Cadangan Devisa Naik, Rupiah Makin Kokoh

VALAS

Cadangan Devisa Naik, Rupiah Makin Kokoh

Jakarta—Peningkatan cadangan devisa dan kondisi makro ekonomi Indonesia menyebabkan nilai rupiah tukar rupiah terus mengalami penguatan. “Yang jelas, beberapa faktor internal yang mendorong penguatan rupiah kali ini antara lain cadangan devisa, hingga keadaan ekonomi makro Indonesia yang solid,”kata analis valas Roy Sembel kepada wartawan di Jakarta,10/3.

Pergerakan rupiah pada perdagangan kali ini masih dibuntuti oleh tren penguatan dalam jangka waktu menengah dikarenakan faktor internal Indonesia mengalami perbaikan. "Pergerakan rupiah kali ini berada dalam kisaran Rp8.750-Rp8.790," tambahnya.

Selain itu, kata Roy, krisis politik di Timur Tengah, seperti Libia, Yaman dan lainnya memberi sentimen positif bagi Indonesia. Karena itulah mala para investor mengalihkan investasinya terhadap negara lain, termasuk Indonesia yang dilirik asing sehingga banyak uang asing masuk ke Indonesia. "Dengan membaiknya situasi ini, tidak lama lagi Indonesia akan menjadi negara investment grade dan hal ini akan membuat ekspor Indonesia makin meningkat," tandasnya.

Hal yang sama dikatakan Albertus Christian K, periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures mengatakan, penguatan rupiah hari ini salah satunya dipicu oleh kekhawatiran pasar atas kembali melambungnya inflasi domestik seiring kenaikan harga minyak mentah dunia. Kondisi itu, menggiring ekspektasi pada kenaikan BI rate ke level 7,5% di 2011 ini.

Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabu (9/3) ditutup menguat 8 poin (0,09%) jadi 8.779/8.789 per dolar AS dari posisi kemarin di level 8.787/8.789. Tapi, di sisi lain, pertumbuhan ekonomi RI diperkirakan masih positif di level 6,6% tahun ini. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah sempat mencapai level terkuatnya 8.760 dan 8.788 sebagai level terlemahnya,” katanya

Menurut Christian, saat ini telah terjadi kenaikan harga rokok sehingga ekspektasi atas headline inflation jadi bengkak. "Setelah awal bulan Maret BI rate dipertahankan di level 6,75%, karena inflasi Februari jauh lebih rendah 0,13% dari Januari 0,89%, ada peluang kenaikan suku bunga di semester dua," ujarnya.

Apalagi, katanya, melihat perkembangan harga komoditas minyak yang mencapai di atas US$106 per barel dan stabil di US$104 per barel, headline inflation semakin tinggi. "Apalagi, pemerintah berencana untuk menarik subsidi. Bisa dengan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium maupun pelarangan untuk mobil pelat hitam," ungkapnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Naik Turun Harga Tiket Pesawat

Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesia National Carriers Association/INACA) sepakat untuk menurunkan tiket pesawat, yang sempat melambung beberapa waktu belakangan.…

Utang Luar Negeri Naik 7% Jadi Rp5.220 Triliun

  NERACA Jakarta - Utang luar negeri Indonesia naik tujuh persen secara tahunan menjadi 372,9 miliar dolar AS per akhir…

Sentimen Positif Rupiah Topang Kinerja IHSG

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (15/1), indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Pertahankan Suku Bunga

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar enam persen…

OJK Sebut DP 0% Gairahkan Sektor Produktif

      NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengklaim kebijakan penghapusan uang muka kendaraan bermotor pada perusahaan…

SMF Kerjasama Operasional dengan Bank Penyalur KPR FLPP

    NERACA   Jakarta - PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama operasional dengan bank penyalur…