Wisata Belanja Barang Antik di Jakarta

NERACA. Jakarta memang menyimpan banyak sejarah juga cerita. Ibukota Indonesia ini memang sudah berumur lebih dari 400 tahun. Kota Jakarta memang dihuni oleh bermacam-macam etnis juga suku bangsa, dari warga lokal hingga warga asing, karena itu Jakarta menghasilkan dan menjadi tempat dari berbagai unsur kebudayaan.

Selain menjadi tempat berkumpulnya orang-orang dari berbagai etnis, suku bangsa bahkan belahan dunia, Jakarta pun menjadi tempat untuk berbagai para wisatawan. Bermacam-macam tempat pariwisata di Jakarta menjadi tempat dan tujuan bagi ribuan wisatawan asing maupun domestik.

Barang-barang antik memang sangat mendapat tempat dijakarta, bagi penggemarnya, jakarta memang menjadi surga wisata untuk berbelanja barang antik. Tepatnya di pasar Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat ini, tempat ini menjadi primadona barang antik di Jakarta.

Pasar yang diresmikan Gubenur DKI Jakarta Bang Ali Sadikin ini sudah ada sejak tahun 1960-an. Gubernur Ali Sadikin menetapkan tempat ini sebagai salah satu objek wisata utama di Jakarta pada saat itu. Hingga saat ini Pasar Jalan Surabaya tetap ramai dengan pedagang barang antik dan wisatawan pemburu barang antik maupun wisata yang hanya ingin sekadar melihat-lihat atau bejalan-jalan.

Di pasar ini kita dapat jumpai banyak jenis barang-barang antik. Barang antik di sini ada yang berasal dari kapal laut, seperti stir kapal, teropong, jam kapal, telegram dan barang yang berada di kapal lainnya, tetapi semakin lama barang antik yang dijual pun semakin beragam, adanya penambahan barang kristal, porselen dan lukisanbahkan piringan hitam, kaset-kaset jadul sampai koper-koper dan kamera-kamera analog zaman dahulu.

Pasar ini memang sudah memiliki banyak pelanggan tetap, dari wisatawan domestik hingga wisatawan mancanegara. Karena terkenalnya, mantan Presiden Amerika, Bill Clinton, pernah mampir dan menengok pasar ini pada 1994.Pasar ini memang tidak pernah sepi, setiap harinya ada saja pengunjung ataupun wisatawan mancanegara.

Wisatawan Asia terlihat sering mengunjungi Pasar Jalan Surabaya di antaranya wisatawan asal China, wisatawan asal Hongkong memang sering berkunjung untuk berbelanja benda-benda antik seperti benda-benda porselen, lampu-lampu ruangan dan terkadang furnitur seperti meja dan kursi yang vintage dan terlihat jadul. Memang tidak semua yang dijual di Pasar Surabaya adalah barang zaman dahulu, tapi barang-barang baru pun yang terlihat zaman dahulu banyak dijual di sini. Jadi pembeli juga harus teliti dan pandai-pandai memilih.

Sebagian pengunjung memang mengerti dan sudah paham juga pandai membedakan antara barang antik yang sudah berumur dengan barang antik yang baru. Namun memang para wisatawan terkadang tidak hanya mencari barang antik yang sudah berumur saja, banyak di antara mereka lebih memilih barang yang terlihat antik walaupun barang tersebut baru dan belum berumur.

Bukan hanya sekadar wisata berbelanja, Pasar Jalan Surabaya juga menjadi wisata jalan-jalan, bukan hanya karena dagangan Pasar Jalan Surabaya yang beragam tentang barang-barang antik, tetapi juga karena nuansa dan suasana Pasar Jalan Surabaya yang asyik untuk dikunjungi. Pohon-pohon yang rindang menghiasi dan menutup pinggiran jalan-jalan Pasar Surabaya, dengan begitu para pengunjungpun tidak perlu takut kepanasan lagi, gaya toko-toko yang seragam dan terlihat zaman dahulu sekali membuat betah dan banyak menarik banyak pengunjung.

Para pengunjung terkadang datang hanya untuk mencari tahu dan berjalan-jalan di pasar ini, bahkan turis asing sangat sering datang hanya untuk berfoto-foto di sepanjang pertokoan dan di dalam toko-toko ini. Pasar Jalan Surabaya memang sudah sangat dikenal luas di mancanegara, bahkan penyanyi, penulis lagu dan aktris Amerika Serikat yang lahir dan dibesarkan di Santa Barbara, Amerika Serikat Katy Perry berkunjung ke Pasar Surabaya ini setelah pementasannya di Jakarta.

Berbagai komunitas barang-barang antik memang sering datang dan terkadang berkumpul hanya untuk membahas tentang barang koleksinya ataupun sekadar bertukar informasi tentang barang koleksinya. Wahyu ‘Acum’ Nugroho Basis Band Indie Bangku Taman yang juga seorang editor majalah terkemuka di Jakarta ini sering cabut di tengah-tengah jam kerjanya buat kongko-kongko ataupun sekadar melihat koleksi terbaru dari piringan hitam di Pasar Surabaya ini. Acum bersama teman-temannya biasa berkumpul di salah satu tempat penjual piringan hitam.

Pasar ini memang menjadi warisan sejarah yang harus terus dijaga keberadaannya. Bukan karena sudah banyak mendatangkan wisatawan dari berbagai mancanegara, tapi karena juga keberadaannya yang sudah menjadi situs sejarah dan situs wisata yang mendunia, lokasinya pun mudah diakses, dekat dengan Cikini dan Manggarai, walaupun hanya buka hingga sore, namun pengunjung tetap ramai datang untuk berwisata berbelanja barang antik.(bias)

BERITA TERKAIT

KPK Dorong Keluarnya Perma Soal Barang Rampasan

KPK Dorong Keluarnya Perma Soal Barang Rampasan NERACA Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendorong keluarnya peraturan Mahkamah Agung (perma)…

Selamat Datang Pemimpin Baru Jakarta

Oleh: Susylo Asmalyah Gedung Balaikota Jakarta mulai berbenah karena terlihat panitia dan segala perangkat telah bersiap menyambut kedatangan Gubernur dan…

Klarifikasi Artikel Opini MRT Jakarta

Sehubungan dengan terbitnya artikel dalam Harian Ekonomi Neraca berjudul “Peran MRT Dalam Pembangunan Berorientasi Transportasi” edisi 11 Oktober 2017 (link…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Galeri Nasional Pamerkan Karya Seni Rupa Pascareformasi

Galeri Nasional Indonesia bekerjasama dengan Japan Foundation Asia Center menyelenggarakan pameran "Resipro(vo)kasi: Praktik Seni Rupa Terlibat di Indonesia Pascareformasi" pada…

Prosesi Sedekah Laut di Cilacap dihadiri Ribuan Orang

Ribuan orang dari berbagai wilayah di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menyaksikan prosesi sedekah laut yang merupakan tradisi budaya nelayan setempat…

Jogja Street SculptureProject 2017 Hadirkan 54 Karya Patung

Jogja Street Sculpture Project (JSSP) 2017 akan digelar di Kawasan Kotabaru, Yogyakarta, dengan menghadirkan sebanyak 54 karya patung dari 50…