Laba Dian Swastatika Capai US$ 33,11 Juta

Neraca

Jakarta - PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSAA) mencatat laba bersih US$ 33,11 juta di tahun buku 2011, naik US$ 9 juta dari periode yang sama tahun lalu US$ 24,26 juta. Laba per saham naik dari US$ 0,031 per lembar menjadi US$ 0,043 per lembar.

Informasi tersebut disampaikan dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (2/4). Disebutkan, naiknya laba ditopang oleh naiknya pendapatan usaha utamanya dari pertambangan batubara 2011.

Total pendapatan usaha DSSA US$ 591,24 juta, naik 62,36% dari periode sebelumnya US$ 364,13 juta. Pendapatan dari pertambangan dan perdagangan batubara tercatat US$ 329,44 juta, naik tinggi dari periode sebelumnya US$ 102,05 juta.

Sementara hasil usaha dari perdagangan pupuk, bahan kimia, pestisida masing-masing US$ 135,22 juta, US$ 43,007 juta, dan US$ 6,21 juta. Pendapatan penyediaan tenaga listrik dan uap US$ 45,18 juta, sewa BTS dan alat berat US$ 31,9 juta.

Dengan beban penjualan US$ 462,025 juta, laba kotor perseroan mencapai US$ 129,21 juta. Laba kotor naik dari periode sebelumnya US$ 69,94 juta. Laba sebelum pajak naik US$ 2,8 juta dari US$ 14,86 juta menjadi US$ 42,99 juta. Usai terpangkas pajak US$ 9,88 juta, total laba bersih tahun berjalan US$ 33,109 juta, naik dari periode sebelumnya US$ 24,26 juta.

Total aset per 31 Desember 2011 tercatat US$ 1,28 miliar, naik tinggi dari sebelumnya US$ 665,114 juta. Kewajiban juga naik tipis dari US$ 329,37 juta menjadi US$ 372,61 juta. Sebelumnya, perseroan menargetkan laba bersih perusahaan di 2012 meningkat menjadi US$ 60 juta. "Tahun depan kita targetkan laba bersih naik 50 persen. Sementara target akhir tahun ini laba bersih US$ 40 juta,”kata sekretaris perusahaan Dian Swastatika Hermawan Tarjono.

Selain itu, perusahaan juga menyatakan jika target pendapatan hingga akhir tahun ini sebesar US$ 500 juta. Hingga kuartal III-2011, tercatat pendapatan perusahaan sudah mencapai USD414,6 juta. Sementara itu, untuk laba bersih dengan periode yang sama tercatat USD34,3 juta.

Dia menjelaskan pula, kenaikan laba tersebut terutama diperoleh dari peningkatan kapasitas produksi batu bara untuk tahun depan menjadi 10 juta ton. "Tahun ini, produksi batu bara mencapai lima sampai enam juta ton," tandasnya.

Bangun Proyek PLTU

Sebagai informasi, perseroan melalui anak usahanya PT DSSP Power Sumsel (DSSP) telah memulai pembangunan proyek PLTU IPP Sumsel-5 berkapasitas 2x150mw. Pembangunan PLTU menghabiskan dana US$ 300 juta.

Dia menjelaskan, untuk pengerjaan proyek tersebut berasal dari pinjaman. Bidikan utang yang akan membiayai proyek PLTU Sumsel-5 tidak terbatas pada perbankan China. Perseroan masih membuka peluang bagi bank dalam negeri.“Pendanaan masih dicari. Bisa dari China atau yang lain. Kita cari yang mana yang lebih murah saja. Pinjaman akan mencapai 70%-80% dari kontrak, sisanya dari internal,” tambah Hermawan.

DSSA pada 11 Februari lalu telah menyepakati perjanjian dengan kontraktor. China National Electric Engineering Co., Ltd akan menggarap equipment supply, sedangkan Harbin Power System Engineering & Research Institute Co., Ltd mengerjakan design engineering and construvction.“Penandatanganan kedua kontrak ini sebagai tindak lanjut penunjukan DSSP oleh PLN,” katanya.

Pembangunan pembangkit ini akan berlangsung selama tiga tahun. Jadwal operasi PLTU IPP Sumsel-5 mulai di 2015. Perseroan hingga kini masih fokus pada pengerjaan satu PLTU saja. Sampai saat ini satu dulu dan pembangunan berlangsung selama tiga tahun. DSSA memang pada 3 November 2011 telah menandatangani kontrak Power Purchase Agreement (PPA) proyek IPP dengan PLN. (bani)

Related posts