Pemegang Saham Muamalat Siap Jual Ke Publik - Mencatatkan Saham di BEI

Neraca

Jakarta – PT Bank Muamalat Tbk berencana menjual sahamnya ke publik ditahun ini. Nantinya mekanisme pelepasan saham ke publik itu dilakukan secara bilateral antara pemegang saham dengan publik.

Direktur PT Bank Muamalat Tbk Andi Buchori mengatakan, rencana listing di pasar modal akan dilakukan tahun ini oleh pemegang saham mayoritas,“Bila dahulu direncanakan pakai konsorsium, kini penjualan saham ke publik dilakukan secara bilateral antara pemegang saham dengan pembeli langsung, karena masih mencari harga yang tinggi, “katanya di Jakarta, Selasa (3/4).

Dia menuturkan, nilai persentase saham yang akan dilepas kepada publik belum dipastikan karena rencana ini harus disosialisasikan dengan seluruh pemegang saham (stakeholder) dan Bapepam-LK.

Rencana tersebut memberikan penegasan kebenaran soal isu ketiga pemegang saham utama Bank Muamalat seperti Islamic Development Bank (IDB), Bank dari Kuwait, Atwill Holding Ltd, IDF Foundation dan BMF Holding Ltd yang akan melepas kepemilikan sahamnya mencapai 68%. Kala itu, sudah ada yang menyatakan minat membeli Bank Muamalat diantaranya, OECB, Standard Charterd Bank, Bank Syariah Mandiri hingga Bank Mega Syariah.

Menurut Andi Buchori, rencana pelepasan saham ke publik dimaksudkan untuk meningkatkan likuiditas perseroan untuk ekspansi bisnis usaha. Hanya saja, opsi tersebut belum menjadi skala priotitas karena masih fokus untuk menerbitkan surat utang subordinasi (sukuk) berkelanjutan sebesar Rp 1,5 triliun pada semester pertama tahun 2012.

Untuk aksi korporasi ini, perseroan sudah menunjuk tiga underwriter PT Bahana Securities sebagai leadunderwriter dan PT Danareksa dan PT Indo Premier Securities. Nantinya, tahap awal penerbitan sukuk sebesar Rp 800 miliar di bulan Juli dengan berjangka waktu sepuluh tahun dan opsi buyback pada tahun kelima.

Sementara Direktur Keuangan dan Operasional Bank Muamalat Hendiarto mengungkapkan, penerbitan sukuk sudah termasuk dengan penerbitan global bond. Namun penerbitan tersebut masih menunggu hasil kajian dari para underwiter,”Soal global bond, kita masih menunggu dari penjamin emisi apakah mampu diserap atau tidak,”paparnya.

Tapi yang jelas, dana dari penerbitan sukuk tersebut akan digunakan untuk ekspansi penambahan 100 outlet dan juga 525 automatic teller machine (ATM) menjadi 800 ATM di tahun 2012, dengan total nilai investasi sebesar Rp 130 miliar. Selain itu, penerbitan sukuk Rp 1,5 triliun juga dimaksudkan untuk menjaga kecukupan modal (CAR) naik 4% dari 12% menjadi 16%, aset tumbuh 25% dan pembiayaan naik 50%.

Kinerja 2011

Sepanjang tahun 2011, PT Bank Muamalat Tbk mencatatkan laba bersih naik 60,1% dari Rp 170,9 miliar menjadi Rp 273,6 miliar dan laba sebelum pajak tercatat Rp 372 miliar atau meningkat 60,8% year on year dari Rp 231 miliar pada tahun 2010.

Tidak hanya itu, aset Bank Muamalat juga tumbuh 51,8% dan pertumbuhan ini diklaim melampaui rata-rata pertumbuhan aset perbankan nasional tahun 2011 sebesar 21,4% dan melebihi rata-rata pertumbuhan aset perbankan syariah 49,2%. Asal tahu saja, aset perseroan di tahun 2011 tercatat sebesar Rp 32,5 triliun atau meningkat Rp 11,1 triliun dari posisi tahun 2010 sebesar Rp 21,4 triliun.

Keberhasilan aset perseroan membawa market share Bank Muamalat meningkat dari 21,95% menjadi 22,33% di 2011 terhadap perbankan syariah. Kemudian pembiayaan yang disalurkan sebanyak Rp 22,47 triliun atau tumbuh 41,2% dari Rp 15,92 triliun year on year dengan financing to deposit ratio berada dalam posisi yang optimal yaitu 85,2%.

Tidak hanya itu, kredit masalah (NPF) perseroan sepanjang tahun 2011 turun dari 2,60% menjadi 1,78% dan biaya operasional (BOPO) juga turun dari 87,38% menjadi 85,25%, “Penuruan kredit masalah ini karena ada beberapa nasabah besar yang sudah direstrukturisasi,”kata Direktur Corporate Banking, Luluk Mahfudah.

Kata Luluk, saat ini perseroan masih melakukan pembiayaan proyek energi terbarukan dan dari 13 proyek, 4 sudah beroperasi. Selanjutnya untuk bisnis remitace di Hongkong dan Jedah membukukan fee base income Rp 2,4 miliar dan dari sisi forexnya mencapai Rp 19 miliar. (bani)

Related posts