Ekspor Obat Hewan Tembus Rp26 Triliun Sejak 2015

NERACA

Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat rekomendasi ekspor produk peternakan sejak 2015 sampai semester I 2019 sebesar Rp38,39 triliun dengan kontribusi terbesar dari kelompok obat hewan sebesar Rp26 triliun.

"Terdapat lebih dari 90 negara yang menjadi tujuan ekspor utama obat hewan buatan Indonesia. Beberapa negara yang menjadi tujuan ekspor antara lain Belgia, Amerika Serikat, Jepang, dan Australia," kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut Diarmita disalin dari Antara.

Ketut menjelaskan tingginya nilai ekspor obat hewan ini sangat menggembirakan bagi dunia usaha di bidang obat hewan. Fakta ini sekaligus menunjukkan obat hewan mempunyai kontribusi yang besar dalam peningkatan devisa negara. Sejak diterapkannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2016 lalu, Kementan terus berusaha untuk mendorong peningkatan jumlah produsen obat hewan dalam negeri.

Berdasarkan data Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, saat ini terdapat 61 dari 95 produsen obat hewan dalam negeri memiliki Sertifikat Cara Pembuatan Obat Hewan Yang Baik (CPOHB).

Menurut Ketut, pihaknya terus mendorong penerapan CPOHB dan percepatan administrasi pelayanan rekomendasi untuk mendorong peningkatan ekspor obat hewan. "Sertifikat CPOHB ini menjadi acuan bahwa obat hewan yang diproduksi terjamin mutu, keamanan, dan khasiatnya sehingga berdaya saing tinggi," kata Ketut.

Kementan juga terus mendorong produsen obat hewan agar kreatif mengembangkan produk dari bahan lokal. Penggunaan bahan lokal diharapkan dapat mengurangi impor. Ia menambahkan pelaku usaha didorong agar menggunakan produk prebiotik yang memanfaatkan dari bahan tanaman dan herbal, selain itu juga untuk produk immunostimulan, serta vaksin dari mikroorgamisne dan zat penambah yang ada di Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar produk nonmigas asal Indonesia dengan nilai 13,6 miliar dolar AS sepanjang Januari-Juli 2019. "Tiongkok masih menjadi pasar utama ekspor Indonesia di mana kontribusinya sebesar 15,53 persen dari total ekspor," kata Kepala BPS Kecuk Suhariyanto.

Kecuk memaparkan, komoditas utama yang diekspor ke negeri tirai bambu itu pada periode tersebut adalah lignit, besi atau baja, dan bubur kertas (pulp). Negara tujuan ekspor terbesar selanjutnya yakni Amerika Serikat dengan nilai 9,9 miliar dolar AS atau berkontribusi 11,26 persen.

Sedangkan, ekspor RI ke Jepang mencapai 7,9 miliar dolar AS atau menyumbang 8,99 persen. Adapun andil ketiga negara tersebut terhadap kinerja ekspor nonmigas Indonesia mencapai 35,77 persen. "Meskipun sekarang nilainya lebih kecil dibandingkan periode yang sama tahun lalu," ujar Kecuk. Menurut Kecuk, peningkatan ekspor nonmigas Juli 2019 jika dibandingkan Juni 2019 terjadi di hampir semua negara tujuan utama, termasuk tiga negara tujuan ekspor terbesar tersebut.

Menurut data BPS, ekspor produk asal Indonesia ke Tiongkok naik 469,7 juta dolar AS atau 25,92 persen. Sedangkan, ekspor ke Amerika Serikat naik 507,2 juta dolar AS atau 47,08 persen. Sedangkan, ekspor ke Jepang naik 193,4 juta dolar atau 18,87 persen.

Bank Indonesia memandang pelemahan kurs mata uang yuan, China, tidak akan semakin menggerus kinerja ekspor Indonesia, jika volume permintaan yang tinggi terap terjaga dan perluasan pasar ekspor.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan secara jangka pendek, mata uang yuan yang terdevaluasi tidak akan berpengaruh terhadap perdagangan ke mancanegara dari Indonesia.

Dia menyebutkan faktor yang akan sangat berpengaruh adalah jika terjadi pelemahan permintaan atau penurunan kualitas barang ekspor Indonesia. "Kita tidak terpengaruh banyak dari sisi (devaluasi) yuan, karena porsi kita bukan ditentukan dari sisi nilai tukar. Transaksi ekspor dalam jangka pendek tidak terkait banyak dengan devaluasi yuan, tapi lebih ke permintaan dan kualitas," ujar dia.

Pemerintah Indonesia tengah berupaya menggenjot ekspor dengan perluasan pasar termasuk melalui upaya peningkatan perdagangan bilateral. Kontraksi kinerja ekspor selama kuartal II 2019 telah memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pada kuartal II 2019 pertumbuhan ekspor tercatat minus 1,81 persen (yoy), padahal pada kuartal II 2018 ekspor masih tumbuh 7,65 persen (yoy). Dody mengatakan BI akan selalu bersiaga di pasar untuk memastikan nilai rupiah tetap sejalan dengan fundamentalnya.

BERITA TERKAIT

Sesuai Standar Global, Pertamina Atasi Tumpahan Minyak

Jakarta-Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menilai penanganan tumpahan minyak di perairan Karawang, Jawa Barat, yang dilakukan Pertamina selama dua…

Perdagangan Bilateral - Selaput Biji Pala 5 Ton Senilai Rp1,3 Miliar Diekspor ke India

NERACA Jakarta – Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian melepas ekspor 5 ton komoditas selaput biji pala asal Maluku Utara…

OPEC Pangkas Perkiraan Permintaan Minyak di 2020

NERACA Jakarta – OPEC pada Rabu memangkas perkiraan untuk pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2020 karena perlambatan ekonomi, sebuah pandangan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Kebakaran Lahan Perkuat Stigma Buruk Perkebunan Sawit

NERACA Jakarta – Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Provinsi Sumatera Selatan Sumarjono Saragih mengatakan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi…

Dunia Bisnis - Pengusaha Perikanan Nasional Perlu Manfaatkan Perang Dagang

NERACA Jakarta – Pengusaha perikanan dari berbagai daerah perlu untuk segera memanfaatkan momentum perang dagang dengan cara memasok komoditas perikanan…

Sektor Pangan - Ini Sebab Realisasi Impor Daging Sapi Brazil Mundur Hingga 2020

NERACA Jakarta – Perum Bulog menyatakan impor daging sapi sebesar 30.000 ton dari Brazil baru terealisasi pada 2020 atau mundur…