Agar Industri Plastik Sekali Pakai Beralih Produksi Daur Ulang - Dunia Usaha

NERACA

Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Susi Pudjiastuti mengimbau kepada perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk menghentikan produksi plastik sekali pakai, lalu beralih dengan memproduksi barang-barang yang dapat didaur ulang.

"Saya mengimbau perusahaan-perusahaan yang masih memasok plastik sekali pakai untuk segera mengalihkan produksi ke bahan-bahan lain, seperti plastik yang durable, jual tumbler atau jual tas kanepo. Jangan jual tas keresek lagi," kata Susi Pudjiastuti saat menghadiri kegiatan bersih sampah laut di Pantai Timur, Ancol, Jakarta, disalin dari Antara.

Dia menyarankan agar perilaku bisnis perusahaan diubah dengan pengalihan produksi tersebut, hal ini untuk mendorong terciptanya kondisi lingkungan yang asri dan bersih. "Kalau kita boikot tidak mau pakai keresek, pabrik keresek akan berhenti. Jadi tinggal maunya siapa duluan, pabrik yang produksi keresek atau kita," tegasnya. "Kita bikin sampah, kita yang rugi karena harus bayar. Lebih baik beli kantong dari kain, rotan, pandan gaya bisa terlihat lebih antik, unik, etnis, dan etnik," tambahnya.

Saat ini sampah plastik sekali pakai menjadi salah satu persoalan terbesar di lautan Indonesia dengan predikat negara kedua penyumbang sampah terbesar di dunia, setelah China. Situasi ini mengancam lebih dari 800 spesies biota laut, termasuk terumbu karang.

Lebih lanjut Susi menjelaskan bahwa Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 95.181 kilometer dan merupakan garis pantai terpanjang kedua di dunia, dengan luas perairan laut mencapai 5,8 juta kilometer persegi atau 71 persen dari keseluruhan wilayah Indonesia.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau sebanyak 17.504, laut adalah penopang hidup bangsa Indonesia. "Kita tidak mau 2030 nanti lebih banyak plastik dari pada ikan di laut. Kita butuh ikan yang lebih banyak untuk makanan orang-orang kita, untuk lebih pintar, lebih sehat, dan laut harus sehat untuk dapat menghasilkan ikan lebih banyak," ujarnya.

Sebelumnya, secara tegas menolak penggunaan botol plastik air mineral saat ia menghadiri acara Ignite The Nation yang berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, disalin dari Antara. "Ini botol plastik aku kurang suka. Hindari pemakaian plastik sekali pakai," kata Susi.

Para penonton acara tersebut langsung bertepuk tangan dan bersorak-sorai menyambut pernyataan Susi. Panitia penyelenggara pun segera mengganti botol plastik tersebut dengan kemasan air minum ramah lingkungan.

Susi menghadiri acara tersebut bersama dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf, dan Kepala Badan Koordinasi Penanam Modal (BKPM) Thomas Lembong.

Acara Ignite The Nation mempertemukan para pengusaha perusahaan perintis (start up), dan diikuti oleh 8.000 peserta. Saat mendapat kesempatan menyampaikan materi, Susi mengingatkan bahwa komoditas terbesar yang diekspor Indonesia keluar negeri, setelah minyak dan gas bumi, adalah hasil laut. Ia memberi contoh kepiting rajungan dari Jawa Timur yang dapat bernilai Rp5 triliun setahun.

Susi juga mendukung terciptanya aplikasi yang dapat membuat semua kegiatan penangkapan ikan di Indonesia menjadi transparan. Dengan adanya aplikasi tersebut, semua proses, termasuk perizinan, dapat dipantau masyarakat secara dalam jaringan (daring).

Ia juga menuturkan harapannya agar kementerian yang dipimpinnya dapat merekrut tenaga-tenaga terbaik dari berbagai institusi pendidikan, karena menurut penilaian yang ada sekitar 30 pegawai di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) masih belum memenuhi standar intelektual yang diharapkan. "Bagaimana mau diajak kerja kalau seperti itu ? Kita mau cari kapal ini bergerak ke mana ?" guraunya.

Menteri yang kerap berpenampilan nyentrik ini menceritakan bahwa sebagian pengusaha perikanan di dalam negeri juga kerap melakukan kecurangan saat mengurus perizinan. Ia memberi contoh bahwa sering terjadi seseorang yang memiliki sepuluh kapal, hanya mendaftarkan dua kapal.

Terkait tren teknologi digital, Susi mengimbau agar para pelaku usaha masa kini juga memperhatikan sektor riil. Salah satunya bisa dilakukan dengan membentuk koperasi atau semacam crowd funding, yang dananya dapat digunakan untuk membeli hasil nelayan saat jumlah ikan sedang melimpah. Dengan demikian banyak pihak yang dapat diuntungkan, nelayan untung karena harga ikan tidak jatuh.

BERITA TERKAIT

Tingkatkan Daya Saing, KKP Dorong Digitalisasi UMKM Kelautan dan Perikanan

NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kelautan dan perikanan untuk memanfaatkan…

API Sarankan Pemerintah Tambah Sekolah Industri Tekstil

NERACA Jakarta – Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyarankan agar pemerintah menambah jumlah sekolah dan lembaga pendidikan untuk mencetak sumber daya…

Energi - Jaga Efisiensi Sektor Migas, Maksimalkan Industri Dalam Negeri

NERACA Jakarta – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama PT Pertamina Hulu…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Tingkatkan Daya Saing, KKP Dorong Digitalisasi UMKM Kelautan dan Perikanan

NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kelautan dan perikanan untuk memanfaatkan…

API Sarankan Pemerintah Tambah Sekolah Industri Tekstil

NERACA Jakarta – Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyarankan agar pemerintah menambah jumlah sekolah dan lembaga pendidikan untuk mencetak sumber daya…

Energi - Jaga Efisiensi Sektor Migas, Maksimalkan Industri Dalam Negeri

NERACA Jakarta – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama PT Pertamina Hulu…