…

Bank Muamalat dan BMM Renovasi Rumah Warga Sukabumi

Rumah sebagai tempat tinggal atau berlindung merupakan kebutuhan pokok dari masyarakat, namun seiring dengan membengkaknya harga tanah tiap tahunnya membuat…