Presiden Ingin Defisit Garam Cepat Diatasi - IMPOR MASIH MENDOMINASI

NERACA

Jakarta – Presiden Joko Widodo menilai bahwa potensi garam yang dihasilkan di tambak garam Desa Nunkurus Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) bisa menjadi garam industri. Jokowi mengatakan bahwa saat tiba di Nunkurus dirinya sempat ditunjukkan perbandingan antara garam dari Madura, Surabaya dan dari Australia dengan garam dari Desa Nunkurus.

"Garam di sini bagus. Putih. Bisa menjadi garam industri, " kata Jokowi kepada wartawan usai meninjau tambak garam di Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, NTT Rabu (21/8).

Selain menjadi garam industri orang nomor satu di Indonesia itu mengatakan bahwa garam yang ada tersebut juga jika diolah lagi bisa masuk menjadi garam konsumsi. "Tapi ini membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Di sini (Nunkurus) adalah investasi pertama. Dan di sini baru 10 hektare dari 600 hektare," ungkap dia seperti dikutip Antara di Jakarta.

Dari 600 hektare itu kata dia baru akan dikembangkan semuanya pada tahun 2020. Dan untuk NTT sendiri potensi garam yang dapat dikembangkan mencapai 21 hektare. "Kalau dilihat dari 10 hektare itu masih jauh sekali untuk bisa mencapai 21 hektare, " tambah dia.

Menurut dia garam yang sedang dikembangkan saat ini adalah garam yang sangat bagus dan berpotensi untuk menjadi garam Industri. "Tetapi kalau dikembangkan lagi akan sangat bisa menjadi garam konsumsi," ujarnya.

Indonesia sendiri, kata dia, saat ini masih mengimpor garam industri sebesar 3,7 juta ton. Saat ini yang baru diproduksi dalam negeri baru mencapai 1,1 juta ton. "Masih jauh sekali produksi lokal dari impor yang kita lakukan," tambah dia.

Jokowi menjelaskan, untuk membawa investor untuk berinvestasi garam itu sangat sulit. Ia mencontohkan untuk di Desa Nunkurus saja diperkirakan nilai investasinya mencapai Rp100-an miliar. Terkait apakah ada insentif khusus untuk para investor, kata dia, hingga saat ini belum ada karena dirinya baru saja melihat potensi pengembangan garam di daerah itu.

Presiden ingin memastikan kekurangan garam di Tanah Air mulai diatasi sehingga impor bisa segera ditinggalkan. "Saya ke sini hanya ingin memastikan bahwa program untuk urusan garam ini sudah dimulai. Karena kita tahu impor garam kita 3,7 juta (metrik) ton, sementara yang bisa diproduksi dalam negeri baru 1,1 juta ton. Masih jauh sekali," kata Presiden.

Secara keseluruhan, Provinsi NTT memiliki potensi besar produksi garam dengan luas tambak kurang lebih 21.000 hektare. Khusus Kupang, setidaknya 7.000 hektare lahan dapat dikembangkan untuk tujuan tersebut. Sementara lokasi tambak garam yang dikunjungi Presiden Rabu ini berproduksi di atas lahan tambak seluas 10 hektare dari potensi 600 hektare yang ada.

Selain itu, Presiden melanjutkan, para petani tambak setempat juga akan diberdayakan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan. “Tahun depan akan selesai 600 hektare, petani tambak diikutkan juga. Kerja sekaligus ikut (memiliki) seperti saham sehingga nanti penghasilan masyarakat di sini bisa lebih baik,” ucapnya.

Pemerintah terus mendorong peningkatan produktivitas dan kualitas garam dalam negeri, sehingga bisa terserap sesuai kebutuhan dunia industri. Untuk itu, diperlukan investasi guna membangun ketahanan industri dan pangan nasional.

“Seperti yang disampaikan oleh Bapak Presiden Joko Widodo, bahwa kita memerlukan investasi yang cukup besar dalam upaya peningkatan kualitas garam lokal,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

Pada kesempatan itu, Kepala Negara bersama Menperin dan rombongan, sekaligus meninjau tambak garam di desa Nunkurus, Kupang, NTT. Di lokasi ini, kualitas garamnya dinilai cukup baik untuk diserap oleh industri. Sementara lahan yang baru tergarap seluas 10 hektare (ha) untuk produksi garam, dari potensi lahan yang tersedia mencapai 600 ha.

Sedangkan, khusus di Teluk Kupang, tersedia lahan garam seluas 7.700 ha. Sisanya tersebar di berbagai wilayah NTT, antara lain di Kabupaten TTU, Malaka, Sabu Raijua, Rote Ndao dan Nagekeo.

Airlangga menyampaikan, dengan adanya investasi masuk, akan terjalin sinergi antara sektor industri dengan para petani garam. Di lahan garam desa Nunkurus, sudah masuk investasi sebesar Rp110 miliar. Tahun depan ditargetkan bisa tergarap hingga 600 ha.

Sementara itu, optimisme Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Laiskodat tampaknya terlalu berlebihan, jika berasumsi untuk menjadikan wilayah provinsi berbasis kepulauan ini sebagai daerah penghasil garam terbesar di Indonesia.

Meskipun demikian, optimisme tetap dikedepankan agar NTT bisa berandil dalam membantu mengurangi defisit neraca perdagangan nasional dengan meningkatkan produksi k garam yang sedang dikembangkan saat ini.

"Defisit neraca perdagangan Indonesia cukup lumayan, kami siap membantu mengurangi defisit lewat peningkatan produksi garam. Saya targetkan NTT mampu memproduksi 1,5 juta metrik ton untuk kebutuhan nasional, paling lambat hingga tahun 2025," kata Viktor Laiskodat.

Pada kesempatan lain, Direktur Utama PT Garam R Achmad Budiono mengatakan nilai investasi yang dibutuhkan untuk menggarap lahan 400 hektare dengan potensi produksi 60.000 ton per tahun sekitar Rp20 miliar. Lahan tersebut merupakan milik masyarakat dan berstatus tanah ulayat.

“Sesegera mungkin kami produksi, lahannya sudah jadi, tinggal menyelesaikan persoalan tanah ulayat. Untuk NTT seluruhnya untuk garam industri, karena garam yang dihasilkan kadar NaCl di atas 97 persen,” tuturnya.

Proses negosiasi dengan masyarakat akan dikawal oleh pemerintah daerah dan Kemenperin. Perusahaan berharap dapat menggarap seluruh lahan potensial di Kupang yang mencapai 7.000 hektare.

Untuk ke depannya, setelah aktivitas produksi berlangsung pemerintah harus mengontrol alokasi impor garam industri agar produksi lokal terserap. Apalagi, berdasarkan perhitungan perusahaan, nilai keekonomian garam yang dihasilkan mampu bersaing dengan Australia. mohar/bari/munib

BERITA TERKAIT

Wapres : RUU Pertanahan Berpihak Pada Semua Unsur

NERACA Jakarta - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla menegaskan rancangan undang-undang (RUU) tentang pertanahan dibuat untuk kepentingan semua pihak, baik…

Perluasan Posisi TKA Perlu Diikuti Transfer Pengetahuan

  NERACA Jakarta – Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menilai perluasan posisi atau jabatan tenaga kerja asing dalam sektor-sektor industri terutama…

KOMITMEN PERUSAHAAN MULTINASIONAL DIPERTANYAKAN - Presiden: Menteri Segera Atasi Kendala Investasi

Jakarta-Presiden Jokowi ingin masing-masing kementerian/lembaga (K/L) melakukan inventarisasi realisasi dari komitmen investasi yang sudah diberikan oleh perusahaan-perusahaan multinasional di Indonesia.…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

DIALOG KEPALA NEGARA DENGAN KALANGAN PENGUSAHA - Presiden: Ancaman Resesi 1,5 Tahun ke Depan

Jakarta-Presiden Jokowi terus mengingatkan agar seluruh pemangku kepentingan berhati-hati menghadapi ancaman resesi ekonomi dalam 1-1,5 tahun ke depan. Karena, menurut…

Dituntut Inovasi dan Bersaing Global - Pengusaha Muda Jangan Bergantung Proyek Pemerintah

NERACA Jakarta – Keterlibatan peran swasta dalam pembangunan ekonomi di Indonesia, sangat diperlukan khususnya para pengusaha muda. Hanya saja, peran…

Kemenhub Diminta Kembangkan Logistik Dukung Pertumbuhan

NERACA Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution berharap agar Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersungguh-sungguh mengembangkan transportasi logistik guna mendukung…