Manfaatkan Patroli Siber

Di tengah kemajuan teknologi informasi, pelaku kejahatan konvensional sekarang dapat beralih fungsi menjadi penjahat siber. Pelaku dapat memangsa tanpa sama sekali pernah bertemu korbannya secara fisik. Bahkan aksinya begitu cepat, dan tidak tertutup menjadi sindikat kejahatan terorganisasi, sebagaimana jaringan pedofil online, menjarah rekening bank dan kejahatan online-nya yang terstruktur, sistematis, masif.

Tidak hanya itu. Biro Kepolisian Federal AS (FBI) mengungkapkan generasi baru kriminal siber tidak lagi semata-mata termotivasi oleh ego dan penguasaan mereka akan teknologi. Bahkan para penjahat siber itu menemukan bahwa keahlian yang mereka miliki--seperti meretas laman populer dan menciptakan virus--ternyata juga bermanfaat untuk menghadirkan beragam kenyamanan dalam hidup. Kenyamanan pribadi di atas penderitaan orang lain pada umumnya.

Jelas, kecepatan para penjahat serta perusuh siber dalam menciptakan kekacauan dan mengincar korbannya tidak akan tertandingi bila pendekatan otoritas hukum masih saja tetap konvensional. Pelaku tidak akan dapat dikejar mobil atau pun motor patroli. Pelaku sudah kabur entah ke mana, walau masyarakat bisa meminta bantuan dengan menelepon polisi agar datang atau warga mendatangi kantor polisi.

Nah, atas dasar itulah inovasi Polri dengan mewujudkan tim patrolisiber.id patut diapresiasi. Patrolisiber menjadi bukti awal bahwa korps Tribrata siap tarung di gelanggang kejahatan berbasis siber. Pesan yang terkirim ke para kriminal daring adalah, “Kalian boleh berlari, namun tidak akan mampu bersembunyi. Dan bersiaplah segera masuk ke dalam bui!”

Sebagai bentuk pemanfaatan teknologi canggih, patrolisiber niscaya merupakan ruang yang amat-sangat luas untuk pengembangan terus-menerus. Salah satunya adalah bagaimana menjadikan patrolisiber benar-benar sebagai media interaktif antara pihak kepolisian dan masyarakat pelapor.

Agar ini dapat berlangsung lebih optimal, sekaligus memunculkan efek teror terhadap pelaku maupun calon pelaku yang bergentayangan di dunia siber, adalah dengan memperluas tampilan data. Ketika saat ini data yang tersaji di patrolisiber adalah jumlah kasus (laporan), ke depan data tersebut akan semakin bernilai bila juga dilengkapi dengan jumlah laporan yang sedang atau pun telah tuntas ditangani. Juga, berapa yang sudah masuk ke peradilan. Dan, tak kalah pentingnya, jenis vonis atas kasus-kasus dimaksud. Data selengkap itu akan sekaligus memberikan gambaran utuh tentang bekerjanya sistem peradilan pidana secara keseluruhan, bukan sebatas Polri.

Bentuk inovasi berikutnya yang dapat diupayakan adalah Polri mengembangkan jebakan virtual semacam Sweetie, yaitu avatar internet yang dioperasikan organisasi seperti Terre des Hommes di Amsterdam. Avatar bernama Sweetie itu diklaim dalam waktu singkat berhasil membantu polisi meringkus ribuan predator yang mengincar anak-anak sebagai objek syahwat seksual mereka. Berkat Sweetie pula, teridentifikasi dengan cepat sejumlah negara yang menjadi lokasi keberadaan “wisatawan” seks anak, yaitu di Amerika Serikat (254), di India (103), Kanada (54), Australia (46), dan Jerman (44).

Kita tentu dapat memahami bahwa membongkar tuntas kasus-kasus yang masuk ke patrolisiber tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Publik tentu dapat memakluminya. Pada titik itulah tersajinya data secara lebih komprehensif sebagaimana digambarkan sebelumnya akan memperlihatkan posisi kendala-kendala penanganan yang mungkin muncul: apakah di institusi kepolisian atau di lembaga-lembaga penegakan hukum lainnya. Secara khusus, data rasio antara laporan yang masuk dan laporan yang tertangani juga merupakan bentuk transparansi institusi kepolisian kepada publik, salah satu elemen penting dalam dunia perpolisian demokratis.

Pada akhirnya, ada harapan yang seketika muncul seiring dengan peluncuran patrolisiber.id. Konkretnya, Polri diharapkan akan mempunyai tempo kerja lebih cepat lagi dalam mengambil langkah-langkah penegakkan hukum terhadap bentuk-bentuk kriminalitas berbasis siber. Kecepatan, di samping konsistensi kerja, merupakan prasyarat bagi terbentuknya efek jera dan sekaligus efek tangkal. Ini yang tentu saja sangat diharapkan oleh masyarakat kita. Semoga!

BERITA TERKAIT

Waspada Kejahatan Siber

Kejahatan dunia siber berupa peretasan data masih mengincar perusahaan besar, khususnya industri jasa keuangan dan perbankan. Paparan studi yang dilakukan…

Persoalan Serius BPJS Kesehatan

    Persoalan yang dihadapi BPJS Kesehatan ternyata membuat membuat Kemenkeu harus memutar otak bagaimana menutup defisit yang terus membengkak belakangan…

Waspadai Medsos Negatif

Saat ini hampir setiap orang sangat memungkinkan untuk saling terhubung bahkan tanpa saling bertatap muka, berbeda ketika di masa lalu…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Waspada Kejahatan Siber

Kejahatan dunia siber berupa peretasan data masih mengincar perusahaan besar, khususnya industri jasa keuangan dan perbankan. Paparan studi yang dilakukan…

Persoalan Serius BPJS Kesehatan

    Persoalan yang dihadapi BPJS Kesehatan ternyata membuat membuat Kemenkeu harus memutar otak bagaimana menutup defisit yang terus membengkak belakangan…

Waspadai Medsos Negatif

Saat ini hampir setiap orang sangat memungkinkan untuk saling terhubung bahkan tanpa saling bertatap muka, berbeda ketika di masa lalu…