Rasa Nasionalisme

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi

Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo

Peringatan 74 tahun kemerdekaan menyisakan tantangan untuk memacu produk lokal di era persaingan yang semakin ketat. Dari sekian banyak produk lokal, salah satunya yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan adalah batik. Hebatnya lagi, semua daerah cenderung memiliki karakteristik batik yang unik sehingga menjadi nilai jual prospektif bagi daerah. Yang justru menjadi persoalan bahwa batik made in Indonesia menghadapi persaingan sangat ketat dan salah satunya yaitu batik made in Cina. Memang dalam kompetisi era global, maka semua produk dapat leluasa masuk di berbagai pasar dunia, termasuk di Indonesia. Oleh karena itu pada kondisi ini maka salah satu aspek mendasar yang tidak bisa diabaikan adalah jaminan kualitas dan harga yang murah. Terkait hal ini kampanye Aku Cinta Indonesia (ACI) harus terus ditingkatkan.

Batik made in China dan berbagai produk buat negeri Panda lainnya yang masuk di Indonesia khususnya dan di pasar dunia pada umumnya memang cenderung memiliki kualitas yang baik dan harga relatif murah sehingga penetrasi batik dan produk buatan China lainnya di pasar dunia sangat sukses menembus pasar. Oleh karena itu, banyak pihak yang merasa gerah dari kasus ini dan khawatir batik lokal akan kalah bersaing dengan batik made in China. Yang menjadi persoalan sebenarnya terfokus pada bagaimana memahami kondisi pasar global. Artinya, memang diakui produk made in China memiliki nilai keunggulan kompetitif dalam bentuk harga yang relatif lebih murah dengan sisi kualitas yang relatif baik.

Akibatnya, produk-produk made in Cina sukses membanjiri pasar dunia, termasuk di Indonesia. Padahal, penetrasi dari produk-produk made in Cinta mayoritas adalah home industry dan sama kasusnya seperti yang banyak dilakukan di Indonesia. Belajar dari produk made in Cina maka ke depan perlu untuk memetakan sinergi semua produk lokal agar bisa bersaing di pasar global, terutama hal ini memadukan komitmen era otda, industri kreatif dan semangat cinta produk lokal.

Harapan atas sinergi antara kerajinan batik, industri kreatif dan kampanye ACI 100% memang sangat logis karena Solo masih dianggap sebagai sentra batik nasional, selain Pekalongan. Terkait ini maka pemberdayaan pengrajin batik disejumlah sentra industri batik akan memberikan manfaat ganda yaitu selain produk batik itu sendiri kian dikenal, juga optimalisasi nilai tambah dari industri batik bisa bertambah dan daya serap industri batik yang cenderung padat karya bisa lebih meningkat. Untuk mendukung sinergi ini maka paten terhadap motif batik harus dilakukan, terutama untuk meminimalisasi kasus pembajakan. Selain itu, kalangan perbankan dan pemerintah pada umumnya harus tetap konsisten dengan kampanye ACI 100% terutama dalam kaitan aspek permodalan dan pemasaran.

Artinya, tantangan pasca 74 tahun pasca kemerdekaan untuk dapat memacu produk lokal berdaya saing tidaklah mudah dan kasus batik adalah salah satunya. Fakta ini mengindikasikan bahwa era globalisasi butuh komitmen untuk menciptakan produk unggulan dan daya saing sehingga nasionalisme atas produk dalam negeri juga muncul.

Pemberlakuan AFTA dan APEC maka pasar Indonesia tidak bisa lagi ditutupi regulasi karena memang ini adalah konsekuensinya. Jadi, yang terpenting adalah bagaimana para pelaku bisnis, termasuk kalangan home industry bisa memacu keunggulan kompetitif. Oleh karena itu, terkait kasus batik made in Cina yang membanjiri pasar di Indonesia maka tidak ada alasan lain kecuali harus instrospeksi, terutama dikaitkan efisiensi dan daya kompetitif atas semua produk made in China, termasuk batik. Artinya, ini tantangan yang sangat berat di 74 tahun kemerdekaan.

BERITA TERKAIT

Daya Saing Merosot, Kualitas SDM Digenjot

Oleh: Sarwani, Pemerhati Ekonomi Sudah jatuh tertimpa tangga, begitu nasib Indonesia dalam Indeks Daya Saing Global 2019 yang dirilis World…

Memahami Geopolitik dan Geoekonomi Tiongkok

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Agenda kawasan Asia telah disusun di Beijing. Inisiasi Belt and Road (…

Tak Mau Defisit, Iuran BPJS Naik Mencekik

Oleh: Pril Huseno, Pemerhati Ekonomi Sebagai salah satu kebutuhan dasar, kesehatan rakyat merupakan amanat undang-undang yang mewajibkan penyelenggara negara untuk…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Daya Saing Merosot, Kualitas SDM Digenjot

Oleh: Sarwani, Pemerhati Ekonomi Sudah jatuh tertimpa tangga, begitu nasib Indonesia dalam Indeks Daya Saing Global 2019 yang dirilis World…

Memahami Geopolitik dan Geoekonomi Tiongkok

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Agenda kawasan Asia telah disusun di Beijing. Inisiasi Belt and Road (…

Tak Mau Defisit, Iuran BPJS Naik Mencekik

Oleh: Pril Huseno, Pemerhati Ekonomi Sebagai salah satu kebutuhan dasar, kesehatan rakyat merupakan amanat undang-undang yang mewajibkan penyelenggara negara untuk…