Potensi Lahan Tambak Garam di Kupang Diperkirakan 10.000 Ha

NERACA

Jakarta – Pemerintah Kabupaten Kupang, NTT, memperkirakan potensi luas area tambak garam di wilayahnya bisa mencapai 10 ribu hektare. "Ada banyak area garam yang ada di wilayah Kabupaten Kupang. Kalau diprediksi luas area tambak garam di sini bisa mencapai tujuh sampai 10 ribu hektare," kata wakil Bupati Kupang Jerry Manafe sebagaimana disalin dari laman kantor berita Antara di Jakarta.

Potensi area tambak di Kabupaten Kupang dinilai mampu memenuhi kebutuhan garam nasional yang hingga saat ini masih impor. Ia menyebutkan luas area garam itu tersebar di beberapa desa seperti Bipolo, Sulamu, Bau Bau, Merdeka, Oebelo dan Tanah Merah. "Kami melihat bahwa ini adalah potensi yang diberikan Tuhan kepada kami, kepada masyarakat di sini untuk bisa dikelola secara baik," ujarnya.

Sayangnya, kata dia, sejauh ini potensi yang bagus itu belum dikembangkan secara baik sehingga selama beberapa tahun ini potensi yang ada tidak dikembangkan. Pemkab Kupang berterima kasih karena dengan perhatian besar dari Gubernur NTT Viktor B Laiskodat dan Presiden Jokowi akan melakukan panen garam pada Rabu siang ini membuktikan bahwa potensi garam di daerah itu berkualitas tinggi.

Oleh karena itu ia berharap masyarakat di Kabupaten Kupang bisa memanfaatkan potensi yang ada saat ini untuk peningkatan kehidupan ekonominya. Saat ini, lanjut dia, untuk lahan garam di Nunkurus saja ada 600 pekerja lokal yang bekerja di lahan tersebut dengan gaji Rp100 ribu per hari.

"Anggap saja mereka kerja selama 24 hari kerja tentu gaji mereka lebih besar dari gaji honor pegawai yang kerja sebagai tenaga honorer pemerintahan yang hanya mencapai Rp1,5 juta per bulan, " tambah dia.

Ia menambahkan 600 pekerja lokal itu baru bekerja di 11 hektare area tambak garam di daerah itu yang masih bisa dikembangkan menjadi 600 hektare. "Bayangkan saja, bagaimana tidak sejahtera masyarakat di sini dengan hanya melalui tambak garam," tambah dia.

Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor B Laiskodat mengklaim kualitas garam di wilayahnya setara dengan negara tetangga Australia. "Garam yang kita hasilkan khususnya di Kabupaten Kupang ini kualitasnya setara dengan kualitas garam impor dari Australia," katanya dalam pidato saat upacara memperingati HUT Ke-74 RI di alun-alun rumah jabatan Gubernur NTT, Kota Kupang.

Menurut dia, panen garam di NTT akan dilakukan pada pertengahan Agustus ini yang nantinya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan garam di Indonesia. Viktor Laiskodat memastikan bahwa Presiden Joko Widodo akan hadir dan melakukan panen perdana garam tersebut. "Pada 21 Agustus nanti Presiden akan datang dan melakukan panen perdana garam di Kabupaten Kupang ini," tambah dia.

Orang nomor satu di NTT itu menambahkan bahwa potensi garam cukup besar di NTT karena sebagai provinsi kepulauan, mempunyai garis pantai yang sangat panjang. NTT, kata dia, menjadi provinsi yang mampu menyumbangkan produksi garam nasional untuk mengurangi impor. "Kita terus mendorong agar produksi garam kita terus meningkat dan membawa manfaat bagi petani garam di NTT ini," tambah dia.

Ia optimistis NTT akan terus menjadi provinsi pemasok garam nasional untuk mengurangi impor garam di Indonesia. Mantan anggota DPR RI itu menambahkan potensi yang dimiliki itu untuk mewujudkan NTT yang sejahtera. Namun hal utama yang akan diperhatikan, kata dia, adalah peningkatan SDM masyarakat di daerah itu agar bisa seimbang dengan potensi-potensi yang ada di NTT.

Presiden Joko Widodo menemukan ribuan hektare tambak garam di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang konsesinya dimiliki pihak swasta namun tidak digarap dengan serius. "Saya telpon Menteri ATR/BPN minta supaya itu diserahkan ke rakyat untuk dikerjakan," kata Jokowi saat peresmian Bendungan Rotiklot di Kabupaten Belu, NTT, belum lama ini.

Kepala Negara menyebutkan ada lahan tambak garam ribuan hektare yang konsesinya dikuasai swasta namun tidak dikerjakan. "Ini yang saya perintahkan ke menteri, karena swasta tidak mengerjakan, kasih ke rakyat," katanya.

Ia menyebutkan pada Juli-Agustus 2019 nanti ada sebagian lahan garam yang dikelola rakyat dan akan panen. Menurut dia, dari produksi garam itu, warga memperoleh pendapatan hingga Rp15 juta per bulan yang bisa menambah kesejahteraan. "Agustus nanti panen garam dan sertifikat lahannya kita berikan ke rakyat," katanya.

Jokowi mengatakan saat ini dirinya tidak mempunyai beban apa-apa sehingga untuk kepentingan rakyat bisa diputuskan dengan segera. "Mungkin saya akan bolak balik ke sini untuk mengecek, mutusin. Dulu mungkin presiden hanya sekali dalam lima tahun ke sini. Saya gak tahu saya ke sini sudah berapa kali, ini karena begitu cintanya kepada NTT, " kata Jokowi.

BERITA TERKAIT

Tingkatkan Daya Saing, KKP Dorong Digitalisasi UMKM Kelautan dan Perikanan

NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kelautan dan perikanan untuk memanfaatkan…

API Sarankan Pemerintah Tambah Sekolah Industri Tekstil

NERACA Jakarta – Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyarankan agar pemerintah menambah jumlah sekolah dan lembaga pendidikan untuk mencetak sumber daya…

Energi - Jaga Efisiensi Sektor Migas, Maksimalkan Industri Dalam Negeri

NERACA Jakarta – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama PT Pertamina Hulu…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Tingkatkan Daya Saing, KKP Dorong Digitalisasi UMKM Kelautan dan Perikanan

NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kelautan dan perikanan untuk memanfaatkan…

API Sarankan Pemerintah Tambah Sekolah Industri Tekstil

NERACA Jakarta – Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyarankan agar pemerintah menambah jumlah sekolah dan lembaga pendidikan untuk mencetak sumber daya…

Energi - Jaga Efisiensi Sektor Migas, Maksimalkan Industri Dalam Negeri

NERACA Jakarta – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama PT Pertamina Hulu…