Perjanjian Dagang Diharapkan Topang Kinerja Ekspor

NERACA

Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengaku optimistis target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3 persen pada tahun 2020 dapat tercapai, salah satunya melalui konsumsi dalam negeri.

"Harus (optimis), tidak ada pilihan. Kita melihat ada 'opportunity', yang pasti adalah 'domestic consumption' yang harus didorong, karena pertumbuhan ekonomi dari konsumsi domestik itu besar," kata Mendag usai menghadiri Penyampaian Nota Keuangan di Kompleks DPR/MPR RI Senayan, Jakarta, disalin dari Antara.

Dalam RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2020 beserta Nota Keuangan, Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa Pemerintah mematok pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3 persen pada tahun 2020 dengan konsumsi dan investasi sebagai motor penggerak.

Angka ini lebih tinggi dari target pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2019 sebesar 5,2 persen. Namun demikian, Enggar mengaku pengaruh dari konsumsi dalam negeri dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi tersebut.

Menteri Enggartiasto mendampingi Presiden Joko Widodo pada peluncuran Indonesia Great Sale yang digelar pada 14-25 Agustus 2019. Ajang yang diselenggarakan atas kerja sama Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) ini menggandeng produk-produk usaha kecil dan menengah (UKM) terutama dari sektor fesyen dan kuliner.

"Itu tujuannya bukan hanya untuk memberi diskon, tetapi mendorong konsumsi domestik dan itu akan memberikan kontribusi yang besar," katanya.

Selain melalui konsumsi dalam negeri, Enggar menjelaskan bahwa target pertumbuhan ekonomi dicapai melalui peningkatan kinerja ekspor dari sejumlah perjanjian dagang yang mulai dapat diaplikasikan.

Dia mengatakan selain Indonesia-Cile Comprehensive Economic Partenership Agreement (IC-CEPA) yang sudah diimplementasikan tahun ini, pada tahun depan Indonesia-Australia CEPA (IA-CEPA) juga ditargetkan mulai dapat diimplementasikan.

"Australia kan percepatan untuk otomotif. Kita mendapatkan tarif yang terbaik terutama untuk mobil listrik. Presiden sudah melakukan percepatan dan akan mendorong peningkatan ekspor," kata Enggar.

Presiden Joko Widodo mengatakan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 dipatok sebesar 5,3 persen dengan penggerak utama adalah konsumsi dan investasi. "Pada tahun 2020, tiga strategi kebijakan fiskal, yaitu memobilisasi pendapatan dengan tetap menjaga iklim investasi, meningkatkan kualitas belanja agar lebih efektif dalam mendukung program prioritas, serta mencari sumber pembiayaan secara hati-hati dan efisien melalui penguatan peran kuasi fiskal," kata Presiden saat menyampaikan Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2020 beserta Nota Keuangannya di depan Rapat Paripurna DPR RI, Jakarta. Pemerintah juga menetapkan asumsi ekonomi makro lainnya, yaitu tingkat inflasi akan tetap dijaga rendah pada tingkat 3,1 persen untuk mendukung daya beli masyarakat.

Selain itu, Enggartiasto Lukita juga meminta komoditas ekspor ke China, sebagai negara tujuan ekspor terbesar Indonesia untuk produk nonmigas, harus lebih spesifik. "Misalnya ke China harus komoditas yang tidak diproduksi oleh mereka, komplementer, seperti buah tropis, sarang burung walet, kelapa sawit, batubara, nikel itu sudah pasti tidak ada di sana," kata Menteri Enggar usai menghadiri Penyampaian Nota Keuangan di Kompleks DPR/MPR RI Senayan, Jakarta, pekan lalu.

Enggar memaparkan hasil kunjungan kerjanya ke negara Tirai Bambu tersebut beberapa waktu lalu. Pemerintah China, kata dia, bersedia membuka dan memberikan percepatan akses terhadap impor buah-buahan tropis, seperti nanas, manggis, mangga, durian dan alpukat dari Indonesia.

Hanya Vietnam dan Thailand yang menjadi negara pesaing pasar ekspor buah-buahan tropis ke China. Oleh karena itu, potensi ekspor dari komoditas ini masih sangat terbuka. Selain itu, komoditas ekspor yang diprioritaskan adalah sarang burung walet. Menurut Enggar, Indonesia menjadi negara produsen terbesar dunia untuk komoditas tersebut.

Sarang burung walet menjadi komoditas yang potensial untuk meningkatkan kinerja ekspor produk nonmigas Indonesia, karena nilainya mencapai Rp40 juta per kilogram. Produksi sarang burung walet mencapai 1.700 ton per tahun, namun ekspornya baru mencapai 70 ton. "Beberapa negara sebagian selundupan dari kita. Kalau bisa kita tingkatkan ekspornya 10 kali lipat saja, sudah bisa mengkonversikan penyelundupan itu menjadi resmi," katanya.

BERITA TERKAIT

Dunia Usaha - Daya Saing Tekstil Indonesia di Pasar Internasional Merosot

NERACA Jakarta – CEO Busana Apparel Group Maniwanen menyebutkan bahwa waktu proses (lead time) dari tahap pembuatan hingga distribusi garmen…

Kemendag Musnahkan Temuan Impor Tak Sesuai Izin

NERACA Jakarta – Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) Kementerian Perdagangan melakukan pemusnahan barang hasil temuan impor tidak…

Kenaikan Harga Ayam Dikhawatirkan Hanya Bersifat Sementara

NERACA Jakarta – Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia mengkhawatirkan kenaikan harga ayam saat ini hanya bersifat sementara sehingga tidak…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Barata Indonesia Targetkan Ekspor Naik 100 Persen

NERACA Jakarta – PT Barata Indonesia (Persero) menargetkan peningkatan ekspor hingga 100 persen pada 2019 dari nilai 2018 sebesar Rp280…

Perang Dagang - China Kecualikan Beberapa Barang Amerika dari Tarif Pembalasan

NERACA Jakarta –China mengumumkan  batch pertama pembebasan tarif untuk 16 jenis produk AS, beberapa hari sebelum pertemuan yang direncanakan antara…

Mendag: Konklusi Perundingan RCEP Harus Tercapai November

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyampaikan bahwa konklusi perundingan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional atau Regional Comprehensive Economic Patnership…