Menghadapi Ketidakpastian

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Ekonomi dan Industri

Membicarakan soal ekonomi tidak ada habisnya. Mata dan telinga selalu melihat dan mendengar tentang kabar baik dan juga kabar buruk hingga yang hoax tentang fenomena dan dinamika ekonomi, baik yang terjadi di dalam negeri maupun di luar negeri. Salah satu kalimat yang sangat mengganggu adalah ketidakpastian.

Kemudian kita mencoba mereka-reka menurut nalar bahwa sepertinya kita dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa ternyata kehidupan suatu negara bangsa tidak pernah sederhana yang kita bayangkan. Sehingga jika ada pemimpin dunia manapun berani mengambil sikap pragmatis, kita acapkali dibuat kaget oleh keputusan yang diambilnya.

Contoh kalau bisa kita sebut adalah perang dagang antara AS dan China. Letak sikap pragmatisnya dimana? Yaitu ketika neraca perdagangan AS minus dengan negara manapun yang berkelanjutan, maka diancam dengan perang dagang.

Menghadapi fenomena ketidakpastian, kita tidak bisa menyerah begitu saja. Jika ketidakpastian itu kita terima sebagai sebuah kenyataan, maka peristiwa-peristiwa yang sama sekali tidak dapat diduga pada masa kini, berpotensi untuk muncul pada waktu yang manapun, di dalam kehidupan yang manapun, dan dalam kondisi apapun.

Berarti, kita harus siap untuk itu, karena gejolak-gejolak dan kejutan-kejutan yang tak dapat diduga kejadiannya itu membuktikan bahwa ketidakpastian harus diperhitungkan sungguh-sungguh.

Siapa mengira AS dan China terjebak perang dagang. Siapa sangka bahwa ekonomi dunia terancam resesi saat ini, padahal kita berusaha melupakan depresi ekonomi 1930,resesi tahun 1998 dan krisis utang tahun 2008.

Sementara itu sebelumnya kita prediksi bahwa kedua adidaya ekonomi dunia ini diharapkan akan mampu menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi global yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang yang pasarnya sedang tumbuh.

Yang terjadi malah sebaliknya yakni melambatkan pertumbuhan ekonomi global karena mereka bertikai melalui perang dagang dan sudah ada perkiraan akan bisa mengarah terjadinya currency war. Inilah sebuah realitas yang ada, dan kata orang bijak berkata terimalah itu sebagai kenyataan bahwa kehidupan sebuah negara bangsa tidak pernah sederhana yang kita bayangkan menjadi benar adanya.

Dalam kondisi semacam itu, maka menjadi sangat konstitusional jika di saat fenomena ketidakpastian dan dinamika ekonomi global tumbuh terus melambat, Indonesia sebagai nation state mengambil sikap realistis, yakni mengamankan dan menyelamatkan ekonomi dalam negeri dari pengaruh kondisi eksternal.

Dalam pidato pengantar nota keuangan tahun 2020 dihadapkan DPR dan DPD, ketika menjelaskan RAPBN 2020 pemerintah selalu hanya berfokus pada persoalan Pendapatan dan Belanja. Padahal dalam UU Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara ada juga nomenklatur lain yang disebut dengan istilah Pembiayaan. Penulis mencoba memahaminya secara lengkap seperti itu, sehingga semestinya RAPBN harus mengakomodasinya secara eksplisit.

BERITA TERKAIT

Resesi, Bailout, dan Akuisisi Aset Murah

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Penulis mencoba bernalar dengan cara mudah untuk memahami konstruksi dari tiga suku…

Nasib BPJS

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Rentang lima tahun usia BPJS sejak pengalihan dari PT…

Bank Wakaf Mikro, Apa Kabar ?

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Menjelang akhir 2018, pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan program Bank Wakaf…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Resesi, Bailout, dan Akuisisi Aset Murah

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Penulis mencoba bernalar dengan cara mudah untuk memahami konstruksi dari tiga suku…

Nasib BPJS

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Rentang lima tahun usia BPJS sejak pengalihan dari PT…

Bank Wakaf Mikro, Apa Kabar ?

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Menjelang akhir 2018, pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan program Bank Wakaf…