Menggeliatkan Roda Perekonomian Lewat Pemerataan Sinyal

Di era digital saat ini, semua pelayanan sudah bisa dilakukan melalui smartphone, mulai dari urusan pekerjaan kantor, bayar cicilan dengan mobile banking hingga urusan menunjang eksistensi di media sosial. Maka tidak heran, begitu lekatnya smartphone dalam kehidupan manusia mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi menjadi alasan bagi seseorang yang sudah bergantung pada gadget lebih memilih ketinggalan dompet ketimbang smartphone atau gadget. Apalagi pengguna smartphone Indonesia juga bertumbuh dengan pesat tiap tahunnya dan bahkan berada di urutan ke empat pengguna aktif smartphone terbesar di dunia setelah Cina, India, dan Amerika.

Pertumbuhan penggunaan smartphone di Indonesia juga seiring dengan pertumbuhan pengguna intenet. Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2018 menyebutkan dari 264,16 juta orang Indonesia, sebanyak 171,17 juta jiwa atau 64,8% sebagai pengguna internet. Jumlah ini meningkat dibandingkan 2017 dari 262 juta orang penduduk Indonesia, pengguna internet sebanyak 143,26 juta jiwa atau 54,68%.

Besarnya pertumbuhan pengguna internet juga seirama dengan pertumbuhan pengguna media sosial. Berdasarkan laporan Digital Around The World 2019, hasil riset We Are Social yang dilakukan perusahaan media sosial asal Inggris, bersama dengan Hootsuite, terungkap dari total 268,2 juta penduduk Indonesia, 150 juta di antaranya telah menggunakan media social (medsos). Dari jumlah tersebut 130 juta pengguna media sosial aktif.

Hasil riet yang dilakukan Januari 2018 - Januari 2019 menunjukkan terjadi peningkatan 20 juta pengguna medsos di Indonesia. Generasi milenial yang umum disebut generasi Y serta generasi Z mendominasi penggunaan medsos. Hasil riset tersebut juga mengungkapkan pengguna medsos di Indonesia paling banyak berada pada rentang usia 18-34 tahun. Pada rentang usia 18-24 tahun pengguna pria lebih mendominasi, mencapai 18 persen, lebih unggul dari pengguna wanita yang 15%. Pada rentang usia 25-34 tahun, pengguna pria 19%, lebih besar dibanding pengguna wanita 14 persen.

Rata-rata pengguna medsos dengan segala tujuannya di Indonesia menghabiskan waktu 3 jam 26 menit per hari. Angka ini mengalami peningkatan tiga menit dari tahun lalu. Sebanyak 37% pengguna internet memanfaatkan medsos untuk bekerja. Di tingkat global, penetrasi penggunaan medsos untuk bisnis individual mencapai 24%. Rata-rata, satu pengguna internet di Indonesia memiliki setidaknya 11 akun berbagai medsos. Maka tidak heran, kini internet telah menjadi bagian kebutuhan pokok manusia dalam menunjang aktivitas sehari-hari. Tak ayal, sehari tanpa internet akan mati kutu dan dunia terasa gelap.

Hal inilah yang dirasakan Widi (38) salah wartawan media nasional di Jakarta, betapa sulitnya mendapatkan jaringan intenet tak kala penugasan liputan di daerah Lebak Banten. “Kalau sudah tidak ada jaringan internet, semua pekerjaan terlantar dan termasuk mau browsing hingga kirim berita via email,”keluhnya. Meskipun di Lebak sudah banyak penetrasi BTS operator telekomunikasi yang masuk, namun tidak semua daerah bisa dirasakan internet kencang seperti di kota-kota besar.

Diakuinya, profesinya sebagai jurnalis sangat berkaitan erat dengan internet untuk menunjang tugasnya di lapangan. Bila di daerah Lebak, Banten yang berdekatan dengan Ibu kota Jakarta saja masih susah mendapatkan jaringan internet yang kencang, apakabarnya mereka yang tinggal di daerah perbatasan dan pulau terluar. Mungkin bisa dipastikan akan lebih tertinggal.

Yusuf (30), tenaga medis yang ditugaskan di Agats, ibukota kabupaten Asmat, Papua mengaku masih beruntung bisa menikmati jaringan internet bila dibandingkan dengan ibukota kabupaten di pegunungan, seperti di Tiom, ibukota Lanny Jaya atau Enarotali, ibukota Pania. Dimana keduanya ada dipegunungan tengah Papua dan aksesnya lumayan sulit.”Kedua kota itu, akses internet selular nyaris mustahil. Hanya ada satu operator selular, yaitu Telkomsel. Sinyalnya pun hanya sampai batas Edge. Sulit untuk menghubungkan kita ke dunia luar dengan jalur internet. Jangankan membuka media sosial, membuka dan mengirim pesan via WhatsApp saja susahnya minta ampun. Dikirim pagi, bisa-bisa baru sampai malam hari. Atau kadang malah tidak terkirim sama sekali,”ungkapnya.

Disampaikannya, bagusnya jaringan selular di Agats tentunya jangan dibandingkan kecepatan 4G sama dengan 4G di kota-kota besar, seperti di Jawa.”Tulisannya memang 4G, tapi kecepatannya sama saja dengan 2G. Untuk mengunduh gambar di WhatsApp saja sulitnya minta ampun, apalagi membuka atau mengirim video,”tandasnya.

Memberdayakan Perekonomian

Menyadari luasanya wilayah dan besarnya kekayaan alam Indonesia, tentunya menjadi sangat tidak maksimal dalam memberdayakan ekonomi rakyatnya bila jaringan internet belum semuanya terjamah. Padalah, kehadiran infrastruktur telekomunikasi memang terbukti sangat membantu menaikkan perekonomian suatu wilayah. Salah satunya di daerah Miangas, kecamatan Nanusa, Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara yang telah terbebas dari 'isolasi'.

Camat Miangas, Steven Hauer Edwin Maarsit mengatakan bahwa wilayahnya sempat terisolir karena sulitnya akses informasi. Padahal wilayah ini berbatasan langsung dengan Filipina. Namun pada 2010, jaringan seluler anak usaha Telkom, Telkomsel, mulai masuk dan membuka akses telekomunikasi dan informasi."Sampai sekarang, hanya Telkomsel yang ada di Miangas. Mereka membuka keterisolasian. Adanya jaringan telekomunikasi dari Telkomsel dinilai memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat di Miangas," ujar Steven.

Minimnya eksistensi operator telekomunikasi ini dirasa sangat miris. Padahal operator telekomunikasi yang mengantungi izin penyelenggaraan full-service provider secara nasional jumlahnya terbilang banyak. Tentunya dengan hadirnnya jaringan internet dari beberapa operator telekomunikasi, bisa membawa harapan perubahan bagi kemajuan perekonomian masyarakat di daerah terpencil, seperti di Miangas yang berada di ujung Utara Indonesia dan daerah lainnya di Indonesia.

Saat ini masyarakat di Miangas yang mayoritas nelayan sangat tergantung terhadap layanan telekomunikasi selular. Bahkan telekomunikasi selular dijadikan alat bantu untuk mencari nafkah. Tak hanya layanan telekomunikasi saja yang saat ini dibutuhkan masyarakat Miangas tetapi hadirnya layanan internet. Sementara Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara mengakui, 74 tahun Indonesia merdeka belum sepenuhnya merdeka dalam hal menggunakan akses internet.

Dirinya pun berjanji, Indonesia akan merdeka sinyal untuk internet kecepatan tinggi pada pertengahan tahun ini. Pasalnya, ada 514 pemerintahan kota maupun kabupaten di seluruh Indonesia akan menikmatinya. Jaringan Palapa Ring, menurut Rudiantara juga akan menghubungkan sekitar 214.000 sekolah, baik di SD SMP maupun SMA/SMK, bahkan termasuk Islamic Boarding School (Pesantren atau Madrasah) serta beberapa sektor lainnya.”Kita harus hubungkan semua, bagaimana menghubungkan sekolah di pojok sana atau daerah terpencil, kita pasang internet menggunakan satelit. Jadi kita harus punya satelit sendiri untuk menghungkan semua sekolah, puskesmas, kantor desa, koramil, polsek dan lain sebagainya,” ucapnya.

Namun demikian, kata Rudiantara, tidak semua bisa dihubungkan dengan Palapa Ring, karena kendala geografis seperti di Papua, terutama di kawasan pegunungan. Indonesia akan memiliki satelit sendiri pada tahun 2020. Dengan satelit itu, daerah yang sulit dibangun BTS bisa terlayani akses internet. Sementara Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi Kementerian Kominfo, menargetkan sebanyak 5.300 desa yang tersebar di seluruh Indonesia akan mendapatkan akses internet 4G di akhir 2020. Pada tahun tersebut, wilayah-wilayah yang termasuk dalam 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) akan mendapatkan akses layanan internet setara dengan di Pulau Jawa. Penetrasi internet yang merata ini sangat penting untuk mengembangkan ekonomi digital yang sedang digalakkan pemerintah.

Kata Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Jamalul Izza menyambut baik terobosan yang dilakukan Menkominfo dengan percepatan akses internet atau istilahnya merdeka sinyal di seluruh Indonesia. Hal ini, menurutnya, sangat beralasan kenapa Indonesia internetnya harus lebih kencang. Karena populasi banyak dan jumlah pengguna internet semakin banyak sekarang. “Makanya sekarang kita punya program bagaimana suatu saat itu internasional yang belanja konten ke Indonesia. Kalau selama ini kita belanja konten ke Internasional nanti paling tidak kita mencoba ke depannya bahwa internasional yang belanja konten ke Indonesia,”jelasnya.

Sementara Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti), Anang Latif, dengan tercovernya sinyal di seluruh Indonesia akan terbuka konektivitas dan membawa dampak perubahan dan harapan yang lebih baik, seperti ada perekonomian digital yang terus berkembang, tele-education, tele-health, dan lainnya, sehingga mampu mendorong perekonomian di desa-desa.”Inilah komitmen pemerintah. Sehingga, ke depan bukan lagi 2G tapi langsung 4G yang terkoneksi langsung dengan internet. Sehingga sampai di pedesaan di manapun bisa menjual hasil usaha dan pertaniannya melalui online,”jelasnya.

Terlebih, pesatnya pertumbuhan industri e-commerce saat ini, memacu pemerintah untuk menempatkan Indonesia sebagai negara digital economy terbesar di Asia Tenggara pada 2020.Maka untuk mewujudkan ambisi tersebut, pemerataan akses internet menjadi kebutuhan mendasar yang harus dilakukan. Apalah artinya bicara industri e-commerce dan teknologi finansial yang saat ini tengah booming, jika sebagian masyarakat Indonesia belum merdeka sinyal internet.

BERITA TERKAIT

Mandiri Group Kampanye Pasar Modal Syariah

Dukung pengembangan industri pasar modal syariah, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk bersama Kementerian Koordinator bidang Perekonomian mengkampanyekan pasar modal syariah.…

Biaya Eksplorasi Capitalinc Capai Rp 46 Miliar

Perusahaan pembiayaan dan investasi, PT Capitalinc Investment Tbk (MTFN) menggelontorkan dana sebesar Rp46.134.090.000 untuk kegiatan eksplorasi per Agustus 2019. Dimana…

Lagi, Matahari Departement Buka Gerai Baru

Genjot pertumbuhan penjualan, PT Matahari Department Store Tbk (LPFF) terus menambah gerai baru dan teranyar, emiten ritel modern ini membuka…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Kepercayaan Investor Terhadap Saham BBTN Menguat

Saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) kembali menguat pada penutupan perdagangan sesi I, Kamis (12/9) sebesar 1,38% ke level 2.210.…

Kondisi Pasar Global Belum Baik - PTBA Hentikan Eksplorasi Hingga Maret 2020

NERACA Jakarta – Keputusan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) untuk tidak melakukan eksplorasi tambang di luar area yang telah memperoleh…

Berkah Rights Issue - Lippo Karawaci Bakal Catatkan Kinerja Positif

NERACA Jakarta –Emiten properti, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) diperkirakan bakal mencatatkan kinerja positif menjelang akhir kuartal III/2019. Berdasarkan perkiraan,…