Pefindo Ikut Pangkas Rating APLN Jadi BBB

NERACA

Jakarta – Setelah Moody's Investors Service menurunkan peringkat PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) menjadi B2 dari sebelumnya B1, kini giliran PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) ikut menurunkan peringkat APLN) menjadi BBB dengan outlook credit wacth dengan implikasi negatif. Penurunan ini disebakan karena kondisi likuiditas perusahaan yang terbatas untuk melakukan pembiayaan kembali (refinancing) utang yang akan jatuh tempo 12 bulan ke depan.

Kata analis Pefindo, Yogie Perdana, faktor lainnya yang menurunkan outlook perusahaan menjadi credit watch sebab salah satu bank yang tergabung dalam sindikasi pinjaman memilih untuk menarik diri (pull out).”Apabila menggunakan fasilitas perbankan, fasilitasnya sama siapa, sampai mana, apa sudah commited, availability periode-nya sampai kapan. Karena kan bisa saja mereka suda in place fasilitas kreditnya tapi tiba-tiba salah satu bank yang sudah commited itu pull out dan itu yang terjadi pada Agung Podomoro,"ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, kekhawatiran kondisi keuangan perusahaan ini karena dalam waktu 12-18 bulan ke depan perusahaan masih harus membayarkan sejumlah obligasi senilai Rp 2,6 triliun. Disampaikannya, Agung Podomoro sebenarnya memiliki fasilitas pinjaman sindikasi dari enam bank, dimana ada dua bank asing senilai Rp 1,3 triliun yang memiliki jangka waktu hingga Juni 2020.

Lalu perseroan juga tengah dalam pembicaraan dengan calon kreditor, yakni tiga bank. "Fasilitas kredit kedua ini diharapkan akan men-trigger percepatan pelunasan atas fasilitas kredit sindikasi yang pertama yang original due date-nya Juni 2020 menjadi Juni 2019," kata dia.

Dari sindikasi 3 bank tersebut, Agung Podomoro sudah menarik fasilitas pinjaman pertama. Namun ditengah jalan salah satu bank memutuskan untuk mundur sehingga membuat perusahaan tak lagi memiliki dana untuk melakukan pelunasan sindikasi dari enam bank sebelumnya. Perusahaan memutuskan untuk memperpanjang pinjaman tersebut hingga September 2019. "Kami melihat ada potensi gagal bayar terhadap sindikasi yang jatuh tempo pada September 2019 ini," tambah Yogie.

Untuk itu, hingga satu atau dua bulan ke depan jika kondisi keuangan perusahaan tak juga membaik dan perusahaan masih belum dapat mengatasi masalah refinancing perusahaan maka Pefindo akan menurunkan kembali peringkat perusahaan lebih dari satu tingkat, alias jadi sampah (junk).

BERITA TERKAIT

Jaga Kondisi Pasar - OJK Hentikan Reksadana Investor Tunggal

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghentikan sementara penerbitan produk baru reksa dana investor tunggal seiring cukup banyaknya jumlah…

Sikapi Kasus Pemalsuan Deposito - BTN Yakinkan Nasabah Kondisi Kinerja Masih Solid

NERACA Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menyatakan perseroan dalam kondisi kinerja yang solid dengan performa perusahaan…

ADHI Catatkan Kontrak Baru Rp 6,8 Triliun

NERACA Jakarta – Sampai dengan Agustus 2019, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mencatatkan perolehan kontrak baru senilai Rp6,8 triliun.…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Presiden Bakal Membuka Munas HIPMI Ke-XVI

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) dijadwalkan akan membuka musyawarah nasional (Munas) Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda (BPP HIPMI)…

CEO Asia Aero Technology - Mengusung Hipmi 4.0 Agar Lebih Familiar

Jiwa muda dengan sederet perstasi adalah harapan pimpinan di masa mendatang, hal inilah yang menggambarkan Bagas Adhadirgha seorang Founder sekaligus CEO…

Jaga Kondisi Pasar - OJK Hentikan Reksadana Investor Tunggal

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghentikan sementara penerbitan produk baru reksa dana investor tunggal seiring cukup banyaknya jumlah…